Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Staf Ahli Mensos Saifulah Jusuf Terlibat Korupsi Rp 200 M Bansos 2020

badge-check


					Mensos Saifulaj Jusuf langsung membebasatugaskan Edi Suharto, setelah KPK menetapa staf ahlinya itu sebagai salah satu terangka kasus korupsi dana bansos Rp 200 miliar saat Covid-19. Foto: istimewa Perbesar

Mensos Saifulaj Jusuf langsung membebasatugaskan Edi Suharto, setelah KPK menetapa staf ahlinya itu sebagai salah satu terangka kasus korupsi dana bansos Rp 200 miliar saat Covid-19. Foto: istimewa

Penulis: Yusran Hakim   |    Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA- KPK telah menetapkan Edi Suharto, staf ahli Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyaluran bantuan sosial (bansos) beras untuk Program Keluarga Harapan (PKH) tahun anggaran 2020. Kerugian negara akibat kasus ini mencapai Rp 200 miliar.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Edi Suharto sebagai tersangka dugaan korupsi penyaluran bantuan sosial (bansos) beras untuk Program Keluarga Harapan (PKH) tahun anggaran 2020 pada tanggal 2 Oktober 2025.

Modus korupsi dana bansos Program Keluarga Harapan (PKH) 2020 yang dilakukan melibatkan penurunan kualitas bantuan sosial, manipulasi data distribusi, dan penggelembungan anggaran.

Salah satu modus yang terungkap adalah pembuatan konsorsium palsu dalam proses distribusi bansos beras, dimana konsorsium tersebut tidak benar-benar mendistribusikan beras, tetapi seolah-olah melakukan distribusi secara formal sebagai dalih untuk menyalurkan dana. Hal ini menyebabkan beras bansos tidak sampai dengan tepat kepada keluarga penerima manfaat (KPM).

Penetapan ini didasarkan pada bukti yang cukup yang ditemukan KPK dalam pengembangan perkara tersebut. Selain Edi Suharto, KPK juga menetapkan empat tersangka lain, terdiri dari tiga individu dan dua korporasi, dalam kasus ini.

Edi Suharto ditetapkan sebagai salah satu dari lima tersangka, terdiri dari tiga orang dan dua korporasi. Ia dinyatakan tersangka berdasarkan bukti yang cukup yang ditemukan KPK saat mengembangkan perkara ini.

Saat ini, Edi Suharto menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Perubahan dan Dinamika Sosial. Namun, sebelumnya pada tahun 2020, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial di Kementerian Sosial.

Dibebastugaskan

Edi Suharto ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi bansos saat masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, dan pengacara Edi menyatakan bahwa dia hanya melaksanakan perintah jabatan dari mantan Menteri Sosial Juliari Batubara. Meskipun telah menjadi tersangka, Edi Suharto memastikan masih menjalankan tugasnya sebagai Staf Ahli di Kemensos.

Sebaliknya, Mensos Saifullah Yusuf telah membebastugaskan Edi Suharto dari jabatannya agar Edi bisa fokus menghadapi proses hukum, tanggal 3 Oktober 2025.

KPK menegaskan penetapan tersangka terhadap Edi berdasarkan prosedur dan bukti yang cukup, serta akan membuka semua bukti lengkap di persidangan nanti. Penetapan ini telah memenuhi aspek formil dan ditolak gugatan praperadilan dari tersangka lain dalam kasus yang sama.

Modus korupsi yang dilakukan oleh Edi Suharto dalam kasus bansos beras untuk Program Keluarga Harapan (PKH) tahun 2020 diduga terkait dengan manipulasi dan pengalihan dana bansos.

Pada saat itu, Edi Suharto yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos mendapat mandat dari Menteri Sosial Juliari Batubara untuk mengawal program bantuan tersebut, yang dikaitkan dengan pandemi COVID-19. Korupsi ini berpotensi merugikan negara hingga sekitar Rp 200 miliar.

Lebih spesifik, korupsi ini melibatkan penyaluran bantuan sosial beras yang tidak tepat sasaran dan ada indikasi penggelembungan anggaran serta dugaan kolusi dengan pihak-pihak tertentu, termasuk korporasi.

Edi Suharto juga diduga menjalankan perintah dari mantan Menteri Sosial Juliari Batubara dalam pelaksanaan program ini, yang dalam prosesnya terjadi penyimpangan dana bansos dan penyelewengan dalam distribusinya.

KPK telah menetapkan lima tersangka, terdiri dari individu dan korporasi, dalam kasus ini berdasarkan bukti-bukti yang kuat. **

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Tidak Ada Saksi, Posko DPP GRIB Milik Hercules Tibatiba Terbakar!

31 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Diduga Tak Kuat Tahan Beban Jembatan Gantung Anjlok, Saat Dilewati Bupati Pangandaran Bersama 50 Orang

31 Agustus 2026 - 11:56 WIB

Terpilih Jadi Ketum PB NU, KH Abdul Halim Mahfudz Tanda Tangan Fakta Integritas

31 Agustus 2026 - 10:49 WIB

KH Nurul Huda Djazuli Pimpin AHWA: Putuskan KH Miftachul Akhyar Kembali Duduki Rais Aam PB NU 2026-2031

31 Agustus 2026 - 00:23 WIB

Bahar Smith Tantang Duel Hercules: Memperkusut Kasus Hukum Tewasnya Bambang Setiawan

30 Agustus 2026 - 20:58 WIB

Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik

30 Agustus 2026 - 20:00 WIB

Cuaca Panas di Sidoarjo Belum Reda, Musim Hujan Datang Akhir Oktober

30 Agustus 2026 - 19:31 WIB

Elon Musk: Blindsight Implant bagi Penyandang Kebutaan Bisa Melihat

30 Agustus 2026 - 18:44 WIB

Travel ITS Group Telantarkan 196 Jamaah Umrah di Juanda dan Jombang

30 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Trending di News