Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Life Style

Jangan Sampai Diskon Jadi Jerat, Ini Strategi Belanja Bijak

badge-check


					Ilustrasi belanja akhir tahun Perbesar

Ilustrasi belanja akhir tahun

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Menjelang akhir tahun, pusat perbelanjaan dan toko daring seakan berlomba-lomba menggelar pesta diskon. Label “flash sale”, “cashback”, hingga potongan harga besar-besaran menghiasi layar gawai dan etalase toko.

Fenomena ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan juga bagian dari budaya konsumsi modern yang kerap menjerat masyarakat dalam euforia belanja.

Diskon memang menawarkan keuntungan nyata: harga lebih murah, kesempatan memperoleh barang incaran, bahkan rasa puas karena berhasil “menangkap” momen langka. Namun di balik itu, terdapat risiko besar yang sering luput disadari.

Godaan harga murah dapat mendorong seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Akibatnya, pengeluaran membengkak, tabungan terkuras, bahkan kondisi keuangan tahun berikutnya bisa terganggu.

Perencana keuangan Tejasari menekankan pentingnya memeriksa kondisi keuangan sebelum berbelanja. Hal ini menjadi fondasi utama agar belanja tidak melampaui kemampuan dompet.

Dana untuk berburu diskon sebaiknya dipisahkan dari pos penting lain seperti dana darurat, pendidikan, atau cicilan. Dengan demikian, belanja akhir tahun tidak mengorbankan masa depan finansial.

Selain itu, menetapkan prioritas kebutuhan menjadi langkah krusial. Diskon seharusnya dimanfaatkan untuk membeli barang yang memang diperlukan, bukan sekadar karena harganya murah. Perencana keuangan Eko Endarto mengingatkan bahwa diskon sering membuat orang “tidak berpikir panjang”, sehingga membeli barang yang hanya dianggap akan berguna, bukan benar-benar dibutuhkan.

Lebih jauh, fenomena diskon akhir tahun juga berkaitan dengan aspek psikologis. Banyak orang menjadikan belanja sebagai bentuk self reward setelah bekerja keras sepanjang tahun. Hal ini wajar, namun tetap harus dilakukan dengan perhitungan.

Self reward yang bijak adalah membeli sesuatu yang benar-benar memberi manfaat, bukan sekadar memuaskan dorongan sesaat.

Pada akhirnya, diskon akhir tahun adalah ujian kedewasaan finansial. Ia bisa menjadi peluang untuk berhemat, tetapi juga jebakan yang menguras dompet. Kuncinya terletak pada disiplin diri: memeriksa kondisi keuangan, menetapkan prioritas, dan menghindari utang.

Dengan sikap bijak, pesta diskon tidak lagi menjadi jerat, melainkan kesempatan untuk memperkuat kontrol atas keuangan pribadi.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Nabila Gardena Mendadak Viral, Benarkah Terseret Isu Korupsi BUMN?

28 Juli 2026 - 20:09 WIB

Putri Kamboja Menciptakan Sensasi di Piala ASEAN 2026

26 Juli 2026 - 19:34 WIB

Drama di Balik Gol Juara Ferran Torres, Putus Cinta Jelang Final Piala Dunia

22 Juli 2026 - 18:31 WIB

Penggemar Sepakbola Takjub Lihat Kaki Jenjang Presenter

21 Juli 2026 - 19:07 WIB

Bukan Sekadar Cameo, Jung Ho-yeon Ukir Sejarah di Final Piala Dunia 2026

20 Juli 2026 - 18:37 WIB

Cinta Laura Beradegan Intim di Series WeTV ‘Sleeping With The Enemy’

17 Juli 2026 - 21:01 WIB

Rasa Nano-nano Pacar Bek Argentina Berkebangsaan Inggris

16 Juli 2026 - 20:24 WIB

Tate McRae Curi Perhatian saat Bawa Bola Pertandingan Piala Dunia

15 Juli 2026 - 20:24 WIB

Jalan-jalan Sambil Kentut”Rahasia” Penuaan yang Sehat

13 Juli 2026 - 20:33 WIB

Trending di Life Style