Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Segenting Itukah, Purbaya: Pilih Utang Naik 40 Persen atau Kembali ke Krisis 1998

badge-check


					Menteri Keuangan,  Purbaya Yudhi Sadewa . Foto: kredonews.com/dok Perbesar

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa . Foto: kredonews.com/dok

Penulis: Yusran Hakim  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kenaikan rasio utang pemerintah terhadap PDB hingga 40.46% atau Rp9.637.90 triliun per akhir 2025 merupakan langkah darurat untuk menghindari krisis ekonomi seperti tahun 1998.

Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tentang pilihan antara utang naik hingga 40% PDB atau kembali ke Krisis 1998 disampaikan pada Jumat, 13 Februari 2026, di Tribrata Darmawangsa, Jakarta.

Ia  menyampaikan data resmi DJPPR Kemenkeu tentang posisi utang Rp9.637,90 triliun per akhir Desember 2025, dengan defisit APBN 2,92% PDB.

Ia menekankan pilihannya dengan jelas: membiarkan ekonomi ambruk seperti Krisis Moneter 1998 atau menambah utang secukupnya demi menjaga stabilitas, dengan rencana perhitungan setelahnya.

Harganya Rp229,26 per bulan pada September 2025, yang berarti saldo laporan keuangan Agustus-September 2025 signifikan. Defisit APBN 2025 tercatat 2,92% PDB, dengan komposisi utang didominasi SBN (87,02%) dan pinjaman (12,98%). Angka ini masih jauh di bawah batas aman 60% PDB sesuai regulasi.

Purbaya menyebut penambahan utang sebagai “pilihan yang terpaksa” untuk ekspansi ekonomi dan pemulihan, bukan pemborosan permanen. PDB 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun, menjadikan rasio utang melonjak meski melonjak. Komitmen fiskalnya akan ditata ulang pasca krisis.

Ia menjelaskan kenaikan rasio utang 40.46% sebagai langkah darurat akibat perlambatan ekonomi signifikan tahun 2025 yang memicu pembekuan besar. Acara tersebut terkait rilis data utang pemerintah dan diskusi stabilitas fiskal pascakrisis.​​

Solusi Utama

Ia berencana mengurangi penarikan utang baru pada tahun 2026 dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi cepat untuk meningkatkan penerimaan negara, khususnya pajak. Strategi countercyclical diterapkan: tekan utang saat ekonomi kuat dan tarik hanya saat stimulus dibutuhkan.​

Purbaya menargetkan defisit APBN 2026 di bawah 3%, gunakan cadangan kas Rp270 triliun untuk mendorong PDB, dan percepat belanja awal tahun demi perputaran perekonomian. Penataan fiskal pasca krisis 2025 juga dijanjikan untuk menjaga rasio utang tetap terkendali di bawah 60% PDB. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lantik Empat Wamen Baru, Kabinet Prabowo 112 Orang tapi Kabinet Dwikora Bung Karno Sebanyak132 Orang

15 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Hakim Fitrizal Lahirkan Yurisprudensi Baru: Yogi Mentawai Divonis Bersalah, tetapi Dimaafkan

15 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Menteri Sosial Ungkap Warga RI yang Kebagian HP Gratis dari Pemerintah

15 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Pertalite Kosong di Sejumlah SPBU Surabaya

15 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Menelisik Akar Terorisme (69): Kekaisaran yang Tidak Terlihat

15 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Nekad Gadaikan Motor Teman, Pria Dukuhklopo Diringkus Polisi

15 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Panitia Jor Joran Mancing Jombang 2026: Ini 10 Larangan yang Tidak Boleh Dilanggar

15 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Ringin Contong Carnival 2026 Acara Spektakuler 17 Oktober, Simak Rekayasa Arus Lantas

15 Oktober 2026 - 12:39 WIB

Durian Madu Milik Lukman Juara I Kontes Durian Wonosalam, Bupati Warsubi: Upaya Gali Potensi Jombang

15 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Trending di News