Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Kemarau Basah Bukan Fenomena Sesaat, Tapi Iklim Baru

badge-check


					Kemarau basah, kemarau tapi hujan Perbesar

Kemarau basah, kemarau tapi hujan

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Pemerintah perlu merespon adanya fenomena perubahan iklim baru yang dikenal dengan sebutan “kemarau basah”. Fenomena kemarau basah bukan sesuatu yang bersifat sementara namun merupkan pola iklim baru.

Peneliti Klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan itu dalam wawancara RRI Pro3, Sabtu (7/6/2025). Yulihastin menekankan bahwa perubahan iklim tersebut bukan fenomena sesaat malainkan pola iklim baru.

Pemerintah perlu merespons karena fenomena kemarau basah memicu berbagai bencana seperti banjir, longsor, dan genangan air. Yulihastin menekankan pentingnya peningkatan kapasitas drainase dan pengelolaan air secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

“Kita tidak bisa hanya berpikir untuk satu kota. Sistem drainase dan tata kelola air harus terintegrasi, terutama wilayah aglomerasi (proses aktivitas pemusatan wilayah yang berkaitan dengan aspek geografi, industri, dan ekonomi yang melibatkan kluster tenaga kerja, perusahaan, dan konsumen) di Indonesia seperti Jabodetabek dengan daerah Jawa Barat,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti kesiapan infrastruktur menjadi krusial, perlu meningkatkan adaptasi cuaca yang datang tiba-tiba. Perubahan cuaca harian yang drastis sering terjadi, seperti Jakarta, Bandung, dan Purwakarta.

Istilah kemarau basah untuk menyebut masih adanya hujan yang lebat di musim kemarau. Indonesia secara umum sudah memasuki musim kemarau pada awal Juni, tetapi sejumlah wilayah masih diguyur hujan.

“Ini pola iklim baru yang perlu direspons serius oleh pemerintah melalui kebijakan mitigasi bencana,” katanya. Mitigasi adalah upaya untuk mengurangi resiko bencana yang bakal muncul dalam hal ini akibat perubahan iklim tersebut.

“Kemarau sekarang ini menipu, seolah-olah kering, padahal masih sering hujan. Kami menyebutnya kemarau basah, dan tren ini sudah muncul konsisten sejak 2018,” katanya di Pro3 RRI, Sabtu (7/6/2025).

Adanya hujan di sejumlah wilayah Indonesia diakibatkan adanya tekanan udara yang rendah di Samudra Pasifik dan Hindia.

Erma Yulihastin juga mengingatkan pentingnya kesadaran dan akses informasi cuaca yang lebih luas kepada masyarakat. “Masyarakat harus mulai menjadikan prakiraan cuaca sebagai bagian dari rutinitas harian,” ucapnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

10 Menit Standing Applause untuk Papermoon Puppet Theatre dari Yogya yang Mengguncang Jerman

25 Juni 2026 - 15:02 WIB

Temuan Jasad Wanita di Parkiran Juanda, Risang: Korban Janji Pulang Sabtu 20 Juni 2026

25 Juni 2026 - 09:10 WIB

Sudah Tiga Orang Meninggal Saat Mengikuti Larsarmil Calon Manajer KDMP di Tiga Lokasi Berbeda

25 Juni 2026 - 08:35 WIB

Menelisik Akar Terorisme (25): Sepak Terjang Templar dan Freemanson

24 Juni 2026 - 20:48 WIB

Sopir Mengantuk, Truk Muatan Pakan Ayam Tabrak Pembatas Jembatan

24 Juni 2026 - 19:55 WIB

Dua Peserta Latsarmil KDMP Meninggal Dunia, Akibat Heat Stroke dan Cardiac Arrest

24 Juni 2026 - 19:21 WIB

Sekretaris PRKP Bangkalan Ditemukan Tewas dalam Mobil Terparkir di Bandara Juanda

24 Juni 2026 - 18:14 WIB

Massa Karyawan PT SGS Demo Lagi: PHK 1.000 Karyawan, tapi Rekrutmen Karyawan Baru!

23 Juni 2026 - 20:04 WIB

Teror di Balik Pintu Yupita Alami Siksaan 1.095 Hari, Poliri Ringkus Taufik Hidayat DPO 23 Hari di Cibiru Bandung

23 Juni 2026 - 14:34 WIB

Trending di News