Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Satu Dolar Sempat Menyentuh Rp 17.217, Melampaui Krisis Moneter 1998 Rp 16.800/Dolar

badge-check


					Senin, 7 April 2025 menjadi catatan sejarah kelam pada nilai tukar rupiah terhadap dolar. US$1 berharga Rp 17.217. Tercatat angka terendah selama lima tahun terakhir. Foto: neraca.co.id Perbesar

Senin, 7 April 2025 menjadi catatan sejarah kelam pada nilai tukar rupiah terhadap dolar. US$1 berharga Rp 17.217. Tercatat angka terendah selama lima tahun terakhir. Foto: neraca.co.id

Penulis: Tanasyafira Libas Tirani  |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEW.COM, JAKARTA- Nilai tukar rupiah makin terpuruk setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kebijakan tarif impor minimum sebesar 10 persen untuk seluruh negara. Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah anjlok ke level terburuk, Rp 17.217 per Dolar AS pada Senin, 7 April 2025 pukul 9.16 WIB atau pukul 22.16 waktu New York, Minggu, 6 April 2025

Posisi Rupiah di level tersebut bertahan sekitar 1 menit dan kini Rupiah berada di posisi Rp 16.927 per Dolar AS pukul 10.01 WIB.

Kondisi nilai tukar Rupiah saat ini telah melebihi titik terlemah dalam sejarah, yaitu level krisis ekonomi 1998 ketika Rupiah sempat terperosok hingga Rp 16.800 per Dolar AS.

Sebelumnya, Minggu 6 April 2025, laporan dari platform Refinitiv menunjukkan bahwa pada tanggal 6 April 2025, pukul 08:10 WIB, nilai tukar rupiah mencapai Rp 17.059 per dolar AS.

Angka Rp 17.217 per dolar AS yang tercatat pada tanggal 7  April 2025 merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan, dan pada akhir Februari 2025, rupiah berada di level sekitar Rp 16.500 per dolar AS, yang juga merupakan posisi terendah pada saat itu. Namun, penurunan lebih lanjut hingga mencapai Rp 17.059 menunjukkan bahwa kondisi saat ini adalah yang paling buruk dalam periode lima tahun terakhir.

Ini merupakan posisi terendah sepanjang sejarah untuk rupiah. Dalam konteks ini, nilai tukar rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) mengalami pelemahan signifikan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya pada 27 Maret 2025, di mana rupiah berada pada posisi Rp 16.555 per dolar AS.

Refinitiv adalah penyedia data dan analisis keuangan yang sering digunakan oleh para pelaku pasar untuk mendapatkan informasi terkini mengenai nilai tukar dan kondisi pasar lainnya. Data dari Refinitiv sering kali menjadi acuan bagi analis dan investor dalam membuat keputusan investasi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah mencapai titik terendah dalam sejarah, menembus level Rp 17.000 per dolar di pasar non-deliverable forward (NDF). Pada 6 April 2025, nilai tukar tercatat mencapai Rp 17.059/US$, menandakan tekanan signifikan pada mata uang Garuda.

Faktor Penyebab

Perang Dagang dan Tarif AS: Salah satu penyebab utama pelemahan rupiah adalah kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Indonesia dikenakan tarif resiprokal hingga 32%, yang membuat produk Indonesia menjadi lebih mahal di pasar AS, mengurangi daya saing dan permintaan.

Ketidakpastian di pasar global akibat konflik geopolitik, termasuk perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah, juga berkontribusi pada depresiasi rupiah. Analis mengkhawatirkan bahwa situasi ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, yang berdampak pada pasar keuangan Indonesia.

Rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari ekspektasi (228.000 pekerjaan baru) meningkatkan kekuatan dolar, sementara The Fed mengindikasikan bahwa penurunan suku bunga tidak akan terjadi dalam waktu dekat, menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.

Analis memprediksi bahwa jika kondisi ini berlanjut, nilai tukar rupiah dapat terus melemah dan mungkin menyentuh level Rp 17.050 di pasar spot. Meskipun ada upaya dari Bank Indonesia untuk melakukan intervensi di pasar, dampaknya mungkin terbatas karena faktor eksternal yang mendominasi.

Dengan kondisi ini, penting bagi investor dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi global dan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah ke depan.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jaksa Tuntut Hukuman 12 Tahun Penjara, Kasus Pelecehan Siswa di SMP Jombang

16 Juli 2026 - 14:01 WIB

CRV Ditumpangi 9 Orang Sekeluarga, Tabrak Truk Parkir di Tol Pandaan 5 Orang Tewas

16 Juli 2026 - 13:17 WIB

3.000 ASN Disdik Brebes Bobol Presensi Daring, Sembilan Guru Dijebloskan ke Tahanan

16 Juli 2026 - 09:52 WIB

Satu Korban Luka, Akibat Kebakaran Rumah dan Toko di Johowinong Mojoagung

16 Juli 2026 - 08:39 WIB

Kemenkop Pasang Anggaran Rp1,8 Triliun untuk Beli 1.800 Unit Kipas Angin, Ferry Yuliantoro Mengaku tak Tahu!

16 Juli 2026 - 08:06 WIB

Jaksa Teliti Asal Usul 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah, Mahfud MD: Ini Gempa Hukum Terbesar

16 Juli 2026 - 05:32 WIB

57 ASN di Kukar Terima Transferan Rp36,7 Miliar, BPK Kaltim: Bukan Kelebihan Bayar Biasa

15 Juli 2026 - 21:26 WIB

Yuenchi Arwindi Merasa Difitnah: Demi Allah, Saya tak Ada Hubungan dengan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

15 Juli 2026 - 20:17 WIB

Hentikan Oven Dumping 2028, Menteri LH Jumhur Hidayat Turun Langsung ke TPA Banjardowo Jombang

15 Juli 2026 - 16:57 WIB

Trending di News