Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA—
Pagi itu, 1 Oktober 1965, langit Jakarta masih kelabu sebelum matahari sepenuhnya naik. Di kediaman Jalan Hasanudin Nomor 2, kawasan Menteng, suasana masih tenang.
Di sana tinggal Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Kepala Staf Angkatan Bersenjata RI — salah satu tokoh paling diperhitungkan di negeri ini. Bersamanya istri, Nyonya Johanna Sunarti, anak-anak, dan pengawal.
Di antara anak-anak itu, ada Ade Irma Suryani Nasution. Baru berusia 5 tahun, 7 bulan. Seperti anak-anak seusianya, ia ceria, dekat dengan semua orang, dan penuh tanya. Tak ada yang tahu, pagi itu akan menjadi hari terakhir masa kecilnya yang damai.
Sekitar pukul 04.30 dini hari, sekelompok pasukan berseragam tak dikenal mengepung kediaman itu. Tujuannya jelas: menangkap Jenderal AH Nasution.
Suara panggilan, bentakan, lalu tembakan memecah kesunyian. Dalam kegelapan dan kepanikan, Nasution berhasil meloloskan diri — melompati pagar tembok, berlindung di kedutaan tetangga — namun terpisah dari keluarga.
Saat keributan terjadi, Ade Irma berada di dalam rumah. Dalam kekacauan itu, peluru menembus tubuhnya. Ia jatuh terluka, darah mengalir. Tidak ada kebencian yang ia miliki, tidak ada musuh yang ia kenal — ia hanyalah seorang anak kecil yang berada di tempat yang keliru, di waktu yang paling keliru dalam sejarah bangsanya.
5 Hari Kesakitan
Ade Irma segera dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Selama lima hari berikutnya, sejak 1 Oktober hingga 6 Oktober 1965, ia berjuang mempertahankan nyawanya di bawah pengawasan dokter. Ibu tercintanya, Ibu Johanna Sunarti, tak pernah meninggalkan tempat tidur anaknya.
Luka tembakan yang menembus punggung hingga dada terbukti sangat berat. Meski tenaga medis telah berupaya sekuat tenaga, tubuh kecil itu tidak sanggup melawan. Di samping itu, pergolakan politik dan keamanan di ibu kota kian memanas — namun di ruang perawatan itu, yang terpenting hanyalah napas seorang anak kecil yang makin melemah.
Berbagai pihak menyampaikan keprihatinan, termasuk perwakilan negara sahabat yang menawarkan bantuan medis khusus. Namun kondisi fisik Ade Irma sudah terlalu kritis untuk dipindahkan ke mana pun. Semua upaya tertuju pada satu hal: menyelamatkan nyawa anak ini.
6 Oktober 1965
Pukul 09.30 pagi, 6 Oktober 1965, kabar yang diterima masih menyisakan harapan — Ade Irma masih bernapas. Namun tak lama kemudian, kondisi anak itu menurun drastis. Pada siang harinya, Ade Irma Suryani Nasution berpulang ke Rahmatullah. Ia berusia 5 tahun 7 bulan.
Tidak ada pidato perpisahan yang sempat ia ucapkan. Tidak ada cita-cita yang sempat ia wujudkan. Ia pergi dalam diam, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, bangsa, dan negara.
Pada 7 Oktober 1965, jenazah Ade Irma dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Bersama ribuan pahlawan yang telah gugur lebih dulu, nama kecilnya terukir di sana — satu nama di antara nama-nama besar, namun maknanya tak kalah dalam.
Pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepadanya, menjadikannya salah satu penerima termuda dalam sejarah penghormatan ini.
Tak Pernah Pudar
Enam puluh satu tahun telah berlalu sejak pagi yang kelam itu. Banyak peristiwa terjadi, banyak kisah ditulis dan ditulis ulang. Namun satu hal tak berubah: Ade Irma bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Ia adalah lambang paling menyedihkan dari betapa mahalnya harga ketidakstabilan bangsa ini.
Ia tidak bersalah. Ia tidak memihak faksi mana pun. Ia tidak memegang senjata. Ia hanyalah anak yang berada di rumahnya sendiri saat kekerasan datang mengetuk pintu. Kematiannya mengingatkan kita: korban konflik tidak hanya mereka yang memegang senjata, tetapi juga mereka yang paling tak berdaya di antara kita — anak-anak.
Kisah Ade Irma mengajak kita merenung: apakah perpecahan, amarah, dan pertikaian yang kerap terjadi di tengah bangsa ini layak mengorbankan masa depan anak-anak yang belum sempat mengenal dunia?
Bukan Pernusuhan
Hari ini, 1 Oktober 2026, kita kembali mengenang peristiwa yang menimpa Ade Irma Suryani Nasution. Bukan untuk menumbuhkan kebencian, bukan untuk menuding siapa yang salah.
Melainkan untuk mengingatkan diri sendiri: kedamaian adalah anugerah yang rapuh, dan setiap anak berhak tumbuh tanpa ketakutan di rumahnya sendiri.
Jenderal AH Nasution, ayahnya, kemudian tidak membalas duka dengan dendam pribadi. Ia tetap mengabdi pada negara dengan kepala dingin. Ibu Johanna Sunarti mendidik anak-anak lainnya dengan penuh kasih.
Keluarga ini mengajarkan: kematian yang tidak berdosa harus melahirkan keinginan untuk memperbaiki, bukan untuk membalas.
“Selamat jalan, Ade Irma Suryani Nasution. Bunga kecil yang gugur sebelum sempat mekar. Namamu tidak akan pudar, bukan karena dendam, melainkan karena kasih sayang yang tak pernah sempat kau bagikan kepada dunia.”**

















