Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SIDOARJO – Tim dosen dan mahasiswa keperawatan Universitas Nahdlatul Ulama ( Unusa) Surabaya, menggagas program pemulihan pasien skizofrenia berbasis komunitas di Yayasan Al Hafish Sidoarjo melalui pendekatan rehabilitasi psikososial dan pemberdayaan keluarga atau caregiver.
Program pengabdian kepada masyarakat ini lahir dari temuan lapangan yang menunjukkan masih rendahnya tingkat kemandirian pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan hasil pengkajian awal di yayasan tersebut, sekitar 70 persen pasien belum mandiri dalam aktivitas dasar seperti mandi, berpakaian, makan, dan menjaga kebersihan diri.
Selain itu, sekitar 65 persen pasien masih mengalami gejala negatif berupa isolasi sosial dan rendahnya motivasi, sementara 60 persen caregiver belum pernah mendapatkan edukasi formal mengenai perawatan pasien skizofrenia.
Ketua tim pengabdian, Iskandar, menjelaskan bahwa pemulihan pasien gangguan jiwa tidak hanya berfokus pada pengobatan medis, tetapi juga penguatan fungsi sosial dan kemandirian pasien agar mampu kembali berperan di tengah masyarakat.
“Pasien skizofrenia membutuhkan dukungan secara berkelanjutan. Melalui program recovery berbasis komunitas ini, kami ingin meningkatkan kemampuan self-care pasien sekaligus memperkuat kapasitas caregiver agar proses pemulihan berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Rumah Rehabilitasi
Yayasan Al Hafish saat ini menjadi rumah rehabilitasi bagi sekitar 40 pasien gangguan jiwa yang mengikuti program pendampingan dan rehabilitasi psikososial.
Namun hingga kini belum tersedia sistem rehabilitasi berbasis evidence-based practice terstruktur untuk mengukur perkembangan pasien secara berkelanjutan.
Melalui program tersebut, tim pengabdian akan menerapkan berbagai kegiatan seperti pelatihan keterampilan hidup sehari-hari, terapi aktivitas kelompok, edukasi kesehatan jiwa, hingga pelatihan komunikasi terapeutik bagi caregiver.
Selain itu, akan dikembangkan sistem SMART-Recovery Care System (SRCS) terdiri atas modul recovery, kartu monitoring perkembangan pasien, dan video edukasi bagi keluarga serta pendamping.
Yayasan Al Hafish Sidoarjo sejatinya mencerminkan tantangan kesehatan jiwa yang masih menjadi pekerjaan rumah di Jawa Timur.
Prevalensi
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi gangguan mental emosional dan gangguan jiwa berat masih menjadi perhatian, terutama di wilayah perkotaan dan kawasan dengan tekanan sosial ekonomi tinggi.
Jawa Timur juga menjadi salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, sehingga kebutuhan layanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat terus meningkat.
Di sisi lain, stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih ditemukan di berbagai daerah.
Tidak sedikit keluarga yang mengalami kesulitan mengakses layanan rehabilitasi maupun pendampingan pasca-perawatan rumah sakit.
Akibatnya, risiko kekambuhan pasien masih relatif tinggi apabila dukungan keluarga dan lingkungan sosial tidak berjalan optimal.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini diharapkan dapat membantu pasien memperoleh kembali kemampuan sosial dan kemandirian, sekaligus mengurangi beban keluarga dalam proses pendampingan.
Tim pengabdian menargetkan sedikitnya 70 persen pasien mengalami peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari dan 60 persen pasien menunjukkan peningkatan fungsi sosial setelah mengikuti program.
Selain mendukung peningkatan layanan kesehatan jiwa, kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin kesehatan yang baik dan kesejahteraan (SDG 3), pendidikan berkualitas (SDG 4), serta pengurangan kesenjangan (SDG 10).
Program ini juga menjadi salah satu model penguatan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Jawa Timur.**

















