Penulis: Mayang K. Mahardhika | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, BANDUNG– Saat peringatan hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2026, gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali melontarkan pernyataan keras dan menohok terkait fenomena kerusakan lingkungan yang belakangan ini ramai dibahas publik lewat film dokumenter berjudul Pesta Babi.
Dalam konferensi pers di Gedung Pakuan, Bandung, saat itu, Kang Dedi—sapaan akrabnya—menegaskan satu fakta penting yang kerap terbalik pemahamannya: bahwa istilah dan gagasan mengenai pola eksploitasi alam yang serakah itu sudah ia sampaikan secara resmi sejak empat bulan lalu, jauh sebelum film dokumenter tersebut beredar luas.
“Orang baru mengenal istilah ‘Pesta Babi’ dan heboh membahasnya setelah menonton film karya Dandhy Dwi Laksono yang rilis 12 April lalu. Padahal, saya sudah menyampaikan hal yang sama persis, lengkap dengan data dan fakta di lapangan, tepatnya pada 2 Desember 2025 juga di tempat ini, Gedung Pakuan. Jadi bukan saya mengutip filmnya, justru sebaliknya: istilah dan makna ‘Pesta Babi’ itu sudah saya kemukakan duluan, dan ternyata polanya sama persis ditemukan di mana-mana, termasuk di tanah kelahiran kita sendiri,” tegas Dedi, membuka penjelasannya dengan urutan waktu yang jelas dan tegas.
Pada pidato bersejarah tanggal 2 Desember tahun lalu itu, Dedi Mulyadi telah merilis data resmi dan mengejutkan: “Setiap tahunnya Jawa Barat kehilangan 1.200 hektar kawasan hutan dan ruang terbuka hijau. Dihitung sepuluh tahun terakhir, sudah hilang lebih dari 12.000 hektar lahan hijau.” Di situlah untuk pertama kalinya ia menyamakan kondisi di Jawa Barat dengan apa yang sering didengar terjadi di Papua, lalu memberi nama pola itu sebagai “Pesta Babi”: perilaku mengambil kekayaan alam secara habis-habisan, serakah, hanya menguntungkan segelintir pihak, lalu meninggalkan tanah tandus, masyarakat miskin, dan kerusakan yang sulit diperbaiki.
“Saat itu saya sudah katakan: Banyak orang mengira, atau sengaja menganggap, bahwa apa yang disebut ‘Pesta Babi’ itu hanya ada di Papua. Di mana hutan dibabat habis, tanah dikuras sampai ke dasar, kekayaan alam diangkut keluar sampai tak tersisa, lalu meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Saya tegaskan saat itu: itu keliru besar. Pola yang sama, perilaku yang sama, keserakahan yang sama, sedang dan sudah lama terjadi juga di sini, di Jawa Barat. Dan hari ini, saat istilah itu jadi perbincangan nasional, saya tegaskan kembali: data saya tetap sama, kenyataannya tetap sama, dan bahayanya makin nyata,” ujarnya lagi, mengulang penekanan yang sama persis dengan pidato awalnya.
Menurut Dedi, konsep pembangunan yang sering diusung bertuliskan “kemakmuran bersama, kesejahteraan rakyat”, namun pada kenyataannya apa yang terjadi justru sebaliknya. Di balik bendera pembangunan dan investasi itu, tersembunyi tindakan eksploitasi alam yang sangat rakus, yang pada hakikatnya adalah perbuatan menyakiti, melukai, dan merampas hak hidup dari Ibu Pertiwi sendiri.
“Mereka berteriak kemajuan, mereka bicara investasi, mereka bilang demi rakyat. Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka bolongi gunung, mereka keringkan mata air, mereka uruk sungai, mereka gundulkan hutan yang menjadi paru-paru kita. Mereka ambil apa saja yang berharga di perut bumi ini, bawa pergi ke mana-mana, lalu yang tertinggal hanya lubang-lubang menganga, tanah longsor, banjir yang datang setiap saat, dan kemiskinan yang melekat lama pada masyarakat sekitarnya. Ini namanya bukan membangun, ini namanya merampok dengan dalih sah. Ini namanya menyakiti Ibu Pertiwi sampai ke tulang-tulangnya. Ini inti dari apa yang saya sebut ‘Pesta Babi’ sejak Desember lalu,” paparnya panjang lebar.
Kang Dedi mengingatkan kembali pada kearifan lokal dan hukum alam yang tidak pernah salah, tidak pernah berubah, dan tidak butuh tafsir siapa pun. Ia menegaskan, alam memiliki aturannya sendiri. Jika manusia memperlakukan alam dengan hormat, merawatnya, mengambil secukupnya dan mengelola dengan bijak, maka alam akan memberi berkah yang melimpah, abadi, dan turun-temurun. Namun sebaliknya, jika alam diperlakukan sebagai objek rampasan, diambil habis tanpa rasa bersalah, maka hukum balasan alam itu pasti datang, dan itu bukan lagi sekadar bencana biasa, melainkan menjadi kutukan bagi pelakunya maupun bagi seluruh bangsa ini.
“Jangan pernah berpikir kita bisa menang dari alam. Jangan pernah berpikir kekayaan yang didapat dari merusak bumi itu akan membawa kebahagiaan atau ketenangan. Saya katakan ini dengan tegas, berdasarkan data Desember lalu dan kenyataan hari ini: Setiap kekayaan yang didapat dengan cara menyakiti alam, itu tidak membawa berkah. Itu adalah uang kutukan, itu adalah kemewahan sesaat yang dibayar dengan penderitaan panjang. Daerah yang dieksploitasi habis-habisan, lihatlah nanti: justru di situlah rakyatnya makin miskin, makin sulit air, makin sering bencana, makin terbelakang. Keuntungan besar hanya dinikmati segelintir orang yang tinggal jauh dari sana, sementara sisa kehancurannya ditanggung oleh kita semua, anak cucu kita kelak,” tegasnya.
Ia mencontohkan kondisi di Jawa Barat sendiri, tanah yang sejak dulu dikenal sangat subur, diberkahi alam yang indah, dan diwarisi budaya Pamali atau ajaran Sunda: “Kulantaran lapisan taneuhna geus subur, teu kudu digalian taneuhna ujang” — artinya tanah kita sudah subur alami, tak perlu digali dalam-dalam atau dibolongi gunungnya untuk dapat rezeki. Namun kini, budaya luhur itu kalah oleh ambisi besar. Dalam 5 bulan terakhir sejak ia sampaikan data itu, kerusakan masih terus berjalan.
“Di mana pun itu, entah di Papua, di Kalimantan, di Sumatera, atau di sini Jawa Barat, polanya sama persis: ambil habis, lari, tinggalkan kehancuran.
Itulah definisi lengkap ‘Pesta Babi’ yang saya sampaikan duluan, yang kemudian diangkat pula dalam dokumenter. Intinya satu: apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.
Kalau kita tanam kerusakan, kita tuai bencana. Kalau kita tanam keserakahan, kita tuai kutukan. Mari berhenti merampas, mari mulai merawat.
Karena satu-satunya warisan abadi yang bisa kita berikan ke anak cucu bukanlah uang hasil rampasan, tapi alam yang indah, lestari, dan utuh,” tutup Dedi Mulyadi dalam pidato terbarunya hari ini, mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menjadi penjaga bumi pertiwi.**







