Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Iran Mampu Bikin Dunia Krisis Teknologi bagi Dunia: Helium dan Hormuz

badge-check


					Kekuatan Iran bukan main main, negeri  mampu membikin dunia krisis teknologi. Grafis: meta ai Perbesar

Kekuatan Iran bukan main main, negeri mampu membikin dunia krisis teknologi. Grafis: meta ai

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, QATAR– Dunia teknologi menghadapi ancaman krisis rantai pasok terparah dalam 20 tahun terakhir. Dua peristiwa terjadi hampir bersamaan: fasilitas helium terbesar di Qatar lumpuh akibat serangan, dan Selat Hormuz ditutup Iran sejak 28 Februari 2026.

Qatar menyumbang sekitar 30 hingga 33 persen pasokan helium global. Sementara Selat Hormuz adalah jalur 20 persen minyak dunia dan 20 persen LNG dunia.

Kombinasi keduanya memicu kekhawatiran serius di industri semikonduktor, kesehatan, dan energi.

Fakta Lapangan

Menurut data QatarEnergy dan laporan AP, produksi di kompleks Ras Laffan dihentikan sejak 2 Maret 2026 setelah diserang drone. QatarEnergy kemudian menyatakan _force majeure_ pada 4 Maret, membebaskan mereka dari kewajiban kontrak.

Dampaknya langsung terasa. Konsultan helium Phil Kornbluth memperingatkan dalam webinar Gasworld bahwa jika gangguan melebihi dua minggu, distributor gas industri akan terpaksa memindahkan peralatan kriogenik dan memvalidasi ulang rantai pasok.

Proses itu bisa memakan waktu berbulan-bulan, terlepas dari kapan produksi Qatar pulih.

Kerusakannya juga permanen. QatarGas menyebut sekitar 14 persen kapasitas produksi helium mereka rusak dan butuh waktu hingga 5 tahun untuk diperbaiki. Ekspor helium tahunan Qatar dipangkas 14 persen.

Di jalur laut, situasinya tidak lebih baik. Wikipedia mencatat lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok dari rata-rata 130-140 kapal per hari menjadi hanya 5-8 kapal.

International Maritime Organization melaporkan sekitar 2.000 kapal dan 20.000 pelaut terdampar di Teluk dengan nilai kargo 125 miliar dolar AS.

Dampak

Analis menyebut Korea Selatan sebagai negara paling rentan. Data Korea International Trade Association menunjukkan 64,7 persen impor helium Korea di 2025 berasal dari Qatar.

Helium digunakan untuk mendinginkan wafer silikon saat fabrikasi chip. Tidak ada substitusi yang layak saat ini.

Samsung dan SK Hynix, dua produsen memori terbesar dunia, langsung berada di garis depan. Kementerian Perdagangan Korea juga sudah mulai menyelidiki pasokan 14 material penting semikonduktor yang bergantung pada Timur Tengah.

Namun sejauh ini industri besar belum tumbang. The Wall Street Journal mencatat TSMC, Samsung, dan SK Hynix belum melaporkan dampak signifikan karena mereka punya kontrak jangka panjang dan akses ke penyimpanan helium bawah tanah.

Air Liquide dan Air Products juga dikabarkan masih menyuplai langsung ke pabrik di Korea.

Harga memang melonjak. Harga spot helium sempat dua kali lipat. Ini menandai “Helium Shortage 5.0”, krisis kelima terbesar sejak 2006.

Mengapa Iran Mampu Bertahan?

Pertanyaan kuncinya: mengapa Iran berani menutup Hormuz dan masih bertahan hingga Agustus 2026?

Dr. Hashem Kalantari, Ahli Geopolitik Energi, Institute for Gulf Affairs, menjelaskan, “Ada tiga alasan utama. Pertama, Hormuz adalah kartu tawar geopolitik Iran. Dengan menutupnya, Iran bisa langsung menekan harga energi global. Brent sempat di 126 dolar per barel pada Maret, itu pemasukan besar bagi Teheran.”

Kedua, Iran sudah 15 tahun hidup di bawah sanksi. Ekonominya sudah beradaptasi dengan ekonomi bayangan, perdagangan lewat pihak ketiga, dan barter minyak dengan China serta India. Jadi tekanan Barat tidak seefektif dulu._

Ketiga, Iran tahu dunia tidak bisa kehilangan Hormuz terlalu lama. Penutupan ini memaksa AS dan sekutu untuk bernegosiasi. Setiap hari penutupan, inflasi energi global naik, dan itu menguntungkan Iran secara politik.

Ditambah, data Reuters menunjukkan Iran beberapa kali membuka dan menutup kembali Hormuz sebagai taktik tekanan selama negosiasi gencatan senjata 60 hari.

Hingga kini belum ada kepastian kapan Ras Laffan pulih penuh dan kapan Hormuz dibuka normal. Yang pasti, gangguan ini sudah menjadi gangguan rantai pasok energi terbesar sejak krisis 1970-an.

Bagi Indonesia, dampak langsungnya adalah potensi kenaikan harga barang elektronik, server, dan biaya logistik. Pemerintah dan industri disarankan segera melakukan audit ketergantungan terhadap material kritis dari Timur Tengah.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Presiden Resmikan Jembatan Garuda Carangwulung Bersama 3.395 Jembatan di Indonesia

14 Agustus 2026 - 09:59 WIB

Pemkab Jombang Luncurkan Aplikasi PRIME 169: Pangkas Birokrasi dan Pengawasan

13 Agustus 2026 - 20:29 WIB

Festival Gambus Misri Muncul di Sumobito setelah 40 Tahun Menghilang

11 Agustus 2026 - 16:17 WIB

Bupati Warsubi Lantik Pusoko Jadi Kades Antar Waktu Sumberteguh Kudu

11 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Mirip Film Perang Fiksi, RRT Lawan Nyamuk Gunakan Senjata Laser

10 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Ritual Malam Bakar Obat Nyamuk Nasional, Nilai Pasar Rp7,8 Triliun/ Tahun

10 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Prakiraan APBD Jombang 2027: Cuma Naik Rp167 Miliar

10 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Harga Naik Terus, Koperasi Unggas Sejahtera Bagikan Gratis 600 Ekor Ayam kepada Warga Batang

10 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Diduga Kasus Tanah Kaveling, Polresta Malang Terbitkan Surat DPO terhadap Ipda Wibowo Hari Sucahyo

10 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Trending di News