Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Pemerintah Kaji CNG dan DME untuk Kurangi Impor LPG

badge-check


					Men ESDM Bahlil Perbesar

Men ESDM Bahlil

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Pemerintah terus menyiapkan langkah strategis untuk menekan ketergantungan impor liquefied petroleum gas (LPG) melalui pengembangan energi alternatif, antara lain compressed natural gas (CNG) dan dimethyl ether (DME).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kedua opsi tersebut tengah dikaji sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global.

“Pemerintah sedang mencari formulasi terbaik untuk mengurangi impor LPG, salah satunya melalui pengembangan DME berbasis batu bara berkalori rendah dan pemanfaatan CNG,” ujar Bahlil usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, CNG merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi, sekitar 250 hingga 400 bar, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi alternatif.

“Kalau CNG itu dari gas, tapi ditekan sampai 250 sampai 400 bar sehingga pemakaiannya bisa optimal,” katanya.

Menurut Bahlil, pemanfaatan CNG sebenarnya telah diterapkan di dalam negeri, antara lain untuk kebutuhan hotel, restoran, hingga stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Selain itu, bahan baku CNG sepenuhnya berasal dari sumber domestik.

“Ini yang coba kita dorong sebagai alternatif, karena di era geopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk bertahan,” ujarnya.

Sementara itu, pengembangan DME sebagai substitusi LPG masih berada pada tahap awal. “Untuk DME baru pada tahap groundbreaking,” tambahnya.

Bahlil menegaskan, berbagai opsi yang saat ini dikaji belum menjadi keputusan final pemerintah. Namun, beberapa di antaranya sudah mulai diterapkan dalam skala terbatas.

Pemerintah juga membuka peluang keterlibatan perguruan tinggi dalam riset pengembangan energi alternatif, meski fokus utama tetap pada teknologi yang telah tersedia dan teruji.

“Kalau sudah ada, sudah bagus, dan sudah teruji, tinggal kita kembangkan,” katanya.

Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan kebutuhan LPG nasional diproyeksikan meningkat hingga sekitar 10 juta ton per tahun pada 2027. Kenaikan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga serta tambahan kebutuhan dari sektor industri.

Saat ini, total konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 1,6 juta ton, sehingga ketergantungan terhadap impor masih cukup tinggi.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS: Cabai Rawit Tembus Lebih dari Rp100 ribu Per Kilogram

24 September 2026 - 19:59 WIB

Pengusaha Kapal Akui Tak Semua Operator Berani Angkut Kendaraan Listrik

24 September 2026 - 19:48 WIB

Sekolah Negeri Bakal Digratiskan, Mendikdasmen: Dimulai dari TK hingga Kuliah

23 September 2026 - 20:43 WIB

Warga RI Usia 17 Tahun Bakal Dapat Rp 50 Ribu, Pemerintah Siapkan Rp 3,8 T

23 September 2026 - 19:59 WIB

Pastikan Sesuai Spek, LSM Seven Gab Bersama Dinas PU Sidoarjo Pantau Proyek Jalan Bluru

23 September 2026 - 10:27 WIB

PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim Imbas Pasokan Gas Terbatas

22 September 2026 - 20:36 WIB

Pemprov Jatim Amankan 411 Aset Idle dari Ancaman Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:07 WIB

Arahan Prabowo, Bahlil Godok Strategi Konversi Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:12 WIB

Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara

21 September 2026 - 19:02 WIB

Trending di Nasional