Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDINEWS.COM— Teori konspirasi, seperti diperlihatkan sejarahwan Amerika Richard Hofstadter, terletak dalam akar rumput demokratis sekaligus masyarakat yang despotik.
Rakyat harus selalu mencari para penjahat, yang nyata dan tidak nyata, guna menjelaskan sakit mereka. Demokrasi berdasarkan hakikat terdalamnya, tidak mungkin dapat menindas.
Konspirasi mungkin berartibusi terhadap kelompok rahasia, para bankir atau pabrik-pabrik pembuat senjata, bangsa Yahudi atau kaum Mason, bidaah atau kaum anarkis.
Setelah kelompok diberi nama, maka diyakini bahwa ia berupaya mencari kekuasaan.
Konspirasi apapun yang diidentifikasi dapat meraih dukungan orang-orang yang melihat pemerintah sebagai konspirasi melawan rakyat. Namun, kelompok-kelompok penjahat harus membuktikan kekuasaan mereka dengan melakukan tindakan teror atau syuhadah jika berniat mendapatkan publisitas yang perlu bagi massa supaya mengikuti kepemimpinan mereka dalam kerusuhan mendatang.
Kaum Bolshevik misalnya sukses karena para pekerja Moskow dan St. Petersburg menerima mereka sebagai pemimpin revolusioner setelah eksploitasi mereka dalam Revolusi 1905. Jika kerusuhan itu berhasil, maka masyarakat rahasia revolusoner pun menjadi pemerintah.
Hanya kaum anarkis yang memaklumkan agar semua pemerintahan menjadi konspirasi rahasia melawan rakyat tetap konsisten berada dalam masyarakat rahasia revolusioner, sehingga tetap berada di luar kekuasaan.
Mereka tidak bisa, akibat deklarasi mereka, membunuh pemerintahan nasional apapun.
‘Pembunuhan tidak pernah mengubah sejarah dunia,” teriak Benyamin Disraeli lantang dalam upaya membungkam ketakutan umum atas kerusuhan setelah berbagai serangan kaum anarkis atas penguasa Eropa.
Dia ternyata nabi palsu, karena masyarakat-masyarakat rahasia Pan-Slavia dengan dukungan Rusia berupaya memperluas pengaruh Tsar lewat negara-negara Balkan.
Yang pertama dari semuanya, Omladina atau “Kaum muda” menyebar hingga Danube dan tidak dapat ditaklukan oleh bangsa Austria atau Serbia atau pun pihak berwewenang Turki. Pada 1868, Pangeran Michel dari Serbia dibunuh.
Tahun 1903, Raja Alexander dan Ratu Draga mengalami nasib yang sama-sama mengenaskan. Para pembunuh membentuk kelompok teroris baru, Narodna Odbrana atau Masyarakat Pertahanan Nasional (National Defence Society), yang segera digantikan oleh Unit Kematian (Union of Death) yang biasanya disebut dengan Tangan Hitam (Black Hand).
Upacara inisiasinya bernuansa kuburan. Lambang-lambangnya berupa tangan yang bersatu erat melingkupi tengkorak dan tulang belikat di samping sebuah pisau, bom dan seprangkat tempat racun.
Sumpahnya tidak bernuansa Kristen, tetapi ‘karena matahari yang menghangatkanku, karena bumi yang memberi aku makan, karena Allah dan karena darah nenek moyang saya, karena kemuliaan dan hidup saya.’
Pola sel Kaum Illuminati dan Omladina ditiru kembali yaitu setiap calon anggota baru harus membuat daftar lima anggota baru. Kelompok kecil ini dikenal sebagai ‘ tangan’ dan dipimpin oleh ‘ibu jari’ menjadi satu-satunya orang yang berhubungan dengan kelompok-kelompok lain.
Mereka semua disumpah di atas meja berbentuk salib yang ditutup kaim hitam. Di atasnya, diletakan lilin dan salib, belati dan pistol. Kematian menjadi jawaban langsung terhadap pengkhianatan dalam bentuk apapun.
Perang Dunia I pada tahun 1914 tercetus oleh penembakan Archduke Frans Ferdinand dan istrinya oleh teroris Gavrilio Princip di Sarajevo.
Bersama dua mahasiswa Bosnia lainnya, yang juga menderita TBC, dia memutuskan mengakhiri hidupnya yang menderita dengan memprovokasi munculnya sebuah konflik internasional.
Ketika diadili, Princip menjadi masalah fakta. ‘Saya pergi ke Beograd untuk menyelesaikan pendidikan saya,’ ujarnya.
‘Di sana saya sangat miskin dan hidup dari utang ke sana kemari. Kemudian, saya datang ke sini dan melakukan pembunuhan.’ Tetapi kemudian, ketika dia menjadi pahlawan nasional sebagai seorang mahasiswa revolusioner, dia berkoar-koar ingin disalikan dan dibakar hidup-hidup sebelum dia mati secara tidak jelas di sebuah penjara Austria.
‘Tubuh saya yang bernyala menjadi obor yang meringankan rakyat saya menuju langkah mereka menuju kemerdekaan.’
Tanpa pembunuhan kejam Duke Austria di Sarajevo, Perang Dunia I hanya bakal ditunda.
Rivalitas Jerman terhadap Perancis atas tanah dan melawan Inggeris atas laut, serta konlik berkelanjutan antara Austria dan Rusia di Jazirah Balkan mengancam terjadinya konflik besar tahun demi tahun.
Tidak satu negarapun tahu bahwa perjuangan itu bakal terhenti seiring dengan munculnya artileri modern, senapan mesin modern serta kawat pagar berduri.
Jika ketakutan Perang Dunia I dapat diramalkan sebelumnya, maka pasukan-pasukan yang dikirim untuk mati dalam pertempuran itu tidak akan berbaris menuju ke sana. Namun kemenangan lama masih mampu menipu dan mengkafani orang mati dari para perusak baru yang terbuat dari kawat dan baja. (Bersambung).

















