Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Terkait Pernyataan Guru Itu Beban Negara, Sri Mulyani: Itu Deepfake

badge-check


					Terkait Pernyataan Guru Itu Beban Negara, Sri Mulyani: Itu Deepfake Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS COM, JAKARTA– Kejahilan teknologi kecerdasan buatan (AI) berupa deepfake kembali mencuat, kali ini menimpa Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ia dikaitkan dengan ucapan kontroversial yang menyebut guru sebagai beban negara. Sri Mulyani dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa video yang beredar adalah hasil manipulasi.

Menurutnya, potongan video yang viral berasal dari pidatonya dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus, namun tidak ditampilkan secara utuh.

“Faktanya, saya tidak pernah menyatakan bahwa guru sebagai beban negara. Video tersebut adalah hasil deepfake dan potongan tidak utuh dari pidato saya,” jelas Sri Mulyani melalui akun Instagram @smindrawati pada Selasa (19/8) malam.

Sebelumnya, beredar video di media sosial yang memperlihatkan seolah-olah Sri Mulyani menyebut guru sebagai beban negara. Video itu memicu reaksi publik yang kemudian mengkritik pernyataannya mengenai gaji guru.

Dalam kesempatan berbeda, Sri Mulyani menegaskan bahwa yang ia sampaikan adalah soal tantangan keuangan negara dalam membiayai gaji tenaga pendidik. “Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar. Ini salah satu tantangan bagi keuangan negara,” tuturnya.

Viral Ucapan Sri Mulyani: Guru Beban Negara, Kesejahteraan Bukan Prioritas?

Deepfake AI adalah teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menciptakan konten visual, audio, atau video palsu yang sangat nyata dan sulit dibedakan dari aslinya.

Teknologi ini biasanya mengandalkan algoritma pembelajaran mendalam, khususnya Generative Adversarial Networks (GANs), yang melibatkan dua model: satu sebagai generator yang membuat konten palsu, dan satu lagi sebagai diskriminator yang menilai keaslian konten tersebut. Proses ini berulang sampai konten palsu sangat mirip dengan konten asli.

Menurut Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) Aziz Fajar SKom MKom menjabarkan bahwa deepfake sebagai salah satu aplikasi dari model AI yang kerap digunakan untuk mengubah piksel pada gambar.

Diambil dari UNAIR NEWS, Dosen program studi sains data itu menyampaikan, aplikasi AI tersebut pun mampu mengubah tampilan wajah. Sehingga banyak disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

“Deepfake dapat digunakan untuk mengubah wajah seseorang. Sehingga dapat dimungkinkan pembuatan video atau gambar hoax. Padahal, orang yang menjadi korban tidak pernah melakukannya,” tuturnya.

Deepfake banyak digunakan untuk hiburan, pendidikan, dan eksperimen teknologi, misalnya filter wajah di media sosial yang mengubah ekspresi atau meniru wajah selebriti. Namun, teknologi ini juga menimbulkan risiko serius, termasuk penyebaran informasi palsu, penipuan, dan ancaman keamanan digital.

Contoh kasus nyata dari bahaya deepfake adalah penyebaran video atau audio yang memalsukan ucapan atau tindakan seseorang untuk tujuan yang merugikan, seperti kejadian Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menjadi korban deepfake terkait pernyataannya soal guru.

Untuk menghadapi risiko tersebut, saat ini telah dikembangkan teknologi dan aplikasi pendeteksi deepfake yang mampu menganalisis ciri-ciri deepfake dan memberikan peringatan dini, meskipun pengembangan alat pendeteksi ini masih terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan teknologi deepfake itu sendiri.

Selain itu, ada juga platform seperti HeyGen yang menyediakan layanan pembuatan deepfake realistis untuk keperluan kreatif dan bisnis, dengan fitur kustomisasi avatar dan suara dalam banyak bahasa.

Intinya, deepfake AI adalah teknologi canggih yang memiliki potensi manfaat besar sekaligus risiko penyalahgunaan yang harus diwaspadai dan diatur secara etis.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Muktamar Lesbumi NU di Tambakberas Jombang: Tengok Akar Tradisi dan Budaya sebagai Panglima

13 Juni 2026 - 14:20 WIB

Kepala BGN Nanik Deyang: Saya Memang Cupu-nya Presiden

13 Juni 2026 - 13:29 WIB

Andri Mulyono Partner Lodewyk Pusung, Mark Up Rp0,5 Triliun Proyek Motor Listrik BGN

13 Juni 2026 - 12:40 WIB

Kejaksaan Agung menahan Andri Mulyono, Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT), terlibat mark up proyek pengadaan motor listrik BGN.

Massa Aksi Mahasiswi UI Bubar Tertib dari Bundaran HI, Lampu Padam Masuk Kelompok Baju Hitam

12 Juni 2026 - 21:59 WIB

Aksi massa mahasiswa U, di Bundaran HI, Jakarta, Jumat 12 Juni 2026

Pelatihan Kripik Pisang dan Tahu Krispi 21 Wanita Warga Plumbon Gambang

12 Juni 2026 - 21:16 WIB

Menelisik Akar Terorisme (16): Black Death Memangsa 50 % Populasi Eropa

12 Juni 2026 - 18:45 WIB

Pemkab Jombang dan BPS Sinergi Sensus Ekonomi 2026: Dilaksanakan 15 Juni – 31 Agustus 2026

12 Juni 2026 - 16:21 WIB

Buoati Jombang, Warsubi memasang tag tanda resmi petugas pelaksana Sensus Ekonomi 2026.

Anas Burhani Ditetapkan sebagai Tanfidz PKB Jombang, Menggeser Hadi Atmaji

12 Juni 2026 - 14:33 WIB

Anas Burhani, dari Sekretaris DPC PKB Jombang, terpilih menjadi Tanfidz PKB Jombang

Mobil Tabrak Belakang Truk Gandeng, 1 Tewas dan 1 Luka Parah

12 Juni 2026 - 14:32 WIB

Trending di News