Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Balita Sukabumi Meninggal karena Tubuhnya Dipenuhi Cacing Gelang Jumlahnya 1 Kg

badge-check


					Ilustrasi penyakit cacing Perbesar

Ilustrasi penyakit cacing

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Seorang balita di Sukabumi meninggal dunia setelah jatuh koma karena seluruh tubuhnya dipenuhi cacing parasit. Kasus yang mengejutkan ini memicu keprihatinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengancam akan memberikan sanksi pada aparat desa yang dinilai abai.

Kasus ini bermula dari postingan lembaga relawan bantuan sosial Rumah Teduh Sahabat Iin di akun Instagram mereka pada akhir pekan lalu.

Dalam postingan itu, diperlihatkan bocah perempuan bernama Raya yang mengalami penyakit cacingan atau askariasis yang parah, sampai-sampai cacing gelang hidup sepanjang 15cm dapat ditarik keluar dari lubang hidungnya.

Postingan yang telah direspons lebih dari 54 ribu orang dan dikomentari lebih dari 8.000 orang itu memperlihatkan upaya tim relawan kemanusiaan dalam menyelamatkan Raya.

Raya dilarikan ke bangsal ICU RSUD di Sukabumi pada 13 Juli dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pihak relawan mengatakan bahwa Raya mengalami penyakit cacingan yang sangat akut.

Bocah kecil itu diduga terjangkit parasit karena sejak bayi sering bermain di bilik kolong rumahnya, yang juga menjadi tempat kandang ayam dan penuh kotoran hewan.

Ayah Raya, Udin, 32, sakit-sakitan, sementara ibunya, Endah, 38, menderita gangguan jiwa. Selama ini, Raya tidak mendapatkan perawatan di rumah sakit karena orang tuanya tidak memiliki biaya.

Selain dari hidungnya, tim kemanusiaan Rumah Teduh Sahabat Iin mengatakan cacing-cacing gelang juga dikeluarkan dari kemaluan dan anus Raya, sebagian besar masih menggeliat. Cacing bahkan telah bersemayam di bagian kepalanya.

“Sudah lebih dari 1 kilo (gram) cacing dikeluarkan dari badannya, tapi tidak juga habis-habis,” ujar relawan dalam video tersebut.

Raya tidak berkartu identitas sehingga otomatis tidak memiliki BPJS untuk membiayai seluruh pengobatannya. Akhirnya tim relawan memiliki waktu 3×24 jam untuk mengurus BPJS agar biaya pengobatan dapat ditanggung pemerintah.

Namun yang terjadi, menurut relawan, mereka dilempar ke sana kemari oleh berbagai dinas berwenang di Kota Sukabumi, hingga akhirnya Raya meninggal dunia pada 22 Juli lalu. Biaya pengobatan selama Raya dirawat sebesar Rp23 juta ditanggung oleh tim relawan.

Sudah ke Posyandu

“Ya kebetulan Raya itu sering ke posyandu, sehingga berat badannya kita kontrol. Memang sejak kecil Raya termasuk BGM itu di bawah garis merah, benar-benar terpantau kalau untuk berat badannya,” ujar Cisri Maryati selaku Bidan Desa Kabandungan saat ditemui, dilansir detikJabar, Rabu (20/8/2025).

Berbagai intervensi telah dilakukan untuk mendukung tumbuh kembang Raya. Pemerintah desa memberikan bantuan gizi tambahan secara rutin, baik dari program reguler maupun dana desa.

“Jadi sehingga bantuan dari desa pun tetap kita prioritaskan untuk Raya, ada seperti susu, telor, ayam, buahan, itu dapat Raya. Terus kemarin itu ada program PMT lokal, untuk Raya itu dapat 60 hari, jadi terpantau setiap harinya, berat badannya juga kita pantau. Udah ada kenaikan berat badannya waktu kemarin dapat PMT lokal,” tutur Cisri.

Raya juga tercatat sebagai penerima obat cacing rutin setiap enam bulan sekali dalam program kesehatan anak. “Sebetulnya obat cacing kalau untuk Raya dan semua anak-anak itu dapat setiap 6 bulan sekali, setiap bulan Februari dan Agustus. Jadi untuk Raya juga terakhir dapat itu bulan Februari itu obat cacing,” jelasnya.

Namun, kendala muncul ketika upaya merujuk Raya ke Puskesmas untuk konsultasi ahli gizi tidak mendapatkan persetujuan dari orang tua. “Sudah berkali-kali untuk konsultasi minimal dengan ahli gizinya. Cuman memang kalau jawaban dari ibunya, nggak bisa. Mang Rizalnya nggak bolehin, katanya begitu,” kata Cisri.

Kasus Raya menjadi perhatian luas setelah video kondisinya saat dirawat di rumah sakit beredar di media sosial. Dalam video itu, terlihat tubuh Raya mengeluarkan cacing dalam jumlah besar. Pihak desa pun segera dikabari oleh relawan.

“Ada, tahu. Karena dari pihak relawannya juga menghubungi kami, jadi kita diberitahukan kondisi Raya seperti ini, dirawat di RS Bunut, kondisinya seperti ini, cacingnya banyak. Waktu itu udah dapat 1 Kg kalau tidak salah,” imbuh Cisri.

Upaya lain juga sebenarnya sudah dilakukan Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, ia menjelaskan bahwa pihaknya telah sejak lama memperhatikan kondisi keluarga Raya. Pemerintah desa, kata dia, bahkan mengalokasikan bantuan secara khusus untuk mendukung gizi anak tersebut.

Kasus Raya memicu kemarahan di dunia maya, terutama bisa disaksikan di kolom komentar postingan video tersebut.

Dari ribuan komentar yang disampaikan, tidak sedikit yang menyalahkan pemerintah setempat yang dinilai tidak tanggap.

“Yang seharusnya disalahkan adalah aparat desa setempat, tidak adakah kader posyandu? Tidak adakah yang memberi arahan untuk mengurus surat kependudukan? Biasanya beberapa bulan sekali ada penyuluhan tentang pentingnya obat cacing dari posyandu,” ujar pengguna Instagram Intan Dewiayu.

“Pajak diperas habis-habisan. Giliran butuh pemerintah, dioper sana-oper sini,” ujar pengguna lainnya, Kiki Nabill.

Sanksi Gubernur

Gubernur Jawa Barat mengaku prihatin dan menyampaikan permohonan maaf atas kasus yang menimpa Raya. Secara khusus, Dedi menyinggung Ketua Tim Penggerak PKK, Kepala Desa, Bidan Desa di Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, tempat Raya dan keluarganya tinggal.

“Saya akan memberikan sanksi bagi desa tersebut karena fungsi-fungsi pokok pergerakan PKK-nya tidak jalan, fungsi posyandu-nya tidak berjalan, dan fungsi kebidanannya tidak berjalan,” kata Dedi melalui Instagram pada Selasa (19/8).

“Sanksi-sanksi akan kami berikan pada siapa pun dan daerah mana pun yang terbukti tidak memberikan perhatian kepada masyarakat.”

Dedi dalam pernyataannya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada tim relawan yang menangani Raya. Dia juga telah mengirim tim untuk merawat keluarga Raya yang diduga menderita penyakit TBC.

“Ini perhatian bagi kita semua seluruh aparat pemerintahan untuk senantiasa dalam setiap hari cross-check terhadap apa yang terjadi dalam lingkungan. Jangan abai, jangan ribut ketika peristiwanya sudah terjadi,” kata Dedi.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dugaan Permintaan Aborsi Seret Runner-up Raka Raki Jatim 2026, Begini Respons Pemkot Surabaya

10 Agustus 2026 - 20:54 WIB

DJP Tegaskan Belum Ada Rencana Pajaki Pemilik Rumah Kontrakan pada 2027

10 Agustus 2026 - 20:40 WIB

BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP

10 Agustus 2026 - 20:24 WIB

300 Ojol Kota Malang Antusias Sambut Pembebasan Tunggakan PKB

9 Agustus 2026 - 19:53 WIB

PPh 22 Ditunda, Tokopedia Refund Dana Pajak Penjual Paling Lambat 30 September

9 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Deposit Judol Saat Piala Dunia Tembus Rp 1,02 Triliun

9 Agustus 2026 - 19:24 WIB

Polda Metro Pastikan 995 dari 996 Senjata Temuan di Jaksel Senapan Angin

7 Agustus 2026 - 20:18 WIB

Karhutla Bromo Hanguskan 120 Hektare, Diduga Ulah Manusia

7 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Kemenkeu Incar Pajak dari Rumah Kontrakan dan Properti Sewa pada 2027

6 Agustus 2026 - 18:39 WIB

Trending di Nasional