Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Banjir Rendam Sawah 130 Ha di Ploso, Ama Siswanto Desak Dispertan Jombang segera Mendata

badge-check


					Wakil ketua DPRD Jombang, Ama Siswanto mendesak Disprtan Jombang segera melakukan pendataan seluruh swat petani yang terendam banjir, agar upaya klaim ke Jasindo bisa berjalan pancar. Foto: Dok/ PDI-P Jombnag Perbesar

Wakil ketua DPRD Jombang, Ama Siswanto mendesak Disprtan Jombang segera melakukan pendataan seluruh swat petani yang terendam banjir, agar upaya klaim ke Jasindo bisa berjalan pancar. Foto: Dok/ PDI-P Jombnag

Penulis: Elok Apriyanto  |   Edit: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG– Ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terendam banjir akibat luapan Sungai Marmoyo. Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Komisi B DPRD Jombang.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jombang, Ama Siswanto, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang melalui Dinas Pertanian (Disperta) untuk segera melakukan pendataan kerugian petani yang terdampak, termasuk potensi gagal panen.

“Ini persoalan serius. Dinas Pertanian harus segera turun ke lapangan untuk mendata para petani yang terdampak banjir,” kata Ama Siswanto, Minggu 18 Januari 2026.

Selain pendataan, politisi Fraksi PDI Perjuangan itu juga mendorong Disperta Jombang melakukan kajian mendalam terkait penyebab banjir yang hampir setiap tahun merendam sawah di wilayah Ploso.

“Dinas juga harus menginventarisir apa penyebab utama banjir ini. Jangan sampai petani terus mengalami gagal panen setiap tahun,” tegasnya.

Ama menjelaskan, di sekitar lokasi sawah terdampak terdapat sejumlah perusahaan. Salah satunya berada di sekitar pabrik Cheil Jedang, yang sebelumnya memiliki sudetan air menuju Sungai Brantas untuk mengurangi genangan.

“Sekitar tiga tahun lalu, sudetan itu cukup efektif dan bisa mengurangi banjir di area tersebut,” ungkapnya.

Namun, melihat kondisi banjir tahun ini yang kembali merendam ratusan hektare lahan pertanian, Ama menilai Pemkab Jombang perlu melakukan evaluasi ulang, termasuk mengkaji dampak keberadaan pabrik-pabrik terhadap sistem irigasi pertanian di Ploso.

“Dengan luasan sawah terdampak mencapai ratusan hektare, maka keberadaan pabrik-pabrik ini harus dikaji ulang. Apakah aktivitas dan pembangunannya ikut mengganggu saluran irigasi atau tidak,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar pembangunan industri di wilayah Ploso dan sekitarnya tidak mengorbankan sektor pertanian, terutama dengan terganggunya aliran irigasi yang berujung pada banjir sawah.

Hal ini, lanjut Ama, bertentangan dengan program nasional swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.

“Jangan sampai petani dikorbankan. Program Presiden Prabowo jelas mendorong Indonesia menuju swasembada pangan,” tegasnya.

Ama pun menekankan agar Dinas Pertanian Jombang tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek banjir di Ploso, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang.

“Penanganan jangka panjang harus menjadi prioritas, agar petani bisa berproduksi dengan aman dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 130 hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdampak banjir luapan Kali Marmoyo.

Meski kondisi air mulai berangsur surut, potensi banjir susulan masih mengancam karena intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah hulu.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso, Syaifuddin, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terendam banjir.

“Total ada sekitar 130 hektare sawah yang terendam banjir di Kecamatan Ploso,” ujar Syaifuddin, Sabtu 17 Januari 2026.

Banjir pertanian tersebut tersebar di tiga desa, dengan luasan terbesar berada di Desa Gedongombo yang mencapai sekitar 70 hingga 80 hektare.

Sementara di Desa Jatigedong sekitar 30 hektare, serta sebagian lahan di Desa Ploso yang berbatasan langsung dengan Desa Jatigedong.

Menurut Syaifuddin, genangan air mulai surut sejak 12–13 Desember, seiring berkurangnya curah hujan di wilayah atas.

Meski demikian, hingga kini masih terdapat sawah yang tergenang sehingga dampak kerusakan tanaman belum dapat dipastikan secara keseluruhan.

“Sampai hari ini belum bisa kami pastikan berapa luas tanaman yang mati, karena masih ada sawah yang tergenang air,” imbuhnya. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

APINDO Jombang Siap Bangun Rumah Janda Sulasih Warga Sambong Duran dalam Tempo Satu Bulan

31 Oktober 2026 - 15:24 WIB

Menelisik Akar Terorisme (75): Martin Luther King Korban Keganasan Klan

31 Oktober 2026 - 06:20 WIB

Truk Angkut Bunga Angrek Terbakar, BPBD Jombang Puji Bantuan Warga Plumbon Gambang

31 Oktober 2026 - 05:40 WIB

PIHPS Catat Harga Cabai di Jatim Turun Tajam, Rawit Merah Kini Rp45 Ribu per Kg

30 Oktober 2026 - 19:22 WIB

BMKG Ungkap Musim Hujan di Jawa Timur akan Berlangsung Selama Empat Bulan Saja

30 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Gubernur Khofifah Buka 4.807 Lowongan Kerja di Job Fair Inklusif 2026

29 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Pemerintah Siapkan Hadiah Rp1 Triliun bagi Pemprov dan Pemkab/ Pemkot Pendukung MBG Terbaik

29 Oktober 2026 - 14:58 WIB

Polres Jombang Ringkus 17 Pelaku Kriminal

29 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Wasev Sterad Mabes TNI Turun ke Klitih Plandaan Meninjau dan Evaluasi TMMD 130

29 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Trending di News