Menu

Mode Gelap

Kolom

Malam Jumat Legi Diyakini Bukan Sekadar Malam Biasa

badge-check


					Ilustrasi suasana sedang melakukan ziarah kubur. (Copilot.AI) Perbesar

Ilustrasi suasana sedang melakukan ziarah kubur. (Copilot.AI)

Penulis: Agung Sedayu | Editor: Gandung Kardiyono

KREDONEWS.COM, JOMBANG – Malam Jumat Legi bagi sebagian masyarakat Jawa Timur dipandang sebagai malam keramat yang sarat makna spiritual.

Tradisi ziarah kubur pada malam ini bukan sekadar ritual, melainkan wujud penghormatan leluhur, doa keselamatan, dan pengikat solidaritas sosial.

Beberapa sumber menggambarkan Arti dan Makna Malam Jumat Legi antara lain,

Perpaduan Kalender Jawa dan Islam

Malam Jumat Legi lahir dari kombinasi penanggalan Islam (hari Jumat) yang dianggap suci, dengan pasaran Jawa “Legi” yang bermakna manis, tenang, dan penuh kehidupan.

Malam Keramat, bagi sebagian masyarakat Jawa Timur, malam ini diyakini memiliki kekuatan spiritual, sehingga banyak orang meningkatkan ibadah, doa, dan amalan.

Tradisi turun-temurun menganggap malam ini sebagai waktu tepat untuk memohon berkah, keselamatan, dan menolak musibah.

Tradisi Ziarah Kubur

Menghormati Leluhur, ziarah kubur dilakukan dengan membersihkan makam, menabur bunga, dan membaca doa atau tahlil.

Hal ini mencerminkan rasa hormat kepada orang tua dan leluhur.

Doa Keselamatan, bacaan tahlil, istighosah, atau yasinan dipercaya membawa ketenangan batin dan keselamatan bagi keluarga yang masih hidup.

Nilai Filosofis

Keseimbangan Spiritual, malam Jumat Legi menjadi simbol harmoni antara ajaran Islam dan tradisi Jawa, mencerminkan akulturasi budaya yang khas.

Ziarah kubur mengingatkan manusia akan kefanaan hidup, sehingga mendorong untuk memperbanyak amal baik.

Identitas Budaya Jawa Timur

Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Jawa Timur yang menjaga warisan leluhur.

Bisa disimpulkan bahwa, Malam Jumat Legi di Jawa Timur bukan sekadar malam biasa, melainkan momentum sakral untuk ziarah kubur, memperkuat ikatan sosial, dan menjaga harmoni antara tradisi Jawa dan ajaran Islam.

Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara penghormatan leluhur dan doa keselamatan bagi generasi berikutnya.**

 

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Cerdas Tanpa Etika atau Santun Tanpa Ilmu: Mana Lebih Berbahaya?

24 Februari 2026 - 19:20 WIB

KUHP Baru: Pemukulan karena Provokasi Bisa Hapus Pidana

11 Januari 2026 - 21:08 WIB

Jeritan di Hari Guru: Tiga Masalah Mendesak Guru Honorer Indonesia

25 November 2025 - 18:30 WIB

Mengingat Sejarah Perjuangan Mas TRIP: Malam Mencekam di Markas Belanda

21 November 2025 - 17:31 WIB

Pemerintah AS Berikan Jutaan Dolar Kepada Kaum Ikhwanul Muslimin Malaysia

17 November 2025 - 07:25 WIB

Hubungan Faksi Houthi – Sudan Berkembang, AS Perlu Waspada!

12 November 2025 - 20:33 WIB

Pelajaran dari Ayah Mas TRIP, Kekonyolan di Balik “Tenang Belanda Masih Jauh”

12 November 2025 - 18:12 WIB

Bagai Kanker, Nigeria Bantai Umat Kristen Secara Massal

10 November 2025 - 20:52 WIB

Memasukkan Suriah dalam Koalisi Global Anti-ISIS itu Langkah yang Salah

8 November 2025 - 17:17 WIB

Trending di Internasional