Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan tegas yang meminta Israel untuk tidak melakukan tindakan sepihak yang dapat meningkatkan ketegangan dan merusak upaya penurunan konflik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan ini muncul di tengah berlangsungnya jalur komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran yang difasilitasi negara perantara.
Pernyataan Resmi dari AS
Desakan ini disampaikan secara terpisah oleh Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz pada akhir Juni hingga awal Juli 2026.
Dalam keterangan pers di Gedung Putih, Mike Waltz menegaskan:
“Kami sedang berupaya menciptakan ruang dialog untuk mengurangi ketegangan di kawasan. Semua pihak, termasuk sekutu kami Israel, diharapkan tidak mengambil langkah yang dapat memicu eskalasi konflik lebih luas. Tindakan sepihak dapat merusak proses yang sedang dibangun dan mengorbankan kepentingan keamanan bersama.”
Sementara itu, J.D. Vance dalam wawancara dengan media CNN pada 2 Juli 2026 menambahkan bahwa AS tetap mendukung keamanan Israel, namun mengingatkan bahwa solusi jangka panjang harus dicapai melalui jalur diplomasi, bukan kekerasan.
Perlu diperjelas: hingga saat ini belum ada kesepakatan damai resmi yang ditandatangani antara AS dan Iran. Proses yang berlangsung saat ini masih berupa dialog tidak langsung yang membahas program nuklir, pengurangan sanksi, dan stabilitas kawasan, melalui perantara seperti Oman dan Qatar.
Reaksi Israel
Menanggapi pernyataan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan tanggapan tegas pada konferensi pers resmi di Yerusalem pada 2 Juli 2026.
“Kami menghargai dukungan kuat dari Amerika Serikat bagi keamanan Israel. Namun, kami harus menegaskan satu hal: Israel memegang hak penuh dan tanggung jawab mutlak untuk membela diri sendiri dari segala ancaman, termasuk ancaman dari Iran. Kami tidak akan terikat pada kesepakatan apa pun yang tidak menghilangkan risiko nyata bagi keberadaan kami,” ujar Netanyahu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel juga menambahkan bahwa setiap proses negosiasi yang melibatkan Iran harus mempertimbangkan kepentingan keamanan Israel, dan tidak boleh mengorbankan posisi strategis negara tersebut.
Konteks Perkembangan
Sejak pertengahan tahun 2026, ketegangan antara Israel dan Iran kembali memanas, menyusul serangan saling balas yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain, AS berusaha membuka kembali jalur komunikasi untuk mencegah konflik meluas ke kawasan yang lebih besar.
Pernyataan AS ini menjadi sinyal diplomatik bahwa Washington ingin menjaga keseimbangan: tetap mendukung sekutu, namun juga menghindari perang lebih besar yang dapat mengganggu stabilitas dan pasokan energi global.**

















