Menu

Mode Gelap

Headline

Segenting Itukah, Purbaya: Pilih Utang Naik 40 Persen atau Kembali ke Krisis 1998

badge-check


					Menteri Keuangan,  Purbaya Yudhi Sadewa . Foto: kredonews.com/dok Perbesar

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa . Foto: kredonews.com/dok

Penulis: Yusran Hakim  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kenaikan rasio utang pemerintah terhadap PDB hingga 40.46% atau Rp9.637.90 triliun per akhir 2025 merupakan langkah darurat untuk menghindari krisis ekonomi seperti tahun 1998.

Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tentang pilihan antara utang naik hingga 40% PDB atau kembali ke Krisis 1998 disampaikan pada Jumat, 13 Februari 2026, di Tribrata Darmawangsa, Jakarta.

Ia  menyampaikan data resmi DJPPR Kemenkeu tentang posisi utang Rp9.637,90 triliun per akhir Desember 2025, dengan defisit APBN 2,92% PDB.

Ia menekankan pilihannya dengan jelas: membiarkan ekonomi ambruk seperti Krisis Moneter 1998 atau menambah utang secukupnya demi menjaga stabilitas, dengan rencana perhitungan setelahnya.

Harganya Rp229,26 per bulan pada September 2025, yang berarti saldo laporan keuangan Agustus-September 2025 signifikan. Defisit APBN 2025 tercatat 2,92% PDB, dengan komposisi utang didominasi SBN (87,02%) dan pinjaman (12,98%). Angka ini masih jauh di bawah batas aman 60% PDB sesuai regulasi.

Purbaya menyebut penambahan utang sebagai “pilihan yang terpaksa” untuk ekspansi ekonomi dan pemulihan, bukan pemborosan permanen. PDB 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun, menjadikan rasio utang melonjak meski melonjak. Komitmen fiskalnya akan ditata ulang pasca krisis.

Ia menjelaskan kenaikan rasio utang 40.46% sebagai langkah darurat akibat perlambatan ekonomi signifikan tahun 2025 yang memicu pembekuan besar. Acara tersebut terkait rilis data utang pemerintah dan diskusi stabilitas fiskal pascakrisis.

Solusi Utama

Ia berencana mengurangi penarikan utang baru pada tahun 2026 dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi cepat untuk meningkatkan penerimaan negara, khususnya pajak. Strategi countercyclical diterapkan: tekan utang saat ekonomi kuat dan tarik hanya saat stimulus dibutuhkan.

Purbaya menargetkan defisit APBN 2026 di bawah 3%, gunakan cadangan kas Rp270 triliun untuk mendorong PDB, dan percepat belanja awal tahun demi perputaran perekonomian. Penataan fiskal pasca krisis 2025 juga dijanjikan untuk menjaga rasio utang tetap terkendali di bawah 60% PDB. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dandan Hindayana: BGN Siap Jajagi Layanan MBG bagi 1500 Siswa RI di Arab Saudi

2 Juni 2026 - 09:05 WIB

Harga Solar Pertamina Turun Mulai 1 Juni 2026

1 Juni 2026 - 19:53 WIB

Pemerintah Terapkan Aktivasi Nomor Seluler dengan Pengenalan Wajah

1 Juni 2026 - 19:44 WIB

Upacara Kelahiran Pancasila di Titik Nol, Gang Buntu Desa Rejoagung Ploso Jombang

1 Juni 2026 - 19:39 WIB

1 Juni Isyarat Memutar Kembali Nilai-nilai Luhur Pancasila

1 Juni 2026 - 16:23 WIB

Pabrik Pengolahan Serbuk Kayu Terbakar di Mojowarno, Kerugian Mencapai Rp350 Juta

31 Mei 2026 - 21:13 WIB

Puncak Peringatan Waisak 2026 di Candi Borobudur Gaungkan Cinta Perdamaian Dunia

31 Mei 2026 - 20:38 WIB

Indonesia Sedang Demam Veronika, Karya Verry Klau dari Malaka NTT

31 Mei 2026 - 20:38 WIB

Menelisik Akar Terorisne (10): Kaum Anabaptist dan Terror Millennium

31 Mei 2026 - 10:23 WIB

Trending di News