Menu

Mode Gelap

News

Menelisik Sejarah Terorisme(2): Krypteia adalah Polisi Rahasia Pembunuh di Sparta

badge-check


					Niccolò Machiavelli adalah ilmuwan 'kakek buyut' kejahatan dan kekejaman terhadap umat manusia. Foto: ist Perbesar

Niccolò Machiavelli adalah ilmuwan 'kakek buyut' kejahatan dan kekejaman terhadap umat manusia. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM–  Di negara-negara kota Yunani dan Roma, hukum dan perjanjian biasanya mengatur hubungan antarkomunitas-komunitas beradab, meski bukan untuk mengatur yang biadab. Kota Sparta mungkin menggunakan satu kesatuan polisi rahasia yang dikenal sebagai Krypteia.

Para polisi ini melakukan pembunuhan-pembunuhan yang dipilih berdasarkan kecurigaan guna menindas para budak belian namun tetap mengindahkannya ketika berurusan dengan bangsa Athena, ramalan-ramalan para dewa dan metode diplomatik.

Pada masa Perang Peloponesus yang berkepanjangan, bangsa Athena menggunakan taktik pencegahan guna memadamkan pemberontakan di kekaisaran mereka yang tersebar.

Dalam kasus Mytilene yang terkenal karena kekejamannya pada tahun 427 sebelum masehi, semua lelaki dewasa dihukum mati, sedangkan perempuan dan anak-anak dijadikan budak.

Sebuah kapal perang dengan tiga dayung raksasa dikirim untuk menegakkan terlaksananya keputusan Majelis Athena, yang kemudian berubah pikiran.

Hal itu terjadi setelah Diodotus berpendapat bahwa siksaan kejam justru menyebabkan pemberontak berjuang mati-matian demi reruntuhan puing terakhir kota mereka yang tak ada gunanya lagi.

Kapal perang kedua menggantikan kapal perang pertama, sehingga pulau Lebos pun diselamatkan.

Bagaimanapun, penyerahan diri Melos yang dilakukan kemudian mengarah kepada penyebab mengapa Mytilene diselamatkan: para pejuang pria yang mempertahankan kota dihukum mati, kaum wanita dijadikan budak, wilayah itu dijajah para pemukim Athena.

Balas dendam mengerikan lain terjadi seiring jatuhnya ekspedisi Athena melawan Syracusa pada 413, ketika 7.000 tahanan dipekerjakan hingga mati selama musim dingin dalam katakombe terbuka dari gugusan Pulau Sicilia yang berbatu.

Tiran Sicilia selanjutnya, Agathodes dipuja karena kekejamannya oleh Niccolo de Machiavelli dalam bukunya The Prince (Sang Pangeran), sebuah buku yang menjadi pedoman terpenting bagi para penguasa Renaisance.

Agathodes menggunakan pembunuhan dan pembantaian masal atas musuhnya agar bisa meraih kekuasaan. Ia mempertahankan diri dengan memanfaatkan rasa takut masyarakat, namun berhasil membebaskan Sicilia dari bangsa Kartago.

Machiaveli menegaskan bahwa Agathodes tidak bakal disebut namanya di antara orang-orang terkenal karena “kekejaman biadab, sikap tidak manusiawi serta kekejaman perangnya yang tidak terbilang.

Meski demikian, rejim dan kebijaksanaannya dipuji karena rasa aman masa kekuasaannya yang panjang di Syracusa, tanpa kerusuhan sipil sama sekali. Dia memperlihatkan contoh bagi siapapun pembuat intrik yang mencari kekuasaan.

‘Ketika merebut sebuah negara, penakluk harus mengatur agar hanya sekali saja melakukan tindakan-tindakan kejam.’ Kemudian, dia harus memberikan kehidupan yang lebih layak kepada semua orang yang tercerai-berai sehingga masanya dianggap pelahan berkembang baik..

Di Kekaisaran Romawi, upaya mempertahankan diri selalu menjadi sebuah faktor. Teror tentu berhadapan dengan kontra-teror pada tahun 66 setelah Kristus dilahirkan di Propinsi Yudea.

Diorganisasikan sebagai pejuang suci yang mengikuti jejak Yudas Makabeus dan aksi perlawanannya, kaum Zealot (kaum Sicarii) bangkit.

Kelompok ini dikenal sebagai kelompok Farisi yang sangat ekstrem. Teriakan mereka adalah, ‘Tidak ada dewa selain Allah, tidak ada pajak selain untuk Bait Allah!” Garnisum Romawi di benteng Antonia di Yerusalem pun mereka bunuh.

Berhadapan dengan hilangnya Yudea, Kaisar Nero kemudian mengutus jenderal kenamaannya, Vespasius bersama putranya sendiri, Titus untuk mengalahkan propinsi itu dengan pasukan-pasukannya.

Ketika Nero wafat, Vespasius menjadi Kaisar Romawi dan meninggalkan Titus di Yudea untuk merebut kembali Yerusalem. Sesudah berbagai serangan dan pengepungan, pasukan merangsek memasuki kota.

Mereka melumuri tembok-tembok Bait Allah dengan darah Kaum Zealot dan membiarkan tempat suci itu terbengkelai. Perlawanan heroik terakhir kaum Sicarii di Masada, berlangsung tiga puluh bulan blokade guna mengurangi ribuan pembelanya melakukan bunuh diri masal.

‘Kita tinggalkan dunia,” pemimpin mereka Eleaser berujar dalam catatan sejarahwan Josephus, ‘bersama anak dan istri kita, dalam keadaan bebas’ Inilah yang diperintahkan oleh hukum kita supaya kita lakukan.’

Enam puluh tahun kemudian, Rabbi Akiva mengilhami perlawanan terakhir yang justru melenyapkan Yerusalem. Dalam buku Talmud of Babylon, dia konon bersama dua rekannya melihat seekor anjing hutan berlarian terkena bebatuan yang jatuh dari Tabernakel, yang masa itu menjadi tempat penyimpanan Tabut Perjanjian yang hilang.

Dia tersenyum justru ketika orang-orang lain meratap karena ia tahu para nabi telah meramalkan kehancuran total sekaligus pembangunan kembali Yerusalem yang mulia. Karena sebagaimana ramalan pertama terjadi pada masa pemerintahan Titus, maka ramalan kedua pun akan terpenuhi.

Kehancuran yang bahkan jauh lebih besar lagi terjadi setelah perang kemerdekaan lain, yang sebagian diprovokasi oleh Rabbi Akiva.

Di bawah pimpinan pemberontak Bar Kocha, yang memeteraikan mata uangnya dengan bangunan bagian depan Bait Allah yang ketiga yang didambakannya dibangun lagi, bangsa Yahudi menentang dekrit Kaisar Hadrianus yang bermaksud membinasakan semua peninggalkan agama mereka dari Kota Suci hingga ke akar-akarnya.

Selama tiga tahun, pemimpin gerilyawan itu mengalahkan pasukan Romawi dan tentara bayarannya sebelum akhirnya menyerang Yerusalem dan menghancurkan Legiun Kesepuluh di sana. Kaisar Hadrianus sendiri terpaksa membawa keluar satu pasukan besar untuk memadamkan pemberontakan yang berakhir di Bar Kochba.

Sedangkan Rabbi Akiva sendiri disiksa hingga mati. Yang tersisa di jalan-jalan medan pembantaian Yerusalem diremukkan ke dalam tanah di antara gunung-gunung kota. Hanya Tembok Barat yang masih bertahan.

Di atas puing-puing bebatuan dibangun kota baru bernama Aelia Capitalina. Tempat semua bangsa Yahudi dijatuhi hukuman mati. Yudea kemudian diberi nama Palestina, nama yang menggantikan Israel sebagai negara bangsa Yahudi, yang berada di pembuangan atau bangsa minoritas di tanah kelahiran mereka sendiri.

Di Inggris, Boudica membalas sikap kasar para pemungut pajak Romawi yang mencambuk anak-anak perempuan dan memperkosa mereka. Serangannya yang hebat mampu memporakporandakan Colchester dan St. Albania serta London.

Sejarahwan Romawi, Tacitus melukiskan Boudica dan strategi pasukannya sebagai ‘pembantai, tiang gantungan, api dan salib.’ Sejarahwan Yunani Dio Cassius menuliskan kisah tentang nasib kaum wanita Romawi dalam hutan-hutan dewa Bangsa Celtik, Andrasta: ‘payudara mereka dipotong, dimasukkan dalam mulut mereka, sehingga mereka nampak seolah-seolah sedang memakannya.

Kemudian tubuh mereka ditusuk memanjang di atas tiang-tiang runcing. Tacitus mengira kekejaman ini sebagai cara menuntut balas lebih dulu, suatu bentuk sumpah darah yang memaksa setiap orang bertempur hingga tewas menjelang kekalahan yang tak terelakkan.

Pasukannya yang besar dan tidak terkendali dimusnahkan oleh tikaman pedang-pedang pasukan Romawi yang sangat terlatih, sehingga Bondica lalu meminum racun sebagaimana Cleopatra memilih dipagut ular. Memang tidak ada ratu yang dapat diseret dengan penuh kemeriahan melewati jalan-jalan Kota Roma.

Perarakan kemenangan pun tidak lepas dari pertumpahan darah. Kemilau seragam dan kereta kuda serta jarahan perang diikuti para pemimpin musuh yang diikat di kaki Bukit Capitolina.

Perbudakan dan penyiksaan selalu menjadi senjata bagi hukum dan ketertiban. Simbol tahta Kerajaan Bangsa Romawi, kemudian diambil alih oleh rejim Musolini, berbentuk bungkusan terdiri dari 12 kabel berisi kapak, yang digunakan untuk memancung kepala tawanan atau penjahat.

Melemparkan musuh ke tengah singa atau eksekusi mati di depan umum merupakan upaya melenyapkan subversi apapun terhadap Kekaisaran Romawi. Kalah perang atau terkepung berarti hidup penuh bhakti. Hanya agama Kristen yang tampil mempertanyakan metode pemerintahan ini.

St. Agustinus mendefenisikan arti “perang yang adil” sebelum Kekaisaran Romawi jatuh. Ia memperlihatkan adanya perbedaan antara guerra, melawan para penjahat serta bajak laut, yang kini disebut sebagai perang gerilya dan bellum yang dipertentangkan dengan para penguasa sah negara-negara lain.

“Perang adil” yang terakhir merupakan konflik bersenjata, yang mungkin diatur oleh aturan-aturan yang diterima kedua belah pihak, mampu menahan perilaku pasukan mereka bahkan mengklaim tujuan ilahi dalam peperangan. Namun tidak ada pegangan diterapkan dalam guerra melawan para bandit atau pemimpin perang atau pimpinan biadab seperti Boudica.

Seperti diungkap Aristoteles, siapapun yang hidup secara kejam sebetulnya mendekati binatang buas dan dengan demikian harus diperlakukan pula seperti binatang atau diperbudak.

Ritus pengorbanan manusia bangsa Celtik yang masih dipertontonkan di Gunderstrup Cauldron di Denmark, membuat bangsa Romawi sendiri merasa ngeri. Meski diakui sebagai pembela kemerdekaan Prancis atas Julius Caesar, Vercingetorix mengirim banyak sekali orang Perancis ke medan tempur dengan kepala-kepala musuh mereka yang mengerikan diikat bergelantungan bersama seputar leher kuda-kuda mereka.

Bagaimanapun, meski dianggap pencetus munculnya para pejuang kemerdekaan, penggunaan taktik horror harus ditolak, ketika sasaran pemberontakan adalah untuk menarik massa di belakang mereka.

Teror merupakan pedang bermata dua. Ia menyingkapkan permusuhan sekaligus persahabatan. Penyiksaan atas para musuh mungkin saja menakutkan orang taklukan pada masa mendatang. Agathocles nampaknya jujur dalam upayanya untuk meraih kekuasaan dengan menggunakan horror.

Setelah mencapai kekuasaan, ia mengurangi pendekatan keamanan sehingga memungkinkan adanya dukungan masyarakat. Dalam persetujuannya yang menyakitkan atas ‘perang yang adil’ St. Agustinus mengijinkan orang Kristen membunuh bangsa kafir mengikuti jejak Yoshua dalam Perjanjian Lama, namun tindakan kejam ini tidak bisa dilakukan karena benci.

Ia harus dibuat seperti sikap kejam orangtua ketika menyiksa anaknya demi kebaikan anak itu sendiri. Tentu serangan bangsa Romawi yang terjadi pada masa hidup Agustinus nampak bagaikan kemenangan perbuatan jahat atas perbuatan baik sehingga perang-perang agama kini menjadi penting bagi iman Kristen.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Rumah Kades Hoho Alkaf Diteror, Dilempari Bom Molotov Civic Turbonya Terbakar

24 April 2026 - 16:38 WIB

Kades Hoho Alkaf menunjukkan bekas bekas bahsn bakar, bom molotov, serta mobilnya yang terbakat. Ia mengatakan serangan teror ini terjadi Jumat dinihari, 24 April 2026. Foto: instagram@hoho_alkaf

Kasus Kuota Haji, Basalamah Serahkan Rp8,4 Miliar ke KPK tapi tak Tahu Uang Apa

24 April 2026 - 14:18 WIB

China Kuasai Cadangan Minyak Mentah 1,4 Miliar Barel, Tiga Kali Cadangan Amerika 413 Juta Barel

24 April 2026 - 09:11 WIB

Bike to Work Mengawali Peringatan Hari Bumi di Pemkab Jombang

24 April 2026 - 08:16 WIB

Program Wirausaha Baru di Jombang, Pelatihan Ternak Ayam Ulu di Bandarkedungmulyo

24 April 2026 - 07:44 WIB

Korupsi Dana Hibah Rp242 Miliar, Kejari Magetan Menahan Ketua DPRD Suratno dan 5 Orang Lainnya

23 April 2026 - 21:12 WIB

Terulang Lagi, Pria Terjun dari Jembatan Cangar Batu Meninggalkan Yamaha Vixion

23 April 2026 - 16:17 WIB

Gempa 3.8 Magnetudo di Buleleng Bali dan Timor

23 April 2026 - 15:30 WIB

Jusuf Hamka Menang Gugatan Rp119 Triliun Lawan Hary Tanoesoedibyo

23 April 2026 - 10:52 WIB

Trending di News