Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Cerita Hari Ini: Punya Penasehat Ulama Keraton Surakarta Dikepung VOC, Yogyakarta dan Mangkunegaran

badge-check


					Sunan pembenci VOC dan menegakkan Syariat Islam Perbesar

Sunan pembenci VOC dan menegakkan Syariat Islam

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Pakubuwono IV (PB IV) adalah putra Pakubuwono III yang ketika lahir pada 2 September 1768 diberi nama Raden Mas Subadya. Ibunya bernama GKR Kencana, permaisuri keturunan Sultan Demak.

Raden Mas Subadya naik takhta pada 29 September 1788, enam hari setelah wafatnya Pakubuwono III.

Setelah itu, ia menyandang gelar Sri Susuhunan Pakubuwono IV dan resmi menjadi raja Kasunanan Surakarta ketiga.

Pakubuwono IV juga dikenal sebagai Sunan Bagus, karena naik takhta pada usia muda (20 tahun) dan berwajah tampan.

PB IV dibandingkan dengan ayahnya PB III lebih cakap dan membenci VOC

Pada masa Pakubuwono IV ini Keraton Solo berjuang keras melawan Belanda. Salah satunya dalam rangka menegakkan Syariat Islam di wilayah Surakarta.

Dengan Masjid Agung sebagai basis reformasi, Sri Sunan membasmi praktip korup dan perilaku maksiat sejumlah pejabat keraton Surakarta.

Dia melarang minuman keras, candu, dan mewajibkan para abdi dalem yang beragama Islam untuk sholat 5 waktu. Kompeni pun kepanasan. Mereka menghasut Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Mangkunegara untuk ikut mengepung Keraton Solo.

Peristiwa ini kemudian dicatat sejarah sebagai Peristiwa Pakepung 1790.

Selain itu dia juga prihatin dengan kondisi keraton surakarta yang mengalami degradasi moral.

Tak hanya praktik korup merajalela, tapi banyak abdi dalem yang suka menenggak minuman keras dan mengonsumsi candu atau opium.

Buruknya kondisi tersebut diperparah dengan semakin meningkatnya dominasi pemerintah bentukan serikat dagang Belanda dalam persoalan internal keraton.

Menyadari kondisi tak menguntungkan tersebut, Pakubuwono IV bertekad mengembalikan kewibawaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Reformasi besar pun digulirkan.

Dalam melakukan reformasi birokrasinya, Sri Sunan mengangkat sejumlah ulama dan kiai untuk menjadi penasihat pribadinya.

Jumlahnya ada 4 orang. Tapi sebagian lagi ada yang menyebut 5 orang ada juga yang menyebut 7. Mereka adalah Kiai Wiradigda, Raden Panengah, Raden Brahman dan Kiai Nur Saleh.

Nasihat dan petuah 4 abdi kinasihnya tersebut sangat mempengaruhi berbagai kebijakan keagamaan dan politik Sri Sunan.

Meski terlihat tampan dan lembut, Sri Sunan sangat tegas dalam memperjuangkan apa yang diyakininya. Hal tersebut bisa dilihat dari sejumlah putusannya yang benar-benar mengagetkan pada zaman itu.

Pertama, dia mengharakan minuman keras dan opium.

Kedua, para sentono dalem diwajibkan sholat 5 waktu dan tiap Jumat wajib sholat berjamaah di masjid Agung Siurakarta.

Ketiga, tiap Jumat Sri Sunan ikuta sholat Jumat di masjid dan sering menjadi khatib atau pembicara khutbah.

Keempat, setiap Sabtu diadakan latihan perang dan berkuda untuk para abdi dalem.

Kelima, pakaian prajurit keraton yang semula befrbau-bau Belanda diubah menjadi pakaian prajurit Jawa.

Keenam, pemberantasan korupsi di lingkungan keraton. Ketujuh, eksekusi hukum gantung kepada para pelaku kejahatan pembunuhan dengan vonis hukuman mati qishos di pengadilan. Pelaksanaan sidangnya dilaksanakan di Serambi Masjid Agung.

Bagi para pejabat yang melanggar aturan-aturan tersebut, Sri Sunan tidak segan-segan untuk menghukum atau bahkan memecatnya.

Hal tersebut dialami oleh Tumenggung Pringgalaya dan Tumenggung Mangkuyuda.

Kebijakan treformasi Sri Sunan ini membuat para pangeran dan pejabat yang tersingkir menjadi resah. Mereka lantas diam-diam bekerja sama dengan Kompeni untuk menghentikan kebijakan politik PB IV.

Entah kebetulan atau tidak, pada waktu itu mendadak muncul desas-desus bahwa Sri Sunan atas bisikan abdi kinasihnya berencana akan membunuh orang kafir Eropa di tanah Jawa.

Menanggapi perubahan di Kraton Solo itu, kompeni kemudian mengirim utusan yang dipimpin langsung oleh Gubernur dan Direktur Java’s Noorden Ooskust yang berpusat di Semarang, yaitu Jan Greeve.

Dari tanggal 16 September hingga 6 Oktober 1790, Jan Greeve berada di Surakarta untuk memaksakan tuntutan VOC kepada Sri Sunan.

Tuntutan Jan Greeve satu, yakni Pakubuwono IV harus menyerahkan keempat orang abdi dalem kepercayaannya karena mereka dianggap sebagai biang keladi perubahan di Kraton Solo.

Kompeni juga mengajak Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Mangkunegaran untuk ikut memaksa Sri Sunan menghentikan kebijakannya.

Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran bersedia karena saat itu juga beredar rumor bahwa Keraton Surakarta tengah mempersiapkan diri dan menghimpun kekuatan guna menyatukan kembali Mataram Islam yang terpecah.

Pasalnya, jika itu terjadi, maka Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Mangkunegaran akan hilang.

Akhirnya, pada 1790, untuk pertama kalinya setelah 40 tahun, Keraton Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Kompeni bersatu untuk menekan Keraton Surakarta.

Kompeni mengirim pasukan regulernya ditambah pasukan Bugis, Madura, dan Melayu. Sementara Jogja dan Mangkunegran juga mengirim ribuan pasukannya untuk ikut mengepung Keraton Surakarta.

Peristiwa ini diabadikan oleh pujangga Yosodipura II lewat karyanya yang berjudul Babad Pakepung.

Menyerahkan Abdi Kinasih

Sri Sunan PB IV tentu saja menolak mentah-mentah tudingan tersebut. Dia juga melawan belanda dengan menolak untuk menyerahkan 4 penasihat kinasihnya tersebut.

Sayang, dia terbentur dengan realita. Pasukan gabungan tersebut terlalu besar dan terlalu kuat untuk dilawan oleh pasukan Keraton Surakarta.

Apalagi sebagian besar keluarga keeraton surakarta menjadi panik dan ketakutan.

Atas nasihat Yosodipuro dan demi kelangungan masa depan Keraton Surakarta, Sri Sunan akhirnya memenuhi tuntutan Kompeni, Dia menyerahkan 4 penasihat kinasihnya tersebut.

Tapi Sri Sunan meminta syarat agar 4 pembantu utamnya itu tidak boleh dihukum mati. Kompeni setuju. Kiai Wiradigda, Raden Panengah, Raden Brahman dan Kiai Nur Saleh dibuang ke Bentang Kompeni di semarang dan kemudian dipindah ke Batavia.

Oleh Kompeni Sri Sunan juga diminta untuk membuat perjanjian baru dengan keraton Yogkarta dan mangkunegaran bahwa mereka adalah setara. Tidak boleh ada saling serang dan mengambil wilayah kekuasaan di antara 3 keraton tersebut.

Setelah peristiwa Pakepung usai, Sri Sunan menghentikan perjuangannya. Dia terus berusaha menegakkan syariat Islam di wilayah Surakarta dan masih sering mebisi khutbah Jumat di Masjid Agung,

Hanya, Sri Sunan jadi lebih bermain cantik dalam kebijakan politiknya. Terutama dalam menyembunyikan ambisinya untuk menyatukan kembali wilayah Mataram Islam.

Sri Sunan juga terus melakukan poerjuangannya melawan belanda. Tercatat ia beberapa kali melakukan perang perlawanann. Saat VOC bangkrut dan dibubarkan pemerintah Belanda, pada 1793 Sri Sunan berperang melawan Belanda.

Demikian pula pada tahun 1805 saat Belanda menjadi bawahan Perancis, ia juga berperang lagi melawan Belanda. Sementara pada 1815, Sri Sunan bekerjasama dengan tentara Sepoy dari India melawan penjajah Inggris.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Suhu Naik 1,2 Derajat Celcius Akibat Super El Nino, 451 Ribu Nyawa Melayang

25 September 2026 - 21:11 WIB

Ada Ruang Menyerupai Kantor Polres, RS O Smach untuk Ambil Paksa Organ Manusia

25 September 2026 - 18:55 WIB

Menteri Yusril Minta Ombudsman Buka Semuanya, Izinkan Wartawan Masuk ke LP Cibinong

25 September 2026 - 13:11 WIB

Komisi C Soroti Proyek Revitalisasi 128 Gedung SD/ SMP Jombang dengan Anggaran Rp77,5 Miliar

25 September 2026 - 12:44 WIB

Menelisik Akar Terorisme (61): Nechayev Sang Teroris Muda Kharismatik

25 September 2026 - 11:52 WIB

Marathon KPK Geledah Kanwil ATR/ BPN Jatim, Malang dan Rumah Milik Lampri di Pace Nganjuk

25 September 2026 - 10:46 WIB

Kantor Digeledah, Istri Dirjen ATR/ BTN Krystianti Lampri Cuti Menghilang Secara Misterius

24 September 2026 - 23:50 WIB

Oknum Diknas Minta Jatah 10% dari Dana Revitalisasi 180 Gedung SD/ SMP di Bangkalan Rp38 Miliar

24 September 2026 - 16:56 WIB

Tim Ombudsman Sidak ke LP CIbinong: Temukan Bangunan Mirip Hotel dan Deretan Mobil Mewah!

24 September 2026 - 15:32 WIB

Trending di News