Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (55): Kisah Pembantaian 100 Pria dan 5 Wanita Pelancong

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM-‘ Kaum Thugs didedikasikan untuk membunuh demi Dewi Kali, namun di luar profesi itu, mereka adalah pilar moralitas keluarga.

Seorang asisten Sleeman benar-benar memberikan penghargaan kepada anggota kultus itu, Makeen Lodhi, karena menjadi orang terbaik yang pernah dikenalnya yang dipercaya “terkait aksi penyelamatan hidup yang terjadi antara seorang anggota Thug yang memberikan tanda dan seorang pelancong dengan barang-barang bawaan yang pantas diambil darinya.

Mereka semua melihat pelancong seperti olahragawan melihat kelinci dan burung dara. Mereka mengenangkan kembali semua tempat olahraga terbaik mereka kemudian mengisahkannya, ketika mereka bisa mengisahkannya, dengan kegembiraan yang sama.”

Intelijen Sleeman dari kalangan informan Thug, disebut dengan “ para pemberi pengesahan” sangat baik, sehingga mampu meramalkan gerakan kelompok-kelompok Thug selama waktu pembunuhan musim dingin.

Pemerintah Inggeris di India menerbitkan tabel-tabel genealogis kultus dan peta-peta kejahatannya.

Sementara itu, para asistennya yang berkebangsaan Eropa, orang-orang sepoy, polisi peronda dan pasukan tidak tetap yang bersenjata mengepung kelompok-kelompok Thug, yang bangga dengan keberhasilan masa lalu mereka mulai bekerja melawan mereka.

Mereka selalu bangga karena menjadi penipu sempurna, yang mampu mengelabui semua pelancong tentang identitas mereka sebenarnya, namun kini merasa seperti burung dara dalam jaringan Sleeman.

Begitu lama mereka menjadi orang-orang yang yakin bisa bersahabat dengan korban-korban prospektif sehingga akhirnya menjadi korban keyakinan diri mereka yang berlebihan.

Kelompok Thug berkembang pesat pada masa Sleeman, khususnya di utara India. Kini mereka bergerak keliling dalam kelompok dua puluh atau tiga puluh orang sehingga mudah menyatu menjadi kelompok-kelompok yang cukup besar untuk membunuh hingga tiga puluh pelancong seketika.

Sikap rakus membawa semakin banyak kaum Thug ke jalan-jalan. Mereka mulai membunuh tanpa membeda-bedakan korban demi keuntungan.

Mereka menjual anak-anak gadis menjadi pelacur dan meninggalkan terlampau banyak saksi hidup dan jenasah-jenasah yang tidak terkubur.

Ketika Feringheea sendiri tertangkap tahun 1813, dia baru saja kembali dari suatu ekspedisi, tempat dia menghadiri pembantaian seratus pria dan lima wanita pelancong.

Namun, Sleeman memang cukup mendukung Feringheea dengan mengajukan pemberian grasi baginya, meski adminstrasi Inggeris enggan mengecualikan pembunuh kenamaan ini.

Dan, Feringheea menukarnya dengan memberikan informasi penting.
Dalam upaya pembasmian kaum Thgus, Sleeman dibantu oleh pengadilan ala Kanguru, yang digunakannya untuk mengadili mereka.

Meski banyak dari mereka dihukum mati atau dipenjara, mereka yang menjadi informannya diberi pengampunan.

Sleeman pun akhirnya mendirikan sekolah-sekolah guna mengajarkan anak-anak mereka ketrampilan tangan yang lain.

Para orangtua melihat pemikiran ini sebagai suatu tindakan yang memalukan, tetapi akhirnya, mereka sendiri bergabung dalam sekolah-sekolah untuk belajar mengenai pembuatan batubata, membangun gedung dan menenun.

Karpet-karpet mereka menjadi begitu terkenal sehingga Ratu Victoria pun membeli satu karpet untuk Puri Windsor, walaupun para agennya telah melenyapkan kaum Thug sebagai ancaman terhadap Pax Britanica,
Thuggee memang kultus pemujaan yang keras pada masa-masa awal sebelum kedatangan Inggris.

Namun ketika diungkapkan kepada publik, dia menjadi sebuah bentuk masyarakat rahasia yang sudah merosot. Mereka yang merampok dan membunuh hanya demi kepentingan agama nyaris tidak dapat dibedakan dari kejahatan umum.

Kepercayaan mereka memang penting bagi mereka, tetapi bisa juga menyimpang. Sepanjang perang suci antara kaum Hindu dan Muslim di India terjadi toleransi agama yang lengkap di antara kaum Thug sendiri. Kaum Muslim yang taat mengadopsi keyakinan Hindu.

Para penganut Thug pun tidak menghina Qur’an atau pemikiran tentang surga. Yang paling menarik, mereka tidak pernah berperan dalam gerakan perlawanan terhadap Inggeris.

Kompromi mereka terhadap perbedaan Hindu dan Muslim memungkinkan mereka menerima bentuk otoritas politis apapun sejauh mereka dapat membunuh demi kepercayaan mereka. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

5 Jurnalis dan 2 Kru Kapal Belum Ditemukan, Hilang Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau Sejak 7 September 2026

9 September 2026 - 19:22 WIB

Dapur Utama dan Ruang Gizi RSUD Saiful Anwar Terbakar, Tidak Menyentuh Gedung Perawatan Kesehatan

9 September 2026 - 17:43 WIB

Air Laut Surut dan Gempa Mag 3,8 Terjadi di Sekitar Gunung Anak Krakatau, BMKG: Tenang Bukan Tsunami

9 September 2026 - 16:59 WIB

Tidak Masuk Akal Gelombang Keracunan Terus Terjadi: 300 Lebih Siswa SMP dan MTs Pati Diangkut ke Rumah Sakit

9 September 2026 - 16:14 WIB

Truk Tangki Air Angkut 1,5 Juta Batang Rokok Putih, Bea Cukai: Kerugian Negara Rp1,5 Miliar

9 September 2026 - 11:09 WIB

Elektabilitas Gerindra Naik 14.4 Persen, Rahmat Muhajirin: Bukti Program Presiden Prabowo Diterima Masyarakat

9 September 2026 - 09:30 WIB

Keterlaluan Tiga Kali SMAN 1 Tunjungan Blora Keracunan, Wabup Perintahkan SPPG Sukorejo 2 Tutup Permanen

9 September 2026 - 08:24 WIB

Mendahului Neuralink, RRT Izinkan Implan Cip NEO untuk Pulihkan Penderita Lumpuh

8 September 2026 - 06:57 WIB

Menelisik Akar Terorisme (54): Ritual Goor Kaum Thug untuk Mencekik

8 September 2026 - 06:35 WIB

Trending di News