Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Leukemia Paling Banyak Diderita Anak Indonesia, Penyebabnya Gak Jelas

badge-check


					Umumnya penderita ditemukan dalam stadium lanjut/Ist Perbesar

Umumnya penderita ditemukan dalam stadium lanjut/Ist

Penulis: Jacobus Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Kanker darah atau leukemia merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang anak-anak. Leukemia terjadi ketika sumsum tulang belakang menghasilkan terlalu banyak sel darah putih abnormal dan mencegah produksi sel darah yang sehat.

Di Indonesia penyakit ini menempati peringkat pertama sebagai jenis kanker yang paling banyak menyerang anak, bahkan mencapai lebih dari separuh dari total kasus kanker anak.

Namun, yang menjadi pertanyaan besar, mengapa leukemia lebih dominan dibanding jenis kanker lainnya?

Dokter spesialis anak sekaligus Ketua Unit Kerja Koordinasi Hematologi-Onkologi IDAI, Eddy Supriyadi, mengungkapkan, hingga saat ini belum ada jawaban pasti mengenai penyebab tingginya kasus leukemia pada anak.

“Penyebabnya jelas tidak tahu, tidak bisa dipastikan penyebabnya,” kata Eddy saat temu media virtual, Jakarta, Rabu (05/02/2025).

Eddy menjelaskan ada banyak teori yang mencoba mengungkap penyebab leukemia pada anak, mulai dari dugaan paparan radiasi hingga pengaruh pestisida.

“Ada teori apakah karena radiasi, apakah karena chemical (bahan kimia), ada teori pestisida, bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa risiko anak terkena kanker lebih tinggi jika tidak mendapat ASI,” ujar Eddy.

Meski berbagai teori telah dikemukakan, Eddy menegaskan semua itu masih sebatas hipotesis. Kembali ke pernyataan awal, penyebab pasti dari penyakit tersebut masih belum diketahu secara pasti.

“Kalau ditanya kenapa? Saya tidak bisa menjawabnya. Kenapa paling banyak? Saya juga tidak bisa menjawabnya. Di seluruh dunia polanya seperti itu,” tambahnya.

Menurutnya, kanker pada anak secara umum terbagi menjadi dua kategori besar, yakni kanker tumor padat dan kanker darah (leukemia). Dari total kasus kanker anak, 55 persen di antaranya merupakan leukemia, sementara sisanya yang tergolong kanker tumor padat hanya mencapai 45 persen.

“Saya pernah menulis insidensi ini sekitar 28 orang per 1 juta penduduk itu pada 2011. Namun, ada penelitian 2-3 tahun lalu insidensi sekitar 40-an orang per 1 juta penduduk” paparnya.

Berdasarkan temuannya, kanker darah seperti leukimia seringkali tidak pernah bisa terdeteksi di awal dan terjadi begitu saja saat anak sudah memasuki gejala ke stadium lanjut.

Hal ini karena sebelumnya anak terlihat tidak ada tanda gejala fisik yang aneh sehingga orang tua tidak terlalu memperhatikan perubahan fisik anak.

“Kalau di kita itu ya pada anak-anak enggak tahu ya, karena sebabnya apa, biasanya kita mendapatkan pada late stage, Jadi kalau ada stadium, misalnya stadium kita bagi 4, kita pasti hampir pasti atau kebanyakan, di stadium 3 dan 4,” pungkasnya.

Kendati begitu menurut beberapa penelitian ada faktor risikonya:

– Faktor genetik: Anak-anak dengan kelainan genetik seperti Down syndrome memiliki risiko lebih tinggi terkena leukemia.

– Radiasi: Paparan radiasi tingkat tinggi, seperti sinar-X atau radioterapi, dapat meningkatkan risiko leukemia.

– Zat kimia: Paparan zat kimia tertentu, seperti benzena atau formaldehida, juga diduga dapat meningkatkan risiko leukemia.

– Infeksi: Beberapa jenis infeksi virus, seperti virus Epstein-Barr, diduga terkait dengan peningkatan risiko leukemia.

– Sistem kekebalan tubuh: Anak-anak dengan gangguan sistem kekebalan tubuh mungkin lebih rentan terhadap leukemia.

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pria Bersenjata Laras Panjang Merampok Toko Emas, Gondol Perhiasan Senilai Rp350 Juta

18 Juli 2026 - 22:36 WIB

Semangat Ikan Sepat Ikan Lele, Faturrohman: Makin Cepat Tidak Betele-tele untuk Musker Apindo Jombang

18 Juli 2026 - 15:34 WIB

Tuntut Keadilan, 50 Perwakilan Karyawan PT SGS Unjuk Rasa di Disnaker Jombang

17 Juli 2026 - 21:12 WIB

Wibisono: Patut Diduga Langgar Tiga UU Sekaligus, Uang Anggota Rp124 M Dibelikan Tanah oleh Pengurus KPRI Jombang

17 Juli 2026 - 15:05 WIB

Kosmak Ungkap Dugaan Gurita Bisnis Besar yang Libatkan Nama Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 - 11:46 WIB

Kajian Kadin-TVRI: Piala Dunia Punya Efek Ekonomi Langsung Rp5 Triliun bagi RI

17 Juli 2026 - 10:17 WIB

300 Anggota Resah: Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong, Punya Beban Rp124 Miliar

17 Juli 2026 - 05:20 WIB

Menhub Targetkan Proyek KRL Surabaya-Sidoarjo Rampung 2029

16 Juli 2026 - 20:03 WIB

Jaksa Tuntut Hukuman 12 Tahun Penjara, Kasus Pelecehan Siswa di SMP Jombang

16 Juli 2026 - 14:01 WIB

Trending di News