Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Prabowo Marah, Praktik Ilegal Under Invoicing Tembus Rp 16.000 Triliun

badge-check


					Presiden Prabowo Perbesar

Presiden Prabowo

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Presiden Prabowo Subianto menyinggung praktik under-invoicing dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR RI ke-19, hari ini Rabu (20/5/2026). Isu ini muncul saat Prabowo berbicara mengenai kebocoran kekayaan nasional, terutama dari perdagangan sumber daya alam.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut salah satu persoalan besar ekonomi Indonesia adalah tidak seluruh keuntungan dari ekspor tinggal di dalam negeri. Ia menyinggung praktik under-invoicing, under accounting, transfer pricing, hingga penyelundupan sebagai celah yang membuat penerimaan negara tidak optimal.

“Selama 34 tahun, apa yang terjadi adalah apa yang disebut under-invoicing. Under-invoicing adalah fraud atau penipuan. Yang dijual pengusaha tidak dilaporkan yang sebenarnya. Banyak dari mereka membuat perusahaan di luar negeri,” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Dalam paparan yang ditampilkan saat pidato, nilai export under-invoicing secara kumulatif sepanjang 1991-2024 disebut mencapai US$908 miliar, atau setara sekitar Rp15.980,8 triliun (asumsi kurs Rp17.600/US$1).

Angka tersebut bersumber dari UN Comtrade 2025 yang diolah NEXT Indonesia Institute.

Under-invoicing adalah bagian dari trade misinvoicing, yakni salah satu bentuk aliran dana gelap atau illicit financial flow (IFF) dalam perdagangan internasional.

Praktik ini terjadi ketika nilai transaksi dalam faktur atau invoice dibuat lebih rendah dari nilai sebenarnya.

Misalnya, sebuah perusahaan mengekspor batu bara senilai US$10 juta, tetapi dalam dokumen ekspor hanya dicatat US$7 juta. Selisih US$3 juta itu tidak tercatat sebagaimana mestinya.

Under-invoicing bisa dibayangkan seperti mengecilkan angka di nota penjualan. Barang yang dijual sebenarnya bernilai besar, tetapi di atas kertas dibuat lebih murah.

Dampaknya pun sangat serius. Jika nilai ekspor yang dilaporkan lebih rendah, maka kewajiban yang dihitung dari nilai tersebut, seperti pajak, royalti, bea keluar, atau pungutan lain, ikut menjadi lebih kecil. Akibatnya, penerimaan negara bisa berkurang.

Dalam laporan NEXT Indonesia, trade misinvoicing dijelaskan sebagai praktik memindahkan uang lintas negara secara ilegal dengan memanipulasi data transaksi perdagangan.

Manipulasi itu bisa dilakukan pada nilai, jumlah, maupun kualitas barang, sehingga dokumen perdagangan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Selain under-invoicing, ada juga over-invoicing, yaitu ketika nilai transaksi justru dilaporkan lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Keduanya dapat digunakan untuk menghindari pajak, mengurangi bea, atau memindahkan dana lintas negara secara ilegal.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS: Cabai Rawit Tembus Lebih dari Rp100 ribu Per Kilogram

24 September 2026 - 19:59 WIB

Pengusaha Kapal Akui Tak Semua Operator Berani Angkut Kendaraan Listrik

24 September 2026 - 19:48 WIB

Sekolah Negeri Bakal Digratiskan, Mendikdasmen: Dimulai dari TK hingga Kuliah

23 September 2026 - 20:43 WIB

Warga RI Usia 17 Tahun Bakal Dapat Rp 50 Ribu, Pemerintah Siapkan Rp 3,8 T

23 September 2026 - 19:59 WIB

Pastikan Sesuai Spek, LSM Seven Gab Bersama Dinas PU Sidoarjo Pantau Proyek Jalan Bluru

23 September 2026 - 10:27 WIB

PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim Imbas Pasokan Gas Terbatas

22 September 2026 - 20:36 WIB

Pemprov Jatim Amankan 411 Aset Idle dari Ancaman Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:07 WIB

Arahan Prabowo, Bahlil Godok Strategi Konversi Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:12 WIB

Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara

21 September 2026 - 19:02 WIB

Trending di Nasional