Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Kolom

Cerdas Tanpa Etika atau Santun Tanpa Ilmu: Mana Lebih Berbahaya?

badge-check


					Cerdas Tanpa Etika atau Santun Tanpa Ilmu: Mana Lebih Berbahaya? Perbesar

Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA- Istilah “adab di atas ilmu” kerap digaungkan dalam ruang pendidikan, pengajian, hingga forum motivasi. Pesannya jelas: etika dan sopan santun harus lebih utama daripada kecerdasan. Namun, apakah adab memang selalu lebih tinggi dari ilmu?

Perdebatan muncul karena keduanya memiliki fungsi berbeda. Adab membentuk sikap, sedangkan ilmu menjadi alat untuk menilai benar dan salah secara rasional. Dalam praktiknya, seseorang bisa saja santun dalam berbicara, tetapi keliru dalam isi pemikirannya.

Fenomena ini terlihat di era digital. Informasi kesehatan dapat disampaikan dengan bahasa lembut dan meyakinkan, namun tetap menyesatkan karena tidak berbasis pengetahuan yang sahih. Dampaknya tidak sekadar salah paham, tetapi bisa membahayakan.

Sebaliknya, dalam kondisi darurat medis, seorang dokter mungkin berbicara singkat dan tegas tanpa banyak basa-basi. Namun ketepatan analisis dan tindakannya justru menyelamatkan nyawa. Dalam situasi seperti ini, kompetensi ilmiah menjadi faktor yang lebih mendesak dibanding formalitas kesantunan.

Sejarah peradaban juga memperlihatkan peran besar ilmu. Ibnu Sina dikenang luas karena kontribusinya di bidang kedokteran, sementara Albert Einstein dihormati berkat teori relativitas yang mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta. Karya ilmiah mereka membentuk standar profesionalisme dan etika baru.

Di sisi lain, adab tanpa ilmu dapat membuat seseorang mudah dimanipulasi. Sikap hormat tanpa daya kritis berpotensi melahirkan kepatuhan buta, terutama dalam ranah ekonomi, politik, dan keagamaan.

Namun ilmu tanpa adab pun berisiko. Pengetahuan yang tidak dibingkai etika dapat melahirkan penyalahgunaan teknologi atau kecerdasan untuk kepentingan merugikan.

Karena itu, perdebatan ini sejatinya bukan soal mana yang lebih tinggi. Yang lebih mendasar adalah bagaimana keduanya berjalan beriringan. Ilmu dapat menjadi fondasi, sementara adab menjadi penuntun arah, agar kecerdasan tetap berpihak pada kemanusiaan.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ketika Rumah Kebudayaan Menjadi Arena Perebutan Panggung

11 Mei 2026 - 18:17 WIB

KUHP Baru: Pemukulan karena Provokasi Bisa Hapus Pidana

11 Januari 2026 - 21:08 WIB

Malam Jumat Legi Diyakini Bukan Sekadar Malam Biasa

8 Januari 2026 - 15:08 WIB

Jeritan di Hari Guru: Tiga Masalah Mendesak Guru Honorer Indonesia

25 November 2025 - 18:30 WIB

Mengingat Sejarah Perjuangan Mas TRIP: Malam Mencekam di Markas Belanda

21 November 2025 - 17:31 WIB

Pemerintah AS Berikan Jutaan Dolar Kepada Kaum Ikhwanul Muslimin Malaysia

17 November 2025 - 07:25 WIB

Hubungan Faksi Houthi – Sudan Berkembang, AS Perlu Waspada!

12 November 2025 - 20:33 WIB

Pelajaran dari Ayah Mas TRIP, Kekonyolan di Balik “Tenang Belanda Masih Jauh”

12 November 2025 - 18:12 WIB

Bagai Kanker, Nigeria Bantai Umat Kristen Secara Massal

10 November 2025 - 20:52 WIB

Trending di Internasional