Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM— Seperti pada masa Perang Salib Pertama, bangsa Yahudi dituduh menyebarkan epidemi, dan 50.000 orang Yahudi dibunuh massal di Burgundy saja. Di banyak kota Jerman, mereka bahkan dibakar hidup-hidup di dalam sinagoga mereka.
Di Speyer, mereka dirobek berkeping-keping oleh segerombolan orang gila. Bagian tubuh mereka kemudian ditumpukkan dalam tong-tong untuk diapungkan di sungai Rhine.
Mereka dituduh mencermarkan sumur-sumur. Padahal kenyataannya, bangsa Yahudi adalah ahli-ahli peramu obat kenamaan masa itu, yang menasihati tetangga mereka agar tidak menyentuh air yang sudah terkontaminasi.
Mereka menderita akibat reputasi mereka sebagai pembunuh Kristus dan kekayaan mereka, sama banyaknya seperti akibat nasehat-nasehat mereka yang baik.
Bangsa Jerman tidak yakin terhadap pengobatan medis apapun untuk penyakit sampar. Peribahasa-peribahasa masa itu mengatakan bahwa epidemi itu tidak takut kepada dokter. Sekali penyakit itu berada dalam rumah, ia akan bertahan di dalamnya hingga waktu yang lama.
‘Penyakit sampar pertama-tama menyerang orang-orang yang paling takut terhadapnya’— sebuah peribahasa yang bakal digunakan Albert Camus untuk menginfomasikan karya agungnya tentang masalah ini.
‘Penyakit sampar berlangsung hingga tujuh tahun, namun, tidak seorangpun meninggal dunia sebelum waktunya tiba.’ Bagaimanapun, pertahanan diri terbaik atas Black Death adalah melarikan diri darinya, ‘hingga sepasang sepatu baru rusak hingga solnya habis tuntas.’
Para imam melihat pandemi Black Death sebagai ganjaran ilahi atas dosa bangsanya. Jawabannya adalah matiraga atas tubuh sebelum epidemi itu memulai matiraganya sendiri. Perjalanan ziarah yang luar biasa bangsa Flagellant pun berlangsung.
Mereka mencambuki diri dengan cemeti dan cambuk berujung tiga yang runcing (cats-o-three tails). Seorang sejarahwan Prancis melaporkan pada 1349 bahwa 80.000 masokis ini beramai-ramai memperlihatkan diri kepada publik di Hainault dan Brabant.
Kultus pertobatan ini merupakan versi pemurnian diri mereka di bumi. Para pioneer pemberontak Protestan menyanyikan lagu-lagu pujian dan mempercayai ada penyembuhan ilahi tanpa membutuhkan Gereja Katolik, yang menggunakan Inkwisi untuk menindas gerakan berbahaya itu.
Ironisnya, kaum Flagellant terserang penyakit sampar juga. Ketika Strasburg terserang penyakit itu, kaum Flagelant justru sekali lagi menuduh bangsa Yahudi sebagai orang-orang yang meracuni mereka.
Sebetulnya, para penjahat itu adalah penggali kubur, yang kerapkali direkrut dari gang penjahat yang dikucilkan dari kota-kota, seolah-olah penderita lepra. Mereka ini yang sesungguhnya tertular, oleh ketamakan dan sakit.
Para korban mereka diperas dan dirampok serta diperkosa bahkan dibunuh sebelum dilemparkan ke dalam kereta jenazah, dalam keadaan mati atau sepenuhnya masih hidup.
Racun memang selalu menjadi terror yang dipakai para penguasa, metode rahasia pembersihan atas mereka yang jauh lebih murah disbanding melancarkan revolusi. Bisa ular dan ular air dipergunakan di Mesir untuk meracuni panah-panah perang.
Cleopatra menguji coba taring-taring ularnya pada para budaknya sebelum menaruhnya pada payudaranya sendiri. Kerapkali memang warisan sebuah tahta kerajaan menggunakan racun untuk mempercepat pewarisannya sedemikian rupa sehingga Mithridate, Raja Pontus pada abad kedua sesudah masehi menjadi sangat terkenal karena meninggal dunia pada usia tua.
Penyelidikannya atas farmakologi berasal dari pengaruh obat Yunani atas kebudayaan Mesir. Ia mempelajari antiracun gigitan ular. Sekali lagi diujicobakannya pada para budak beliannya guna menemukan takaran yang pas penyembuhan atas gigitan ular.
Obat yang menyelamat hidupnya adalah campuran 36 dosis obat-obatan termasuk daging ular itu sendiri. Pada Abad Pertengahan, variasi obat-obatan bernama theriac yang diduga dipergunakan untuk menyembuhkan serangan-serangan racun.
Obat ini kemudian menjadi treacle— nama yang kemudian digunakan pada sirup gula. Antibiotik masa kuno yang tidak efektif ini baru berakhir sebagai tonikum instan penambah tenaga (spring tonic) yaitu, sulfur dan campuran ramuan treacle melumpuhkan kerongkongan kaum muda Victoria.
Berapa banyak penguasa sebetulnya mati akibat keracunan yang dilakukan Borgias atau Catherine de’ Medici, yang terkenal karena perilaku jahat mereka, sebelum era pengetahuan forensik ditemukan, tidak bakal diketahui. (Berdambung)

















