Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Bos BPOM Beberkan Efek Perang terhadap Obat di RI, Harga Bisa Naik

badge-check


					Bos BPOM Beberkan Efek Perang terhadap Obat di RI, Harga Bisa Naik Perbesar

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Gejolak geopolitik global yang dipicu perang di Timur Tengah mulai berdampak langsung ke sektor kesehatan dalam negeri. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan, konflik internasional bisa memicu kenaikan harga obat di Indonesia.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan, salah satu penyebabnya adalah ketergantungan tinggi industri farmasi terhadap bahan baku impor, termasuk yang berasal dari turunan minyak atau petrokimia.

“Lebih dari 50% kemasan obat itu berbasis petrokimia. Bahkan sekitar 30% bahan obat kimia juga berasal dari turunan yang sama, seperti parasetamol dan ibuprofen,” ujar Taruna usai rapat bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Ia bilang, ketika harga minyak dunia terguncang akibat konflik atau perang, efeknya bisa langsung terasa pada biaya produksi obat. Tak hanya itu, Indonesia juga masih sangat bergantung pada impor bahan baku farmasi.

BPOM mencatat lebih dari 90% bahan baku, produk antara (intermediate), hingga biosimilar masih didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini membuat industri farmasi nasional rentan terhadap gangguan rantai pasok global.

Meski demikian, BPOM memastikan kondisi saat ini masih relatif aman. Ketersediaan obat diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga enam bulan ke depan, tapi, jika konflik global terus berlanjut, tekanan terhadap harga dan pasokan obat bisa semakin besar.

“Kalau perang berlanjut, pasti akan berpengaruh. Karena bukan cuma harga, tapi ketersediaan juga jadi isu penting,” jelas Taruna.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPOM menyiapkan dua langkah utama. Pertama, terang Taruna, relaksasi aturan kemasan obat. Industri farmasi nantinya diperbolehkan mengganti jenis kemasan tanpa harus melalui proses uji yang panjang, selama tetap memenuhi standar keamanan.

“Langkah ini penting karena biaya kemasan bisa menyumbang hingga 30% dari harga obat,” kata ia.

Kedua, diversifikasi sumber impor bahan baku. Selama ini, Indonesia banyak bergantung pada negara seperti China, India, hingga Eropa.

Ke depan, BPOM akan mendorong kerja sama dengan negara lain sebagai alternatif, termasuk membuka peluang dari kawasan Pasifik hingga Rusia. Taruna juga menegaskan, isu utama bukan hanya kenaikan harga, tetapi juga ketersediaan obat bagi masyarakat.

“Kalau obat tidak tersedia, meskipun murah, tetap tidak bisa digunakan. Jadi yang kita jaga itu dua-duanya: harga dan ketersediaan,” tegasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

DJP Mulai Terapkan Pajak Marketplace per 1 November 2026

17 September 2026 - 16:25 WIB

Layanan Harhubnas 2026 Layanan Trans Jatim Gratis

17 September 2026 - 16:09 WIB

25 Merek Beras Fortifikasi Ditarik, Bulog Diminta Perkuat Pasokan Beras Premium

16 September 2026 - 19:24 WIB

Tuntut UMP Naik 9,5%, Buruh Siapkan Aksi Besar Oktober

16 September 2026 - 19:12 WIB

Menteri UMKM Siapkan Kebijakan Khusus buat Hadapi Aturan Wajib Halal

14 September 2026 - 19:01 WIB

Gempa M 5,2 Malang Tak Begitu Dirasakan Warga, Ini Penyebabnya

14 September 2026 - 18:36 WIB

,Harga Pertamax Turbo hingga Dexlite Kompak Naik, Daftar Harga BBM Terbaru 13 September 2026

13 September 2026 - 19:21 WIB

Harga Emas Antam Loyo, Turun Sedalam Ini Sepekan

13 September 2026 - 19:08 WIB

Harga Cabai Rawit Makin Pedas, Tembus Rp 90 Ribu/Kg

13 September 2026 - 19:00 WIB

Trending di Nasional