Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Internasional

Elon Musk Akhiri Tugasnya di Pemerintahan Trump

badge-check


					Elon Musk dan Presiden Trump di oval office Perbesar

Elon Musk dan Presiden Trump di oval office

BI-Miliarder Elon Musk pada Rabu (28/5/2025) mengumumkan bahwa masa tugasnya sebagai penasihat resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan segera berakhir. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai masa depan inisiatif efisiensi pemerintahan yang selama ini ia pimpin, yakni Department of Government Efficiency (DOGE).

“Masa tugas saya sebagai Pegawai Pemerintah Khusus telah usai. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden @realDonaldTrump atas kesempatan yang diberikan untuk mengurangi pemborosan anggaran,” tulis Musk di platform media sosial miliknya, X. “Misi @DOGE akan terus menguat seiring waktu dan menjadi bagian dari budaya pemerintahan.”

Secara hukum, status Musk sebagai pejabat pemerintah sementara dijadwalkan berakhir paling lambat 30 Mei, meskipun tanggal pastinya masih bergantung pada perhitungan hari kerja aktualnya. Seorang pejabat Gedung Putih yang mengetahui hal ini—namun enggan disebutkan namanya karena menyangkut urusan personalia—mengungkapkan bahwa proses pelepasan tugas Musk dimulai pada Rabu malam. Ia menegaskan bahwa keputusan ini diambil langsung oleh Musk dengan dukungan dari Presiden Trump.

Pengunduran diri Musk terjadi tak lama setelah ia mengkritik prioritas utama legislasi Trump, yakni rancangan pemotongan pajak bertajuk “One Big Beautiful Bill”. Menurut Musk, proposal tersebut tidak cukup ambisius dalam memangkas defisit anggaran federal.

Upaya Musk untuk merampingkan pemerintahan AS sempat mengguncang Washington. Beberapa lembaga dibubarkan, dan puluhan ribu pegawai federal diberhentikan atau ditawari pensiun dini. Meski demikian, inisiatif tersebut dinilai gagal memenuhi target penghematan biaya yang ditetapkan sejak awal.

Trump awalnya memberikan tenggat waktu hingga 4 Juli 2026 bagi proyek ini, memberi DOGE waktu sekitar 18 bulan untuk menemukan potensi penghematan sebesar US$2 triliun, sesuai janji awal Musk. Namun kemudian, target itu diturunkan menjadi US$1 triliun, lalu kembali direvisi menjadi US$150 miliar.

Musk, 53 tahun, sempat bercanda bahwa jabatannya di Gedung Putih hanyalah “kepala pejabat yang tidak penting” dan mengklaim dirinya bukan sosok penting dalam proyek tersebut. Meski begitu, ia menjadi sasaran kritik publik karena perannya sebagai orang terkaya di dunia yang turut memangkas anggaran dan fungsi pemerintahan.

Baik Trump maupun Musk tidak pernah secara terbuka mengumumkan rencana suksesi untuk DOGE. Proyek ini memang murni gagasan Musk—termasuk akronim “DOGE” yang merupakan penghormatan terhadap meme anjing internet favoritnya.

“DOGE itu seperti gaya hidup, mirip seperti Buddhisme,” ujarnya dalam sebuah pengarahan, menyiratkan bahwa program ini akan terus berjalan meski dirinya hengkang. “Buddha juga sudah tiada. Tapi Anda tidak akan bertanya: ‘Siapa yang akan memimpin Buddhisme?’”

Tiga orang kepercayaan Musk—Steve Davis, Antonio Gracias, dan Anthony Armstrong—telah menempati posisi strategis di sejumlah lembaga seperti General Services Administration, Social Security Administration, dan Office of Personnel Management. Ketiga lembaga ini menjadi ujung tombak dalam menjalankan misi DOGE yang berfokus pada pemberantasan penipuan dan penghematan anggaran.

Namun, proyek DOGE juga menuai gugatan hukum terkait kewenangan dan aksesnya terhadap data pemerintah. Beberapa klaim penghematan juga terbukti tidak akurat, memicu pertanyaan seputar akuntabilitas proyek tersebut. Musk juga dikritik atas potensi konflik kepentingan mengingat keterlibatannya dalam berbagai bisnis yang mendapat kontrak besar dari pemerintah federal.

Kontroversi politik Musk telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai dampaknya terhadap perusahaan-perusahaannya, terutama Tesla Inc. Penjualan kendaraan Tesla anjlok ke titik terendah dalam hampir tiga tahun pada kuartal pertama tahun ini, disusul dengan penurunan tajam harga sahamnya. Banyak analis di Wall Street pun merevisi proyeksi pertumbuhan perusahaan.

Mobil, showroom, dan stasiun pengisian daya Tesla menjadi sasaran protes dan vandalisme, dengan Cybertruck menjadi target utama kritik terhadap Musk. Presiden Trump dan sekutunya menunjukkan dukungan terhadap Musk, termasuk dalam sebuah acara di Gedung Putih di mana Trump melihat berbagai model Tesla sebelum akhirnya memutuskan membeli satu unit Model S berwarna merah—suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Musk mengakui bahwa mengatur berbagai bisnisnya—Tesla, SpaceX, XAI Holdings, Neuralink, dan The Boring Co—bersamaan dengan aktivitasnya di Washington bukan perkara mudah.

Pada April lalu, CEO Tesla itu mengatakan kepada para investor bahwa ia akan segera mencurahkan “lebih banyak” waktu untuk perusahaan otomotifnya. Pernyataan tersebut langsung berdampak positif terhadap harga saham Tesla. Awal bulan ini, Musk juga menyatakan kepada Bloomberg News bahwa ia berniat mengurangi pengeluaran untuk urusan politik.

“Saya rasa, saya sudah cukup,” ucapnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Partai Kecoak Merayap ke Politik India

22 Mei 2026 - 18:17 WIB

Komputer Tak Laku, Terancam Tak Ada Orang Mau Beli Laptop

10 Mei 2026 - 19:12 WIB

Naskah Alkitab Perjanjian Baru 42 Halaman yang Hilang Ditemukan

3 Mei 2026 - 19:02 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Kabar Baik 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz

19 April 2026 - 19:52 WIB

Ke Sabah, Merawat Kesehatan Sekaligus Berwisata

19 April 2026 - 16:43 WIB

Kutu Pembunuh Menyerang Korea Selatan, 422 Orang Meninggal

15 April 2026 - 19:06 WIB

Trending di Internasional