Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Mendikdasmen: Deep Learning Bukan Kurikulum, Tapi Tantangan Bermunculan

badge-check


					Ilustrasi, Dok: ArtAI Perbesar

Ilustrasi, Dok: ArtAI

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, JAKARTA- Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berencana menyederhanakan materi ajar di tiap mata pelajaran sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa kebijakan ini berkaitan dengan rencana penerapan metode pembelajaran mendalam atau deep learning.

Penerapan deep learning memunculkan tantangan dan solusi, menurut Mu’ti, deep learning menekankan pada proses belajar yang lebih mendalam dan kontekstual. Oleh sebab itu, pengurangan materi dianggap perlu agar siswa dapat lebih fokus dan tidak terbebani,

“Sehingga karena itu maka materi pelajaran akan dikurangi,” kata Mu’ti, Minggu (13/4/2025).

Baca juga: Mode ON OFF, Dulu Dimatikan, Kini SMA IPA, IPS dan Bahasa Dihidupkan Lagi

Baca juga: Jepang Yakin Kebijakan Tarif AS Membuat Biaya Hidup Tinggi, Ini Alasannya

Baca juga: Pemerintah Imbau Migrasi ke e-SIM, Ini Perbedaan dengan SIM Card

“Karena pembelajaran mendalam itu menekankan pembelajaran yang lebih konstruktifis ini teori pelajaran konstruktifis kemudian deep learning proses, proses pembelajaran yang mendalam berpikir tingkat tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mendorong siswa untuk memahami secara lebih menyeluruh materi yang dipelajari, serta menghubungkannya dengan kehidupan nyata.

Mu’ti menegaskan bahwa saat ini penerapan deep learning masih dalam tahap persiapan. “Ini masih ongoing process (mempersiapkan penerapan Deep Learning),” kata Mu’ti.

Keberhasilan penerapan metode ini, menurutnya, sangat bergantung pada jumlah materi yang disampaikan. Jika terlalu banyak, proses mendalam sulit tercapai. Materi sebaiknya disesuaikan dengan kapasitas siswa, menekankan nilai-nilai penting dalam belajar, dan dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks.

“Nilai harus melekat pada semua mata pembelajaran, dan nilai menjadi makna utama dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, selain aspek pengetahuan dan kemampuan, Deep Learning juga harus mengedepankan pentingnya nilai,” kata Mu’ti.

Ia juga menyoroti bahwa setiap individu memiliki cara belajar yang unik. Karena itu, deep learning mengedepankan tiga prinsip utama: mindful, meaningful, dan joyful.

Prinsip mindful berarti proses belajar dilakukan secara sadar, penuh hormat, dan memberi ruang bagi siswa untuk menemukan metode belajar yang paling sesuai bagi mereka.

Selanjutnya, prinsip meaningful menekankan pentingnya pemaknaan ilmu dan manfaatnya dalam kehidupan.

“Dan ketiga, yaitu ‘joyful’ yang memiliki arti penghargaan atas raihan penemuan makna serta segala kegunaannya serta manfaatnya untuk masyarakat,” jelas dia.

Sebelumnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meluruskan jika deep learning bukanlah kurikulum tetapi pendekatan pembelajaran

“Kami jelaskan ke publik Deep Learning itu apa? makhluk apa? Nah saya klarifikasi dari awal Deep Learning itu bukan kurikulum tetapi pendekatan pembelajaran,” kata Mu’ti dikutip dari akun YouTube TV Muhammadiyah, Senin, (17/2/025).

Menurut catatan redaksi implementasi deep learning dalam konteks pendidikan juga merupakan sebuah tantangan, pengurangan materi pelajaran adalah tantangan yang pertama selain itu masih ada tantangan lain, sebagai berikut

1. Butuh waktu lebih lama
Karena fokus pada pemahaman mendalam, materi tidak bisa diajarkan secara cepat. Ini bisa jadi tantangan jika waktu pembelajaran terbatas. oleh.karena itu materi pelajaran dikurangi.

2. Tergantung kualitas guru
Guru harus punya kemampuan tinggi untuk memfasilitasi pembelajaran aktif, reflektif, dan kontekstual. Tidak semua guru siap atau terlatih untuk ini, membutuhkan penguatan kompetensi guru dan uji kompetensi

3. Tidak cocok untuk semua siswa
Ada siswa yang lebih nyaman dengan struktur dan hafalan. Deep learning bisa terasa sulit atau membingungkan bagi mereka,

Sama halnya dengan dihidupkannya pilihan IPA, IPS dan bahasa, ini karena kemampuan yang berbeda di antara siswa.

4. Evaluasi lebih kompleks
Menilai proses berpikir dan pemahaman mendalam butuh pendekatan penilaian yang lebih kualitatif, bukan sekadar ujian pilihan ganda.

5. Butuh fasilitas dan lingkungan pendukung
Pembelajaran mendalam sering membutuhkan diskusi, proyek, atau eksplorasi, yang tidak selalu bisa dilakukan di semua sekolah.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Bupati Gresik Pulangkan.Puluhan Anak Pekerja Migran di Malaysia

14 Juli 2026 - 10:52 WIB

Babak Baru Kasus Penipuan PPPK Pemkab Gresik, Staf Dinas PMD Jadi Tersangka

14 Juli 2026 - 09:54 WIB

Jangan Panik! Beras Anda Aman dari Kutu dengan Trik Sederhana

13 Juli 2026 - 20:22 WIB

Daftar Harga BBM di SPBU Pertamina, BP, Shell, dan VIVO

13 Juli 2026 - 20:07 WIB

5 Kereta Api Ini Menjalani Relasi Terjauh di Indonesia

12 Juli 2026 - 19:05 WIB

Langkah-Langkah Menjaga Kesehatan di tengah Fenomena El Nino

12 Juli 2026 - 18:55 WIB

600 Desa di Jatim Masih Susah Sinyal

12 Juli 2026 - 18:39 WIB

Driver Ojol Teriak Pendapatan Tak Naik karena Potongan Aplikator Masih 20%

9 Juli 2026 - 18:45 WIB

Pembongkaran Tembok Mutiara City Berujung Gugatan, Pemkab Paparkan Empat Fakta di PTUN

9 Juli 2026 - 18:22 WIB

Trending di Nasional