Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Life Style

Kejang-kejang Dibawa ke Psikolog Malah Sembuh, Ini Penyebabnya

badge-check


					Kejang-kejang Dibawa ke Psikolog Malah Sembuh, Ini Penyebabnya Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– Orang sering mengalami kejang, tapi tak kunjung sembuh meski sudah bolak-balik ke rumah sakit. Hasil CT scan, MRI, atau tes darah pun normal, sehingga membingungkan pasien dan dokter.

Banyak yang akhirnya mengira penyakit ini murni fisik, padahal sebenarnya berakar pada kondisi psikologis. Inilah yang disebut gangguan konversi atau functional neurological disorder.

Menurut Cleveland Clinic, 2024,
Gangguan ini termasuk masalah psikiatri yang mengganggu fungsi saraf motorik dan sensorik.

Gejalanya bisa sangat nyata: kejang mirip epilepsi, kelumpuhan, sulit menelan, pusing, bahkan kehilangan penglihatan atau pendengaran.

Namun anehnya, tes medis tidak menunjukkan kelainan apa pun. Uniknya lagi, sebagian penderita justru tampak tenang menghadapi gejala yang dialami.

Penyebab pasti gangguan konversi belum sepenuhnya dipahami. Namun, faktor risiko seperti trauma masa kecil, tekanan psikologis berat, hingga riwayat penyakit saraf dalam keluarga, diyakini berperan besar.

Gejala khas yang sering muncul adalah kejang non-epilepsi psikogenik (PNES). Sekilas mirip epilepsi, tetapi tanpa aktivitas listrik abnormal di otak. Karena itu, PNES kerap salah diagnosis.

Untuk memastikan, dokter biasanya menggunakan EEG. Jika tidak ada tanda aktivitas epilepsi, kemungkinan besar pasien mengalami PNES.

Berbeda dengan epilepsi yang bisa dikendalikan obat antikejang, PNES lebih efektif ditangani lewat psikoterapi, misalnya cognitive behavioral therapy (CBT), serta edukasi agar pasien memahami kondisi yang dialaminya.

Gangguan konversi bukan penyakit pura-pura. Penderitanya benar-benar merasakan gejala, meski tidak sesuai dengan pola penyakit medis yang jelas. Karena itu, terapi yang tepat harus menekankan keseimbangan antara pemahaman medis dan dukungan psikologis.

Singkatnya, gangguan konversi adalah penyakit mental yang menimbulkan gejala saraf nyata tanpa penyebab medis. Edukasi, psikoterapi, dan dukungan emosional menjadi jalan paling menjanjikan untuk memulihkan kualitas hidup pasien.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sydney Sweeney Masuk Favorit Bond Girl 2026

9 Oktober 2026 - 19:13 WIB

Facebook Berubah Jadi Mirip TikTok, Isinya Video Semua

7 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Tulisan Angelina Jolie Bikin Pusing Netizen

5 Oktober 2026 - 20:03 WIB

“The Lisa Effect”: Strategi Ekonomi Pariwisata Thailand Hasilkan Nilai Publisitas Rp258 Miliar

1 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Jatim Park Group dan Investor Malaysia Bangun Aquarium Underwater Senilai Rp120 Miliar

24 September 2026 - 20:11 WIB

Adegan Berani Nana di “The Scandal” Picu Perdebatan Netizen

22 September 2026 - 19:55 WIB

Solar MAMAMOO Jadi Korban Teror Kursi Terbang di Los Angeles

20 September 2026 - 18:10 WIB

Baifern Pimchanok Siap Menghibur di Film Action-Romance Terbaru ‘My Dearest Assassin’

15 September 2026 - 18:07 WIB

Miss Indonesia Audrey Bianca Raih Prestasi di Panggung Dunia

8 September 2026 - 18:59 WIB

Trending di Life Style