Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Tengger untuk Dunia, ALIT Gelar Sarasehan Pranata Waktu ‘Sinau Niteni Mangsa’

badge-check


					Tengger untuk Dunia Perbesar

Tengger untuk Dunia", yang diselenggarakan ALIT Indonesia melalui Sekretariat Wilayah Jember bersama Balai RW Institute di Oemah Sroedji & Space, Lumajang, Senin, 28 September 2026. Foto: ist

Penulis: Sri Nuryanto  |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, LUMAJANG — Pengetahuan masyarakat Tengger tentang alam, waktu, pertanian, dan tata kehidupan kembali menjadi ruang pembelajaran luas dalam Sarasehan “Penanggalan dan Pengetahuan Adat Tengger.

Dengan thena: Tengger untuk Dunia”, yang diselenggarakan ALIT Indonesia melalui Sekretariat Wilayah Jember bersama Balai RW Institute di Oemah Sroedji & Space, Lumajang, Senin, 28 September 2026.

Acara berlangsung pukul 14.30–17.30 WIB, forum ini diikuti 38 peserta dari kalangan pegiat sejarah, komunitas literasi, dan akademisi.

Tiga pembicara utama hadir:

  • Romo Eko Warnoto (Ketua Paruman Dukun Pandhita Tengger Brang Kulon),
  • Yuliati Umrah (Direktur Eksekutif ALIT Indonesia, peneliti masyarakat Tengger sejak 1995),
  • Mayfa Dei Anggraeni (Penata Layanan Kebudayaan DIDIKNASBUD Lumajang).

Sarasehan menegaskan: pengetahuan Tengger bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pengetahuan hidup yang masih dipraktikkan, diwariskan, dan menopang keberlangsungan ruang hidup masyarakat hingga kini.

Sistem penanggalan Tengger menjadi pembahasan sentral. Yuliati Umrah menjelaskan masyarakat menggunakan metode “niteni mangsa” — membaca tanda-tanda alam lewat pengamatan pergerakan bulan dan matahari.

Ini bukan sekadar hitungan waktu, melainkan panduan menentukan kapan menanam, memanen, dan memperlakukan lingkungan.

Kawasan Tengger sendiri berfungsi sebagai daerah penyangga air yang menghidupi sejumlah wilayah di Jawa Timur; pengetahuan pertanian warga turut menjaga kelestarian ekologi kawasan tersebut.

Romo Eko Warnoto memperdalam pembahasan dengan memperkenalkan konsep “nemu gelang” — rumus perhitungan mangsa yang khas dan tidak sama dengan kalender umum.

Sistem ini memerlukan penyesuaian berkala, sekitar setiap 120 tahun sekali, karena dalam satu tahun terjadi pergeseran waktu sekitar satu hari.

Ia menegaskan inti ajaran leluhur, “Tanamlah pohon dahulu, jika akan menebang.”

Prinsip ini mengandung tanggung jawab ekologis mendalam — pemanfaatan alam harus disertai upaya menjaga keberlanjutannya.

Sementara itu, Mayfa Dei Anggraeni memaparkan pendataan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di kawasan Tengger wilayah Lumajang, meliputi daerah Argosari, Senduro, dan Pakel.

Berbagai situs dan tinggalan budaya yang berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) sedang didata guna menjadi dasar perlindungan dan pemajuan kebudayaan.

Tema “Tengger untuk Dunia” dimaknai bukan melepaskan pengetahuan dari akarnya, melainkan mengajak dunia mengenali nilai universalnya: keseimbangan manusia–alam, kearifan iklim, dan keberlanjutan pangan.

Di tengah tekanan perubahan iklim dan menjauhnya generasi muda dari pengetahuan lokal, pengalaman Tengger mengingatkan: warisan budaya harus terus dipraktikkan, diwariskan, dan didialogkan lintas generasi, bukan sekadar tersimpan sebagai arsip.

Sarasehan menutup dengan tekad bersama: menjaga pengetahuan tetap hidup, agar apa yang diwariskan leluhur terus memberi arah bagi masa depan.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Presiden Prabowo Ganti Kapolri dari Jenderal Listyo Sigit kepada Komjen Suyudi Kepala BNN

1 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Tiga Anggota DPRD dari Gerindra Digrebek Pesta Narkoba, Kakak Beradik Asrilla dan Afif Reza Rimunda

1 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Ratusan Truk Tutup Jl. Jagir Wonokromo, GSJT Tuntut Barcode Dihapus Minta BPH Migas Hadir

1 Oktober 2026 - 07:36 WIB

Belum Ada Respon dari Pejabat, Ratusan Truk Ancam Menginap di Kantor Gubernur Pertamina Jatim

30 September 2026 - 19:10 WIB

Kompas Penunjuk Arah Selatan Buatan Tiongkok Tahun 241 Sebelum Masehi

30 September 2026 - 18:21 WIB

Tugas Padamkan Karhutla, Mobil Damkar Pangkep Terbalik Tiga Petugas Gugur Empat Lainnya Dirawat

30 September 2026 - 16:49 WIB

Aceh Barat Daya Diguncang Gempa Magnetudo 4.5, Tanpa Tsunami dan Kerusakan

30 September 2026 - 16:03 WIB

Surono Korban Virgo 8 Dimakamkan di Diwek Jombang, Tim SAR Gabungan Temukan 13 Hari Percarian

30 September 2026 - 15:39 WIB

Jalan Yani Surabaya Lumpuh Total: Sopir GSJT di Surabaya Tuntut Hapuskan Sistem Barcode Antrean Solar

30 September 2026 - 14:31 WIB

Trending di News