Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Life Style

Bermain Video Game Tidak Selalu Buruk

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Permainan video kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian banyak anak muda, terutama laki-laki. Lebih dari sekadar hiburan, game juga berfungsi sebagai ruang sosial dan bahkan arena kompetitif. Namun, kehadirannya menimbulkan perdebatan panjang: orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan kerap mengkhawatirkan dampak negatif seperti kecanduan, kekerasan, hingga penarikan diri dari pergaulan.

Penelitian terbaru, termasuk dari Universitas Oxford, menunjukkan bahwa dampak video game tidak sesederhana “baik” atau “buruk.” Hasil penelitian justru bervariasi tergantung bagaimana, mengapa, dan seberapa lama game dimainkan.

Salah satu temuan penting adalah kaitan dengan perkembangan kognitif. Banyak game menuntut konsentrasi, pengambilan keputusan cepat, pengenalan pola, dan strategi. Studi menunjukkan adanya peningkatan koordinasi mata-tangan dan pemrosesan visual pada pemain reguler. Bahkan sesi singkat bermain game dapat meningkatkan keterampilan tertentu.

Interaksi sosial juga menjadi sorotan. Game daring sering melibatkan kerja tim dan komunikasi. Bagi sebagian anak yang kesulitan bersosialisasi di sekolah, game menjadi sarana membangun pertemanan. Meski tidak menggantikan interaksi tatap muka, komunitas game menambah lapisan baru dalam perkembangan sosial.

Dampak pada kesehatan mental lebih kompleks. Bermain berlebihan bisa berkorelasi dengan kecemasan atau depresi, tetapi hal ini biasanya terjadi ketika game menggantikan aktivitas penting lain seperti tidur, sekolah, atau olahraga. Dengan kata lain, pola penggunaan lebih menentukan daripada gamenya.

Analisis New York Times terhadap data nasional di Amerika Serikat menunjukkan bahwa bermain game memberi rasa puas dalam waktu luang, namun juga bisa berbenturan dengan pendidikan dan pekerjaan. Bagi sebagian anak, game menjadi pelarian dari stres, yang bisa adaptif dalam jangka pendek tetapi berisiko jika menjadi bentuk penghindaran tanggung jawab.

Pelajaran utama bagi orang tua adalah pentingnya konteks. Anak yang bermain satu jam sehari dengan tetap menjaga keseimbangan sekolah, tidur, dan aktivitas lain akan berbeda dampaknya dengan anak yang bermain berjam-jam secara kompulsif. Selain itu, jenis game juga berpengaruh: puzzle dan strategi memberi stimulasi kognitif berbeda dibandingkan game aksi cepat.

Kesimpulannya, video game tidak selalu berbahaya. Jika dipantau dan diseimbangkan dengan aktivitas lain, game bisa menjadi sumber kesenangan, koneksi sosial, dan stimulasi kognitif. Tantangannya adalah memastikan pola penggunaan tetap sehat dan tidak mengorbankan aspek kehidupan lain.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jatim Park Group dan Investor Malaysia Bangun Aquarium Underwater Senilai Rp120 Miliar

24 September 2026 - 20:11 WIB

Adegan Berani Nana di “The Scandal” Picu Perdebatan Netizen

22 September 2026 - 19:55 WIB

Solar MAMAMOO Jadi Korban Teror Kursi Terbang di Los Angeles

20 September 2026 - 18:10 WIB

Baifern Pimchanok Siap Menghibur di Film Action-Romance Terbaru ‘My Dearest Assassin’

15 September 2026 - 18:07 WIB

Miss Indonesia Audrey Bianca Raih Prestasi di Panggung Dunia

8 September 2026 - 18:59 WIB

Inilah Putri Bungsu, Tercantik dan Pintar Sultan Brunei

2 September 2026 - 19:18 WIB

Mi Goreng, Paling Disuka Konsumen Indonesia

30 Agustus 2026 - 19:19 WIB

KPJ Perdana Kelantan Bangun Gedung Baru 13 Lantai, Siap Menyambut Ledakan Pasien

28 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Modal Miliaran Jadi Triliunan, Intip Kesuksesan Bisnis Skincare Zhang Ziyi

26 Agustus 2026 - 19:03 WIB

Trending di Life Style