Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Polisi Menangkap Anggota BAIS Saat Kerusuhan, Jenderal TNI Tandyo: Sebaiknya Tidak Disebarkan!

badge-check


					Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo memberi keterangan pers terkait dugaan penangkapan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI oleh Brimob Polri,  Senin, 1 September 2025, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta. Foto: Instagram@idntimes Perbesar

Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo memberi keterangan pers terkait dugaan penangkapan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI oleh Brimob Polri, Senin, 1 September 2025, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta. Foto: Instagram@idntimes

Penulis: Yusran Hakim   |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA- Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita memberikan tanggapan terkait informasi dugaan penangkapan anggota intelijen TNI oleh Brimob Polri saat kerusuhan aksi demonstrasi pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025.

Tandyo memberi keterangan pers terkait dugaan penangkapan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI oleh Brimob Polri pada Senin, 1 September 2025, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Tandyo menyatakan bahwa jika penangkapan tersebut memang benar terjadi, seharusnya informasi itu tidak disebarluaskan ke publik karena terkait dengan tugas intelijen.

Dia menegaskan bahwa anggota intelijen biasa bergabung dengan para demonstran untuk menghimpun informasi, sehingga kehadiran mereka adalah bagian dari tugas intelijen. Namun, Tandyo tidak secara tegas membenarkan atau membantah kabar ada penangkapan tersebut.

Dia juga menyatakan seharusnya yang menangkap tidak menyebarkan informasi itu ke publik karena bersifat intelijen.

Selain itu, Mabes TNI sebelumnya juga telah menyatakan bahwa narasi tentang penangkapan anggota TNI oleh polisi dan dugaan keterlibatan sebagai provokator kericuhan adalah tidak benar dan menyesatkan.

Secara ringkas, Wakil Panglima TNI menekankan pentingnya kerahasiaan informasi terkait anggota intelijen TNI dan tidak membenarkan penyebaran informasi dugaan penangkapan tersebut ke publik meskipun tidak langsung membantah kejadian itu terjadi.

Demonstrasi besar-besaran bermula dari tuntutan buruh, mahasiswa, aktivis politik, dan elemen masyarakat lain di depan Gedung DPR/MPR RI Jakarta sejak akhir Agustus. Protes menuntut berbagai hal seperti penghapusan alih daya, kenaikan upah minimum, penghentian PHK massal, hingga reformasi pajak ketenagakerjaan.

Pada 28 Agustus, bentrokan pecah antara pengunjuk rasa dengan polisi, yang meningkat menjadi kekerasan di kawasan DPR dan meluas ke area lainnya, termasuk ke jalan tol dan jalur kereta api.

Pada malam hari, seorang ojek online bernama Affan Kurniawan meninggal dunia akibat ditabrak kendaraan polisi, memicu kemarahan publik dan kerusuhan lebih lanjut.

Pada dini hari 30 Agustus, situasi di Jakarta dan beberapa daerah lainnya (Surabaya, Bandung, Makassar) masih panas dengan kerusakan fasilitas publik, pembakaran pos polisi dan halte, serta penjarahan.

Sabtu pagi 30 Agustus, meskipun sebagian besar massa unjuk rasa mereda, ratusan demonstran masih berkumpul di depan kompleks parlemen. Beberapa insiden perusakan properti terjadi, termasuk di kediaman anggota DPR Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta dimana gerbang dirusak dan barang mewah dijarah.

Pada malam hari di Surabaya, gedung negara Grahadi dibakar oleh para demonstran yang juga menjarah isi gedung tersebut.

Kerusuhan ini mengakibatkan gangguan transportasi umum, kerusakan fasilitas umum, dan jatuhnya korban tewas, serta tindakan keamanan yang intensif oleh aparat untuk mengendalikan massa.

Kejadian ini merupakan rangkaian dari gelombang demonstrasi yang berubah menjadi kerusuhan keras dengan penjarahan dan pembakaran sejumlah properti di beberapa kota besar Indonesia pada akhir Agustus 2025.

Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita memberikan tanggapan terkait informasi dugaan penangkapan anggota intelijen TNI oleh Brimob Polri saat kerusuhan aksi demonstrasi pada Sabtu, 30 Agustus 2025.

Selain itu, Mabes TNI sebelumnya juga telah menyatakan bahwa narasi tentang penangkapan anggota TNI oleh polisi dan dugaan keterlibatan sebagai provokator kericuhan adalah tidak benar dan menyesatkan.

Berikut kronologi kerusuhan aksi demonstrasi di Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2025, merupakan puncak dari gelombang unjuk rasa yang berlangsung sejak 25 Agustus 2025:

Demonstrasi besar-besaran bermula dari tuntutan buruh, mahasiswa, aktivis politik, dan elemen masyarakat lain di depan Gedung DPR/MPR RI Jakarta sejak akhir Agustus.

Protes menuntut berbagai hal seperti penghapusan alih daya, kenaikan upah minimum, penghentian PHK massal, hingga reformasi pajak ketenagakerjaan.

Pada 28 Agustus, bentrokan pecah antara pengunjuk rasa dengan polisi, yang meningkat menjadi kekerasan di kawasan DPR dan meluas ke area lainnya, termasuk ke jalan tol dan jalur kereta api. Pada malam hari, seorang ojek online bernama Affan Kurniawan meninggal dunia akibat ditabrak kendaraan polisi, memicu kemarahan publik dan kerusuhan lebih lanjut.

Pada dini hari 30 Agustus, situasi di Jakarta dan beberapa daerah lainnya (Surabaya, Bandung, Makassar) masih panas dengan kerusakan fasilitas publik, pembakaran pos polisi dan halte, serta penjarahan.

Sabtu pagi 30 Agustus, meskipun sebagian besar massa unjuk rasa mereda, ratusan demonstran masih berkumpul di depan kompleks parlemen. Beberapa insiden perusakan properti terjadi, termasuk di kediaman anggota DPR Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta dimana gerbang dirusak dan barang mewah dijarah.

Pada malam hari di Surabaya, gedung negara Grahadi dibakar oleh para demonstran yang juga menjarah isi gedung tersebut.

Kerusuhan ini mengakibatkan gangguan transportasi umum, kerusakan fasilitas umum, dan jatuhnya korban tewas, serta tindakan keamanan yang intensif oleh aparat untuk mengendalikan massa.

Kejadian ini merupakan rangkaian dari gelombang demonstrasi yang berubah menjadi kerusuhan keras dengan penjarahan dan pembakaran sejumlah properti di beberapa kota besar Indonesia pada akhir Agustus 2025. **

 

 

 

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Membuka dan Menutup Muktamar ke 35, Presiden Prabowo Terima KTA NU dari KH Miftachul Akhyar

31 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Harga BBM Pertamax Diramal Naik Rp300—Rp550 pada September 2026

31 Agustus 2026 - 19:05 WIB

IDI Usul ke Menkes Standar Gaji Dokter hingga Rp110 Juta

31 Agustus 2026 - 16:24 WIB

Komdigi Larang Sisa Kuota Internet Hangus, Tetapkan Tanggal Berlaku

31 Agustus 2026 - 16:02 WIB

Tidak Ada Saksi, Posko DPP GRIB Milik Hercules Tibatiba Terbakar!

31 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Diduga Tak Kuat Tahan Beban Jembatan Gantung Anjlok, Saat Dilewati Bupati Pangandaran Bersama 50 Orang

31 Agustus 2026 - 11:56 WIB

Terpilih Jadi Ketum PB NU, KH Abdul Halim Mahfudz Tanda Tangan Fakta Integritas

31 Agustus 2026 - 10:49 WIB

KH Nurul Huda Djazuli Pimpin AHWA: Putuskan KH Miftachul Akhyar Kembali Duduki Rais Aam PB NU 2026-2031

31 Agustus 2026 - 00:23 WIB

Bahar Smith Tantang Duel Hercules: Memperkusut Kasus Hukum Tewasnya Bambang Setiawan

30 Agustus 2026 - 20:58 WIB

Trending di News