Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

God’s Eyes View Proyek Nebius: Mengubah Kekuasaan Teknologi dari Pusat Komando ke Seluruh Umat Manusia!

badge-check


					Pertumbjhan teknologi termasul AI tidak bisa hanya dikuasi oleh satu negara saja di dunia. Kini Nebius membangun pusat data AI untuk mengimbangi AI Amerika. Foto: ist Perbesar

Pertumbjhan teknologi termasul AI tidak bisa hanya dikuasi oleh satu negara saja di dunia. Kini Nebius membangun pusat data AI untuk mengimbangi AI Amerika. Foto: ist

Tulisan: Jacobus E. Lato   |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, EROPA—  Proyek God’s Eye View & Nebius — gelombang baru keterbukaan data yang mengubah peta kekuasaan teknologi dunia

“Dan datanya nyata. Seseorang pada dasarnya membuka sumber alat simulasi satelit mata-mata untuk peramban Anda.”

Kalimat itu menyebar luas di media sosial disertai gambar bola dunia 3D yang menampilkan ribuan titik bergerak di atas samudra dan benua — satelit di orbit, pesawat di langit, kapal di laut, hingga kamera lalu lintas di jalan raya.

Namanya God’s Eye View — “Pandangan Mata Tuhan”. Namanya terdengar seperti alat intelijen rahasia film layar lebar.

Namun kenyataannya jauh lebih luar biasa: ini bukan milik negara, bukan milik badan keamanan, dan bukan rahasia. Ia dibuka untuk semua orang, secara bebas.

Siapa Pembuatnya?

Banyak yang mengira ini karya NVIDIA — raksasa pembuat cip grafis. Itu keliru. Pembuat aslinya adalah Nebius, perusahaan infrastruktur komputasi awan berbasis di Eropa yang berfokus pada kecerdasan buatan.

Bukan perusahaan konsumen yang terkenal ke mana-mana — Nebius bergerak di balik layar, menyediakan daya hitung raksasa yang dibutuhkan untuk melatih model AI terbesar di dunia.

Dipimpin oleh CEO Maxim Kiselev dan tim insinyur berpengalaman, Nebius hadir sebagai salah satu alternatif paling serius di luar monopoli teknologi Amerika Serikat.

Bukan milik satu negara, bukan dimiliki raksasa media sosial — ia lahir dari kesadaran bahwa kekuatan komputasi AI tidak boleh dimonopoli segelintir pihak saja.

“Kami membuktikan: alat yang dulu hanya bisa diakses dari pusat komando intelijen negara — kini bisa dijalankan siapa saja dari peramban di rumah.”

APA yang Terlihat dan Tidak Terlihat

God’s Eye View menyatukan puluhan sumber data publik ke dalam satu bola dunia 3D yang dapat diputar dan diperbesar sesuka hati:

Satelit di orbit — data orbit terbuka dari lembaga ilmiah internasional

Pesawat terbang sipil & militer — dari jaringan pemantauan transponder terbuka dunia

Kapal laut & rute pelayaran — data AIS yang wajib dikirimkan setiap kapal

Kamera lalu lintas jalan raya — hanya kamera resmi yang sudah dibuka pemerintah

Pencarian dengan bahasa alami — AI membantu menemukan lokasi tanpa harus paham kode koordinat

Tidak ada akses ke kamera pribadi, tidak ada pengawasan perorangan, tidak ada data rahasia negara.

Semua yang ditampilkan adalah data yang sudah terbuka untuk umum — hanya saja selama ini tersebar di puluhan situs berbeda, sehingga tidak ada yang menyadarinya.

Kini semuanya ada di satu layar — dan kesan yang muncul memang seolah “semua terlihat”. Itulah sebabnya banyak yang menyebutnya “Mata Tuhan”.

Kekuasaan Pindah Tangan

Kehadiran God’s Eye View bukan sekadar alat baru — ia adalah simbol perubahan zaman yang sedang berlangsung dengan sangat cepat.

Bersama-sama dengan dua proyek lain yang muncul belakangan — World Monitor yang memantau perang, bencana, dan pasar dunia; serta  abstract.justice  yang membuka peta jalur kabel internet bawah laut — ketiganya membentuk satu gelombang besar:

Dari sedikit lembaga yang tahu segalanya ke semua orang berhak tahu apa yang terjadi di dunia.

Selama ini, jika ada pesawat terbang mencurigakan, kapal berubah arah secara tiba-tiba, atau satelit baru diluncurkan — hanya badan intelijen dan perusahaan besar yang bisa mengetahuinya.

Kini wartawan, peneliti, LSM, bahkan warga biasa bisa melihat hal yang sama pada saat yang bersamaan. Keterlambatan informasi yang dimanfaatkan untuk kekuasaan, perlahan hilang.

Kebaikan yang Terbuka

* Transparansi militer — pergerakan pasukan dan pesawat tak bisa lagi disembunyikan begitu saja

* Bantuan bencana lebih cepat — lokasi dan jangkauan bisa dipetakan sebelum tim tiba di lokasi

* Pendidikan tanpa batas — pelajar dan peneliti negara berkembang mendapat akses data yang setara dengan negara maju

* Pengawasan bersama — korporasi dan pemerintah pun harus lebih berhati-hati, karena tahu pergerakannya bisa dilihat publik

Risiko Bersama

  • Data terbuka juga terbuka bagi pihak yang berniat jahat — tahu pola pergerakan, tahu titik lemah infrastruktur
  • Batasan privasi makin tipis — jika digabung dengan data lain, bisa melacak pergerakan perorangan
  • Belum ada aturan internasional yang mengatur batasan penggunaan alat semacam ini
  • Bisa menimbulkan kesalahpahaman: “semua terlihat” padahal datanya masih terbatas — namun kesannya seolah tak ada lagi yang tersembunyi

Arah Gerakan

Nebius sebagai pembuat menyatakan visi yang jauh lebih besar daripada sekadar peta 3D: membangun fondasi komputasi AI yang independen, transparan, dan dapat diakses tanpa izin dari pusat kekuasaan mana pun. God’s Eye View hanyalah salah satu jendela yang dibukakan.

Ke depannya, semakin banyak data yang akan disatukan, semakin mudah diakses, dan semakin canggih kemampuannya.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah data ini boleh dilihat rakyat?” — karena jawabannya sudah ada di layar: SUDAH DILIHAT.

Pertanyaan sesungguhnya yang harus dijawab dunia sekarang adalah: siapa yang menetapkan batasannya? siapa yang mengawasi pengawas? dan bagaimana agar kemajuan ini tidak berbalik mencelakai rakyat sendiri?

Makin Terbuka

“Mata Tuhan” yang kini terbuka itu bukan ancaman — ia adalah ujian kematangan manusia.

Alat pemantauan dunia sudah ada sejak lama — hanya saja selama ini dipegang oleh segelintir tangan. Kini ia berpindah ke tangan semua orang.

Apakah kita siap memegangnya dengan bijak, atau justru kita yang pertama kali terjebak di dalamnya? Itulah pertanyaan yang tidak bisa dijawab teknologi — hanya bisa dijawab oleh kita semua, bersama-sama.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Parlemen Protes Keras, PM Albania Angkat AI Diela Jadi Menteri untuk Cegah Korupsi

7 September 2026 - 15:33 WIB

Direktur RSKKA Dr Agus Harianto Dorong Agar Iluni Memiliki RS Kapal demi NKRI

7 September 2026 - 11:38 WIB

Gerakan AI Global: Kembalikan Kecerdasan dan Kekuasaan kepada Rakyat!

7 September 2026 - 10:36 WIB

Efek Erupsi Anak Krakatau: Gas SO₂ Terdeteksi di Jateng, Bandara Soeta Tutup 3 Jam

6 September 2026 - 21:09 WIB

Boro Pimpin Blokade Jalur Material ke PSN IPIP Kolaka, Sebut TNI Bajingan!

6 September 2026 - 18:14 WIB

Gunung Anak Krakatau Meletus Lagi: Semburkan Lava Pijar 15 Km

5 September 2026 - 22:22 WIB

Diseminasi 673 Vegetasi dalam Pranata Mangsa Suku Tengger di Candi Kidal Tumpang

5 September 2026 - 20:31 WIB

Menelisik Akar Terorisme (53): Kaum Thug Menganut Dewi Kali

5 September 2026 - 19:58 WIB

Mozza Setahun Hilang Jasadnya Ditanam di Lereng Tol, Pelaku Mahendra Anggara Ditangkap di Blora

5 September 2026 - 19:01 WIB

Trending di News