Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Tumbuhan Langka Produsen Nikel Ada di Sorowako Sulteng

badge-check


					Tumbuhan penghasil nikel di Sorowako Sulteng Perbesar

Tumbuhan penghasil nikel di Sorowako Sulteng

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA- Indonesia tanah air yang kaya raya bukan isapan jempol. Hampir semua kebutuhan umat manusia ada termasuk mineral dan tumbuhannya. Kalau di luar negeri ada tanaman penghasil nikel, Indonesia juga punya.

Beberapa waktu lalu, peneliti sekaligus ahli biologi tanah dan dosen di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, Aiyen Tjoa, berhasil menemukan tumbuhan langka di salah satu kawasan pertambangan nikel terbesar di dunia, yaitu daerah Sorowako, Sulawesi Selatan.

Aiyen sengaja mencari tanaman yang bisa beradaptasi dengan baik di area lingkungan yang kaya nikel tersebut. Adapun tanaman yang dicari dan ditemukan oleh Aiyen itu dikenal dengan hiperakumulator nikel (nickel hyper-accumulators).

Disebut sebagai tanaman penambang nikel karena tanaman langka ini mampu menyerap dan menyimpan nikel dalam jumlah besar, setidaknya 1.000 mikrogram nikel per 1 gram daun kering.

Sebenarnya, kata Aiyen, tanaman jenis hiperakumulator itu ada banyak sekali jenisnya. Terutama jenis tanaman yang termasuk dalam penanggualan pencemaran fitoremediasi (pemanfaatan mikroorganisme), di antaranya adalah Phytoextraction, Phytostabilization, dan Phytodegradation.

Tanaman hiper-akumulator dapat menyerap dan menyimpan zat-zat kontaminan dari banyak jenis logam, bukan hanya nikel, melainkan bisa juga zinc, timbal, multi logam, dan lain sebagainya.

Bijih nikel

Aiyen mengatakan, tanaman hiperakumulator yang ditemukan di Sorowako adalah jenis tanaman yang memanfaatkan mekanisme fitoremediasi dengan menyerap logam dan mengikat logam nikel.

Logam nikel yang diikat oleh tanaman itu diserap dan disimpan disimpan di pucuk, daun, akar, atau getahnya.

Tanaman langka ini mengikat nikel di dalam dinding sel mereka atau menyimpannya di vakuola sebagai organel penyimpanan di dalam sel.

Setelah empat tahun eksplorasi, Aiyen akhirnya menemukan dua spesies hiper-akumulator nikel asli pada tahun 2008, yaitu Sarcotheca celebica dan Knema matanensis.

“Kedua tanaman itu contoh saja. Banyak hal yang dilakukan terkait tanaman (hiperakumulator nikel),” jelas Aiyen dalam pemberitaan Kompas.com (30/8/2020).

Dalam hasil kajian sementara oleh peneliti, didapatkan kedua tanaman asli ini dapat menyimpan antara 1.000 dan 5.000 mikrogram nikel per gram daun kering.

Dibandingkan dengan tanaman “penambang” nikel yang ditemukan di tempat lain, keduanya menunjukkan kekuatan hiperakumulasi yang cukup sederhana.

“Kami sedang mencari tanaman yang dapat mengakumulasi setidaknya 10.000 mikrogram (per gram),” kata Aiyen seperti dikutip BBC, Rabu (26/8/2020).

Pada ambang 10.000 mikrogram per gram itu, secara ekonomi membudidayakan tanaman untuk ekstraksi mineral atau phytomining menjadi layak secara ekonomi.

Aiyen berkata, tanaman hiper-akumulator nikel ini merupakan tanaman yang memiliki kemampuan menyerap logam yang cukup tinggi.

“Bisa digunakan untuk ekstraksi (penghasil Ore), ataupun ekstraksi kontaminasi pada tanah, udara, air yang tercemar, dan sebagainya,” jelas Aiyen.

Oleh karena itu, tanaman langka hiper-akumulator nikel ini dapat berpotensi besar dalam upaya menggantikan pengumpulan nikel dari pertambangan terbuka di lahan tanah menjadi pengumpulan nikel melalui perkebunan.

“Ya, memang itu tujuannya (tanaman hiper-akumulator nikel bisa dijadikan perkebunan nikel),” ujarnya.

Tindakan perkebunan tanaman hiper-akumulator nikel itu nantinya selain membersihkan tanah, tanaman kaya nikel ini juga dapat ditambang untuk menyediakan sumber alternatif logam, memungkinkan nikel dipanen tanpa merusak ekosistem.

Ahli ekofisiologi tumbuhan dari University of Queensland yang mempelajari hiper-akumulator nikel, Antony van der Ent, telah menghitung bahwa hiper-akumulator seperti Phyllantus balgoyii dapat menghasilkan sekitar 120 kg nikel per hektar setiap tahun.

Itu berarti nilai pasar sekitar 1.754 dollar AS atau sekitar Rp 25 juta-Rp 26 juta per hektar.

Tidak hanya itu, manfaat baiknya dari penambangan nikel melalui perkebunan tanaman hyper-akumulator nikel ini yaitu dianggap sebagai penghasil karbon netral.

“Semua karbon yang dilepaskan dari pembakaran akan ditangkap lagi oleh tanaman yang baru tumbuh dalam beberapa bulan,” jelas van der Ent kepada BBC.

Oleh sebab itu, phytomining ini memiliki keunggulan lingkungan yang cukup besar dibandingkan dengan bentuk penambangan tradisional.

Sebab, pertambangan tradisional dengan mengeruk batuan dari dalam tanah secara keseluruhan merupakan penghasil emisi karbon yang cukup besar. Pertambangan tradisional melepaskan setidaknya 10 persen dari emisi rumah kaca pada tahun 2007.

Selain menawarkan cara yang lebih ramah lingkungan untuk menambang nikel, tanaman langka ini juga dapat membantu merehabilitasi lahan yang telah ditambang.

Menurut Aiyen, hal ini perlu dilakukan mengingat sebagian perusahaan tambang di Indonesia mengabaikan persyaratan untuk menanami kembali situs yang tidak digunakan dengan vegetasi.

Ketika perusahaan itu melakukannya, justru yang digunakan adalah tanaman biasa dan bukanlah tanaman yang mampu menyerap dan menyimpan nikel ini.

Pasalnya, tanaman hiper-akumulator nikel ini dapat menjadi proses penghijauan yang tepat untuk rehabilitasi, meningkatkan kesehatan tanah, dan mengembalikan nutrisi utama yang dibutuhkan oleh tanaman normal.

“Akhirnya tanaman biasa dapat dibudidayakan di tanah ini setelah phytomining selesai,” jelas van der Ent.

Hal ini juga dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi perusahaan tambang karena residu nikel yang menumpuk di pucuk tanaman hiper-akumulator nikel ini juga bisa dipanen. Pertanyaannya kapan riset ini ditindaklanjuti?***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pemprov Jatim Gelar Pemutihan Pajak sampai Akhir November 2026

1 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Tiga Anggota DPRD di Jatim Ditangkap Polrestabes Surabaya karena Narkoba

30 September 2026 - 19:20 WIB

YLKI Dorong Label Peringatan Gula, Garam, Lemak , Usai Putusan MK

30 September 2026 - 18:59 WIB

Penerbangan Singapura Tersebar ke 17 Kota RI, Ekonomi Daerah Luar Jawa Panen Devisa

30 September 2026 - 18:38 WIB

Harga Cabai Rawit Merah Rp109.000 per Kg, Telur Ayam di Rp29.500 per Kg

29 September 2026 - 21:08 WIB

Urai Macet Ketapang-Gilimanuk, Jatim Revitalisasi Dermaga Bulusan Rp6 Miliar

29 September 2026 - 20:14 WIB

Paradoks Durian RI: Menang Berat Buah, Keok Nilai Rupiah

28 September 2026 - 19:08 WIB

Gerbang Ekspor Terbuka, Durian Indonesia Siap Menjadi Kekuatan Baru di Pasar China

28 September 2026 - 18:56 WIB

Subsidi LPG 3 Kg Tahun 2027 Dipangkas Jadi Rp 103,05 Triliun, Volume Penyaluran Turun

28 September 2026 - 18:44 WIB

Trending di Nasional