Penulis: Arief H. Soesatyo | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JOMBANG– Empat doktor dosen dari Malaysia melakukan kunjungan ke desa Plumbon Gambang, kecamatan Gudo, kabupaten Jombang, Kamis, 11 Juni 2026.
Di desa ini, limbah kaca yang dianggap sampah diolah menjadi kerajinan manik-manik bernilai seni tinggi yang telah menembus pasar internasional sejak tahun 1993.
Plumbon Gambang, Gudo, Jombang, desa sentra kerajinan ini dikunjungi oleh tim dari Universitas Airlangga Surabaya dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Tamu dari Universiti Teknologi MARA Malaysia dan Unair di desa Plumbon Gambang, Gudo, Jombang, Kamis, 11 Juni 2026. Foto: kredonews.com/ priyo suwarno
Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari langsung potensi usaha, teknologi dan mengidentifikasi tantangan, serta menjajaki kerja sama jangka panjang untuk pengembangan usaha bagi kesejahteraan warga.
Tamu dari negeri jiran dari Universiti Teknologi MARA adalah; Dr Zaidatulhusna, Dr Noor Fadhlina, Dr Nurazilah, Dr Tengku Shari Feleani.
Didampingi Dr Yetty Dwi Lestari (Kepala Departemen Manajemen) Unair, Joni Setiawan SE, MS.M (Kepala Prodi S1 Manajemen), Dunga Dwi Batara, Zahrin Haznina Qolby, Elsa Yustika Putri, Rahmat Heru Setianto (Kaprodi S2 Manajemen.
Di desa itu tani mendapat sambutan dari Kades Plumbon Gambang Nurwakit, Suroso (Ketua Asosisi Manik-manik dan Asesori).

Para tamu dari Malaysia bersama pendamping dari Unair melakukan peninjauan ke lokasi industri manik di Plumbon Gambang, Kamis 11 Juni 2026. Foto: kredonews.com/ priyo suwarno
Keunikan dan Nilai Budaya
Kades Nurwakit menjelaskan produk sejenis manik kaca buatan Plumbon Gambang dikerjakan sepenuhnya secara tradisional dengan keterampilan turun-temurun.
Bahan utamanya adalah limbah kaca daur ulang, terutama jenis kaca opal putih yang menghasilkan warna khas yang dicari banyak pembeli.
Yang membuatnya semakin istimewa adalah ada varian manik replika pusaka budaya suku-suku di Sarawak, Malaysia—seperti Manik Batang Luma, Manik Matan Dau, dan Manik Alai. Bentuk, ukuran, dan motifnya tidak boleh diubah, sehingga menjadi barang yang sangat berharga dan tetap diminati hingga saat ini.
“Di Malaysia manik-manik ini sudah menjadi bagian budaya dan identitas masyarakat, bahkan ada museum khususnya. Sementara di Indonesia masih kurang diminati, padahal ini aset yang harus kita jaga,” ujar Nuwakit, kepala desa Plumbon Gambang.
Tantangan
Meskipun permintaan dari luar negeri sangat besar—terutama dari Malaysia, Kalimantan, Thailand, hingga Eropa—para pengrajin menghadapi sejumlah kendala berat:
– Produksi masih sepenuhnya manual: Semua tahap pengerjaan mengandalkan tenaga manusia dan peralatan sederhana, sehingga kapasitas terbatas dan sering tidak mampu memenuhi pesanan besar
– Kelangkaan bahan baku: Kaca opal putih semakin sulit didapat, sedangkan jenis kaca lain membutuhkan biaya energi yang sangat tinggi untuk dilebur
– Regenerasi tenaga kerja: Generasi muda mulai kurang tertarik karena prosesnya memakan waktu dan terlihat kurang modern
– Belum ada wadah pemasaran terpadu: Terkadang terjadi persaingan internal antar pengrajin karena belum ada kesepakatan harga dan pemasaran bersama
Ketua Asosiasi Pengusaha Manik dan Aksesoris (APMA), menyampaikan bahwa saat ini tercatat ada 86 pengusaha yang tergabung dan mampu menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja.
Namun untuk terus berkembang, mereka membutuhkan dukungan teknologi dan manajemen yang lebih baik.
Peluang Kerja Sama
Perwakilan dari Universitas Airlangga menyatakan akan membantu mengkaji dan merancang peralatan yang lebih efisien, terutama untuk tahap peleburan dan pembentukan batang kaca—tanpa menghilangkan nilai seni dan ciri khas produk.
Sementara itu, perwakilan dari UiTM Malaysia melihat peluang besar di pasar negaranya.
“Kami melihat permintaan yang sangat tinggi di sana. Kami siap berbagi wawasan pemasaran dan manajemen usaha agar produk ini semakin dikenal luas dan berdaya saing,” ujar Husna, dosen dari Fakultas Pengurusan Perniagaan UiTM.**
















