Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Polisi Tahan Oknum Guru SMK di Pare, Pakai Akun Cewek untuk Berbuat Cabul ke Siswinya

badge-check


					AKP Bima Pratama, Kepala Satreskrim Polres Kediri, saat memberikan rilis kasus penahanan oknum guru SMK berbuat cabul kepada siswinya. Foto: instagram@kawan.kediri Perbesar

AKP Bima Pratama, Kepala Satreskrim Polres Kediri, saat memberikan rilis kasus penahanan oknum guru SMK berbuat cabul kepada siswinya. Foto: [email protected]

Penulis: Sri Muryanto  |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, KEDIRI— Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri resmi menahan seorang guru berinisial S, berusia 38 tahun, warga Kecamatan Pare, pengajar salah satu SMK swasta di wilayah itu.

Penahanan terjadi, diduga ia melakukan tindak pidana pencabulan dengan modus licik: menyamarkan identitasnya sebagai perempuan lewat ponsel pintar untuk mendekati dan melecehkan anak didiknya sendiri.

Begini rincian modus dan waktunya:
Berdasarkan keterangan penyidik, pelaku menyusun strategi selama lebih dari 3 bulan, terhitung mulai Maret hingga pertengahan Juni 2026.

Melalui ponsel pribadinya, ia membuat akun media sosial dan aplikasi pesan instan palsu, lengkap dengan foto profil, nama samaran, serta data diri yang semuanya dibuat seolah‑olah milik seorang wanita berusia sekitar 25 tahun.

Setelah akun itu terlihat meyakinkan, pelaku secara diam‑diam mengumpulkan nomor telepon dan identitas siswi‑siswi di sekolah tempat ia mengajar.

Ia menghubungi mereka satu per satu, mengaku sebagai mantan murid sekolah, teman kakak kelas, atau bahkan orang yang ingin berbagi informasi bermanfaat soal pendidikan dan pekerjaan.

Waktu dan cara melancarkan aksinya:
Pelaku biasanya menghubungi korbannya setelah jam sekolah berakhir, antara pukul 19.00 hingga dini hari, saat anak‑anak sedang santai dan tidak dalam pengawasan ketat orang tua.

Menggunakan gaya bahasa yang lembut dan akrab, ia perlahan membangun kepercayaan hingga korban merasa nyaman bercerita banyak hal.

Setelah hubungan komunikasi terjalin erat, modusnya berubah. Pelaku mulai mengubah nada bicaranya: mengirimkan pesan bernada mesra, mengajak membicarakan hal‑hal yang tidak pantas, hingga mengirimkan foto dan video berisi konten tak senonoh dari ponselnya. Ia juga meminta korban untuk membalas dengan hal serupa, dengan dalih “hanya berbagi rahasia berdua saja agar tidak ada yang tahu”.

Bagaimana terungkap?
Aksi ini baru ketahuan ketika salah satu siswi merasa gelisah dan menceritakan isi obrolan itu kepada ibunya sekitar awal Juni 2026.

Orang tua korban langsung memeriksa riwayat pesan di HP anaknya, lalu melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah dan Polres Kediri pada 10 Juni 2026.

Tim penyidik Satreskrim segera melakukan penyelidikan mendalam. Mereka berhasil melacak nomor telepon, alamat IP, serta jejak transaksi pendaftaran akun palsu itu, yang semuanya bermuara pada ponsel milik pelaku sendiri.

Saat digeledah di kediamannya, ditemukan bukti kuat: HP utama beserta kartu SIM kedua yang khusus dipakai untuk menyamar, daftar kontak murid, serta riwayat percakapan lengkap selama berbulan‑bulan.

“Modus ini sangat berbahaya karena memanfaatkan jarak, teknologi, dan kepercayaan anak. Ia menyembunyikan identitas aslinya agar tidak dicurigai, padahal tangan yang mengirim pesan itu adalah guru yang setiap hari berdiri di depan kelas mengajar mereka,”

Demikianb tegas AKP Bima Pratama, Kepala Satreskrim Polres Kediri, seperti diunggah oleh akun instagram@kawankediri, Jumat, 18 Juni 2026.

Pelaku kini ditahan di sel tahanan Polres Kediri dan disangkakan melanggar UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 290 KUHP baru tentang Tindak Pidana Kesusilaan. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara hingga 15 tahun.

Pihak kepolisian menegaskan: nama dan identitas korban tidak akan dipublikasikan demi melindungi masa depan dan kesehatan psikologis anak di bawah umur.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kiai Said dan Kiai Imjaz Serukan Pesantren Sudah Saatnya Menjadi Top of the Mind Masa Depan

19 Juni 2026 - 05:14 WIB

Tour de Mawil-4, 50 Aktivis Lingkungan Bersihkan Pesisir Taman Penyu Tatar Sepang Sumbawa Barat

18 Juni 2026 - 21:01 WIB

Siapkan Saldo Segini, Jakarta Surabaya Tanpa Diskon Libur Sekolah

18 Juni 2026 - 19:30 WIB

Wamenperin Ungkap Industri Kecil Belum Siap Ikut Wajib Halal Oktober

18 Juni 2026 - 19:23 WIB

Dinsos Jombang Sosialisasi Pembinaan: Hadirkan Narasumber dari Kejaksaan Pendamping Hukum LKS/LKSA

18 Juni 2026 - 18:35 WIB

PT Pegadaian XII Surabaya Resmikan Jembatan Gantung di Temas Batu dan 100 Mushaf dan Paket Siswa

17 Juni 2026 - 19:42 WIB

Menelisik Akar Teroris (20): Para Penjahat dan Gerilyawan

17 Juni 2026 - 18:59 WIB

2027 Polri Minta Tambah Anggaran Rp61 Triliun Menjadi Rp184 Triliun

17 Juni 2026 - 17:17 WIB

Ketua DPRD Jombang Hadi Atmaji Hadiri Doa Bersama Sambut Tahun Baru Hijriah 1448

17 Juni 2026 - 13:46 WIB

Trending di News