Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Kadin Jatim Dukung WFH, Tapi Produktivitas Jadi Catatan Utama

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Pemerintah mengimbau perusahaan swasta serta badan usaha milik negara dan daerah (BUMN dan BUMD), menerapkan bekerja dari rumah (WFH) satu hari dalam sepekan bagi karyawan mereka guna mendukung penghematan energi.

Imbauan yang disampaikan melalui Surat Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/III/2026 ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pola kerja yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyambut positif imbauan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa implementasi WFH di sektor usaha tidak dapat dilakukan secara seragam.

“Kami sambut baik imbauan itu dari pemerintah karena dalam rangka menghemat energi. Tapi kalau dari pengusaha kan macam-macam sektor. Kalau di sektor transportasi dan logistik kan tidak mungkin berhenti. Apalagi di sektor manufaktur, tidak mungkin mesin jalan sendiri,” ujarnya ketika on air dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (8/4/2026) pagi.

Ia menambahkan, dunia usaha akan tetap mendukung kebijakan tersebut dengan pendekatan selektif sesuai karakteristik masing-masing sektor.

“Tentunya kami akan dukung ini kebijakan atau imbauan pemerintah ini. Kami akan pilih-pilih di sebelah mananya yang bisa dilakukan penghematan energi,” imbuh Adik.

Adik menekankan, penerapan WFH di sektor industri harus tetap menjaga produktivitas. Menurutnya, hal ini menjadi kunci utama agar daya saing tidak terganggu.

“Kalau di ASN, WFH tidak boleh memengaruhi kualitas layanan. Di industri pun sama, jangan sampai mengurangi produktivitas. Itu kuncinya. Tinggal dicari bagian mana yang bisa WFH,” jelasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan kondisi industri di Jawa Timur saat ini masih dalam fase ekspansi tipis. Berdasarkan data Purchasing Managers’ Index (PMI), angka manufaktur berada di kisaran 51, yang menunjukkan pertumbuhan, namun belum signifikan.

“Perkembangan industri di Jawa Timur memang tumbuh, tapi masih tipis. Ini perlu jadi pertimbangan bagi pelaku usaha. Dengan kondisi seperti ini, tentu pengusaha ingin berhemat, tapi tetap menjaga performa,” ungkapnya.

Adik juga menilai kebijakan WFH berpotensi menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), terutama jika benar-benar dilakukan dari rumah.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pelaku usaha untuk bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah, terutama di tengah situasi global yang masih diliputi ketidakpastian.

“Kita harus sama-sama menghemat energi. Ini tidak bisa dilakukan pemerintah saja, tapi harus semua pihak,” tegasnya.

Adik juga menyoroti dampak konflik di Timur Tengah terhadap dunia usaha, terutama di sektor logistik dan industri berbasis impor.

“Kalau industri yang atau di sektor logistik pasti sudah berdampak kan kalau teman-teman di pelabuhan yang kapal-kapalnya itu sudah mulai berdampak. Dan juga di kimia. Ini juga berdampak karena bahan-bahan baku kan plastik itu juga banyak import-nya,” ujarnya.

Selain itu, sektor baja juga mulai merasakan dampak kenaikan biaya.

Ia menjelaskan, meskipun harga BBM dalam negeri relatif terkendali, biaya logistik tetap berpotensi meningkat akibat faktor eksternal, termasuk nilai tukar rupiah.

“Tapi masalahnya logistiknya pasti akan naik. Membawa energi bawa minyaknya dari katakanlah dari Amerika ke Indonesia logistiknya pasti akan naik harganya. Kurs rupiahnya ke dolar kan dulu 16 ribu, sekarang hampir 17 ribu berarti itu akan naik,” ujarnya.

Selain itu, waktu pengiriman barang juga berpotensi lebih lama, terutama melalui jalur laut. “Kalau di sektor logistik, waktu pengiriman lebih panjang. Aalagi yang terkait dengan laut, itu akan lebih panjang. Bisa seperti waktu Covid,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan distribusi meskipun ketersediaan kapal dan kontainer sebenarnya mencukupi.

“Kapal dan kontainer ada, tapi karena terlalu panjang antreannya, sehingga tidak segera di Indonesia. Sehingga seolah-olah tidak ada kapal, tidak ada kontainer,” ujarnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Korban PHK Masih Dapat Gaji Selama 6 Bulan, Ini Syaratnya

16 Juni 2026 - 20:36 WIB

KA Pandalungan 2 Relasi Gambir-Jember Mulai 18 Juni, Diskon 30 Persen

15 Juni 2026 - 20:32 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP Pekan Ketiga Juni 2026, Ini Daftar Lengkapnya

15 Juni 2026 - 20:18 WIB

Kemnaker Buka Pelatihan Kaigo dan Magang di Jepang

14 Juni 2026 - 20:28 WIB

Harga Anjlok, Peternak Ayam Rugi Ratusan Juta

14 Juni 2026 - 19:45 WIB

REI: Kenaikan BI Rate Jadi Pukulan Telak bagi Properti Nonsubsidi

12 Juni 2026 - 19:19 WIB

ESDM Pastikan Harga Pertalite dan Solar Subsidi Tidak Akan Naik

11 Juni 2026 - 19:59 WIB

Harga Pangan Hari Ini, Beras dan Minyak Kompak Naik

11 Juni 2026 - 19:47 WIB

Peternak Telur Sambut Positif Penguatan HAP Rp 26.500 per Kg

10 Juni 2026 - 15:09 WIB

Trending di Nasional