Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM– Di Mesir kuno, bangsa Nubia dari Sudan dipandang hina dan dijadikan obyek kekerasan.
Bangsa Yunani lebih suka memperbudak orang-orang biadab sebagai budak, yang tidak berbicara bahasa mereka. Namun terlepas dari seberapa kemilau pun kulit para budak itu, mereka kadangkala merantai orang-orang mereka sendiri.
Dalam Kekaisaran Romawi budak-budak sepenuhnya diambil dari ras apapun yang ditaklukan. Para filsuf Yunani sendiri begitu dihina.
Bagaimanapun, warisan tidak menyenangkan bangsa Arab bagi bangsa Eropa adalah batas ras bersama dengan keuntungan-keuntungan dari aljabar, matematika serta obat-obatan.
Bangsa Arab, Berber serta Persia menemukan bahwa perdagangan budak benua itu yang menggerakkan puluhan juta tawanan Afrika melintasi Gurun Sahara dengan karavan atau menuju Laut Merah dengan gerobak.
Ketika para cendekiawan ngotot bahwa Islam merupakan agama yang merangkul semua kepercayaan, mereka mengatakan bahwa semua tahanan yang berasal dari usul etnik apapun dapat secara hukum diperbudak akibat dari jihad.
Bagaimanapun, dengan menggunakan nama abd, bangsa Arab mencampuradukkan kata “hitam” dengan “budak:” meskipun kekeliruan ini tidak menghentikan mereka dari upaya memperbudak jutaan orang kulit putih yang nyaris semuanya dari Spanyol dan Balkan serta Rusia pada abad-abad mendatang.
Bahkan sejarahwan Timur Tengah kenamaan abad pertengahan, Ibn Khaldun menempatkan suku-suku kulit hitam lebih rendah daripada padang gurun Afrika karena tidak sepenuhnya manusia dengan “atribut” yang sangat cocok dengan binatang-binatang dungu.”
Sebagaimana Islam melihat jihadnya sebagai tugas keagamaan, demikian juga bangsa Portugis memulai perdagangan budak Eropa sebagai misi Kristen.
Pada tahun 1441, Henry sang Mualim, Pangeran Portugis dan Guru Besar pengungsi Orde Templar bernama Knights of Christus (Ksatria Kristus), menyaksikan budak-budak hitam pertama yang dijarah dari Mauritania Arab.
Pencatat sejarahnya mengatakan Pangeran Henry, “sungguh-sungguh memikirkan keselamatan jiwa-jiwa itu sebelum kehilangan jiwa-jiwa mereka.” Namun rasa ngeri karena melakukan makin banyak perbudakaan atas Afrika tidak banyak berkaitan dengan Allah dibanding dengan perdagangan.
Selama lima abad selanjutnya, pengiriman sekitar 24 juta pria dan wanita serta anak-anak menyeberangi Atlantik untuk melayani perbudakan menjadi kejahatan besar yang pernah diabadikan peradaban Barat atas orang lain sebelum kedatangan Nazi Jerman.
Sekitar 9 juta korban korban kulit hitam meninggal dunia dalam perjalanan menyeberangi Atlantik, sementara 15 juta lainnya mampu bertahan hidup untuk bekerja keras di kawasan-kawasan Amerika.
Banyaknya jumlah budak yang terlibat dalam perdagangan merendahkan individualitas serta kondisi mereka.
Banyak operasi mereduksi status korbannya menjadi binatang seperti dalam kasus yang muncul kemudian, yaitu kaum Yahudi dalam kamp-kamp konsentrasi Nazi.
“Pasar-pasar manusia terjaga di sini,” seorang budak menulis dari Afrika Barat, “sama perilakunya seperti binatang-binatang buas bersama kita.” Demikianlah kondisi mereka.
Para tawanan Afrika djerat bagai binatang buruan, fisik mereka diteliti seperti kuda-kuda, dibeli kemudian dicap seperti ternak, digembalakan bergerombolan seperti babi, dirantai di bawah dek kapal seperti binatang buas, kemudian diundi dan dibimbing keluar dari pelabuhan di perkebunan-perkebunan Amerika dengan cambuk ala keledai hingga kehabisan tenaga dan mati.
Seperti dikatakan Voltaire, perbudakaan mungkin sama kunonya dengan perang dan perang merupakan hakikat manusia. Namun, Bangsa Arab sekalipun tidak mengalah kepada institusi kuno yang begitu keras bertali temali dengan aturan-aturan dagang. (Bersambung)

















