Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, TEHERAN-– Kelompok Komando Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengklaim melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik dan jelajah terhadap sasaran strategis militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia, Senin malam, 13 Juli 2026 waktu setempat.
Diduga keras Iran gunakan rudal berteknologi baru, sehingga sulit dideteksi oleh radar canggih milik Amerika Serikat yang dipasang di negara negara Teluk.
Serangan tersebut sebagai balasan atas serangan udara AS yang menargetkan fasilitas militer di wilayah Iran sehari sebelumnya.
Lokasi Serangan
Berdasarkan pernyataan resmi IRGC dan laporan pihak berwenang negara setempat, Iran melakukan serangan balik terhadap enam sasaran strategis:
* Bahrain: Pangkalan Udara Isa dan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Juffair. Sirene peringatan rudal berbunyi, sistem pertahanan udara mencegat sebagian sasaran; ada laporan kerusakan ringan pada fasilitas pendukung di pinggir pangkalan.
* Kuwait: Pangkalan Udara Ali Al‑Salem dan Ahmed Al‑Jaber — tempat penempatan sistem pertahanan Patriot dan radar strategis AS. Iran mengklaim menghancurkan depot bahan bakar dan pos pengamatan; pihak Kuwait mengonfirmasi jatuhnya puing‑puing di area terpencil tanpa korban jiwa.
* Oman: Sasaran radar pemantau jarak jauh di wilayah perbatasan utara; Oman tidak mengonfirmasi serangan langsung namun menyatakan mencegat objek asing di wilayah udara.
* Lainnya: Rudal juga terdeteksi melintas di atas wilayah udara Arab Saudi dan Yordania, yang keduanya berhasil mencegatnya sebelum masuk wilayah berpenghuni.
Dampak dan Kerugian
Pihak Iran menegaskan serangan murni terhadap sasaran militer, tidak menargetkan warga sipil, dan telah selesai sesuai target yang ditetapkan.
Nanun sejauh ini, pihak Amerika Serikat: Belum mengakui secara resmi adanya kerusakan berat atau korban jiwa di pihaknya.
Komando Pusat AS hanya menyatakan: “Sistem pertahanan udara kami dan negara mitra telah bekerja optimal. Kami sedang menilai dampak serangan dan akan merespons sesuai kebutuhan.”
Sampai saat ini tidak ada laporan resmi jumlah personel AS yang tewas atau luka, serta belum ada rincian kerusakan aset militer yang dipublikasikan.
Beberapa media lokal menyebutkan ada beberapa personel yang mengalami luka ringan akibat kepanikan dan puing‑puing, namun belum diverifikasi silang.
Efek lainnya, operasi penerbangan sipil di sejumlah bandara Teluk ditutup sementara selama 2–4 jam; lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tetap diawasi ketat namun belum ditutup sepenuhnya.**

















