Penulis: Eko Wienarto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SUMBA BARAT, NTT — Suasana mencekam menyelimuti markas Polres Sumba Barat di Waikabubak pada Selasa sore, 15 September 2026.
Ratusan warga dari Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli, bergerak beriringan menggotong jenazah Jowa Tana (39), warga mereka yang meninggal dunia langsung ke halaman depan kantor polisi.
Mereka menangis, berteriak, dan menuntut pertanggungjawaban atas kematian yang diyakini akibat penembakan oleh oknum kepolisian.
Keluarga korban menuturkan, Jowa Tana tewas akibat luka tembak yang diduga dilepaskan oleh anggota Polres Sumba Barat.
Jenazah sempat dibawa ke RS Lende Moripa untuk penanganan medis, namun nyawa korban tidak tertolong.
Dari rumah sakit, keluarga bersama puluhan warga langsung menggotong peti jenazah menuju Polres — sebuah protes yang menyayat hati, diiringi isak tangis sanak saudara yang membiarkan jenazah terbaring di halaman depan gedung polisi.
Tidak Terima
“Kami tidak terima. Dia anak kami, dia saudara kami. Kalau memang bersalah, proses dia di pengadilan — bukan ditembak mati begitu saja,” ungkap salah satu kerabat korban dengan suara gemetar.
Warga menuntut jenazah disemayamkan sementara di area polres sebagai bentuk tuntutan pertanggungjawaban — permintaan yang tidak dipenuhi dan justru memicu ketegangan semakin memuncak .
Amarah massa meledak. Batu dan kayu dilemparkan ke arah bangunan Polres. Kaca-kaca kantor polisi pecah berantakan.
Untuk membubarkan kerumunan, aparat kepolisian terpaksa menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan ke udara. Situasi sempat sangat tidak terkendali .
Kapolres Siap Tanggung Jawab
Kapolres Sumba Barat, AKBP Yohanis Nisa Pewali, turun langsung menemui keluarga korban.
“Saya siap bertanggung jawab. Oknum yang terlibat akan kami proses secara hukum,” ujarnya.
Namun janji itu belum cukup menenangkan warga yang tetap bertahan di depan gerbang polres hingga malam.
Sementara itu, Kabid Humas Polda NTT Henry Novika Chandra memberikan versi berbeda.
Menurut keterangan resmi yang dikeluarkan menjelang malam, Jowa Tana yang berinisial JT merupakan residivis kasus pencurian ternak.
“Saat petugas berupaya melakukan penangkapan, JT melawan dan berusaha melarikan diri. Anggota melepaskan satu kali tembakan ke arah kaki, namun karena korban terjatuh, peluru justru mengenai bahu sebelah kanan,” jelas Henry.
Tiga orang lain yang diduga terlibat dalam sindikat pencurian ternak tersebut — berinisial YKM, ASBKL (46), dan KY (35) — telah diamankan .
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak lain yang dilaporkan meninggal dalam kericuhan tersebut.
Suasana perlahan mulai kondusif namun ketegangan masih terasa. Pihak Bupati Sumba Barat belum memberikan pernyataan resmi.
Keluarga korban bersikeras menolak menerima penjelasan bahwa kematian akibat tembakan itu adalah “kecelakaan”.
Polda NTT telah membuka penyelidikan internal untuk meneliti apakah prosedur penggunaan senjata api telah dijalankan sesuai aturan atau tidak .
Latar Belakang
Versi Polisi
- Jowa Tana (39) — inisial JT — diduga sebagai residivis sindikat pencurian ternak yang sudah lama menjadi masalah di wilayah Sumba Barat
- Polisi menerima laporan masyarakat tentang hilangnya ternak sapi di wilayah Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli
- Tim gabungan Polres Sumba Barat berangkat ke lokasi untuk melakukan penangkapanKejadian:
- Saat petugas hendak menangkap, JT melawan keras dan berusaha melarikan diri
- Petugas melepaskan satu kali tembakan peringatan ke arah kaki untuk melumpuhkan
- Karena korban berusaha lari dan terjatuh, peluru meleset dan justru mengenai bahu sebelah kanan
- Korban dibawa ke RS Lende Moripa untuk ditangani, namun nyawanya tidak tertolong
- Tiga orang rekan JT — YKM, ASBKL (46), dan KY (35) — juga diamankan dan kini dalam pemeriksaan
- Polisi menegaskan: bukan ditembak dengan sengaja, melainkan kecelakaan penembakan saat penangkapanVersi Keluarga/Masyarakat
- Jowa Tana adalah warga biasa yang bekerja sebagai petani. Keluarga membantah tuduhan pencurian ternak — tidak ada bukti, tidak ada surat perintah penangkapan yang diperlihatkan
- Masyarakat sekitar sudah lama merasa tidak nyaman dengan penangkapan-penangkapan yang dilakukan oknum polisi tanpa prosedur yang jelas
- Dugaan: ini adalah penangkapan sewenang-wenang dan penembakan yang dilakukan tanpa alasan yang sahKejadian:
- Jowa Tana ditangkap oleh oknum polisi di kediamannya / di sekitar rumah, bukan saat sedang melarikan diri
- Dianiaya terlebih dahulu sebelum ditembak — ada bekas luka di tubuh selain luka tembak
- Ditembak dari jarak dekat, bukan “meleset” — peluru masuk dari arah depan/bukan dari belakang
- Tidak ada upaya pertolongan pertama yang segera diberikan setelah ditembak
- Kematian adalah akibat penganiayaan dan penembakan sengaja oleh oknum polisi, bukan kecelakaan. **

















