Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Internasional

Akibat Penembakan Massal di Kashmir, Dua Negara Pemilik Nuklir Bisa Perang

badge-check


					Pasukan paramiliter India berpatroli Perbesar

Pasukan paramiliter India berpatroli

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Dua negara bertetangga di Asia ini terancam membuat perang pecah kawasan. Mereka adalah India dan Pakistan.

Hal ini terjadi karena ketegangan yang meningkat antar kedua pemilik senjata nuklir itu, sejak Selasa. Kenyataan ini akibat tragedi penembakan di lembah Baisaran, di daerah Pahalgam di wilayah federal Himalaya, yang terletak di Jammu dan Kashmir, yang menewaskan 26 orang dan melukai 17 lainnya.

Polisi mengatakan korban tewas termasuk 25 warga negara India dan satu warga negara Nepal. Penembakan massal tersebut menjadi serangan terburuk terhadap warga sipil di India sejak penembakan Mumbai 2008.

Insiden ini juga menghancurkan ketenangan relatif di Kashmir, tempat pariwisata yang telah berkembang pesat karena pemberontakan anti-India telah memudar dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah kelompok militan yang kurang dikenal, “Perlawanan Kashmir” mengaku bertanggung jawab atas serangan itu dalam sebuah pesan media sosial.

“Ketidakpuasan karena lebih dari 85.000 orang luar telah ditempatkan di wilayah tersebut, yang memicu perubahan demografi,” tulis Reuters.

Badan keamanan India kemudian menunjuk Pakistan sebagai pihak yang bertanggung jawab. Perlawanan Kashmir, yang juga dikenal sebagai Front Perlawanan, disebut New Delhi merupakan kedok bagi organisasi militan yang berbasis di Pakistan seperti Lashkar-e-Taiba dan Hizbul Mujahideen.

Pakistan sebenarnya membantah tuduhan itu. Islamabad mengatakan bahwa mereka hanya memberikan dukungan moral, politik, dan diplomatik terhadap pemberontakan di sana.

Mengutip Times of India Kamis (24/4/2025), miskalkulasi bisa terjadi di masalah ini. Meski kemungkinan relatif kecil, namun perang yang menggila menjadi perang nuklir bisa terjadi.

Ini setidaknya merujuk ke data intelijen Amerika Serikat (AS) tahun 1980 dan 1990 yang dirilis Rabu. Dalam rilis berjudul “Reaksi India ke Pembangunan Nuklir Pakistan” disebut serangan India ke fasilitas nuklir Pakistan misalnya, akan membuat terganggunya keamanan India.

“India kemungkinan akan memilih sikap wait and see sebelum menyerang di dalam Pakistan dan membuat keputusan baik itu terkait produksi senjata nuklir India atau penimbunannya,” tulis Prediksi Spesial Inteligen Nasional (SNIE), bagian dari laporan itu.

Namun, bisa saja India menyerang PLT Nuklir Karachi, yang menyebabkan kerusakan besar di sana. Ini akhirnya dibalas dengan nuklir lain oleh Pakistan.

Data yang sama juga dimuat laman nsarchive. Hal ini terkait data mata-mata AS soal skenario konflik Asia Selatan.

“Persaingan dan ketegangan yang dibahas dalam estimasi dan analisis intelijen telah menjadi tema dalam hubungan India-Pakistan sejak tahun 1970-an,” muatnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Partai Kecoak Merayap ke Politik India

22 Mei 2026 - 18:17 WIB

Komputer Tak Laku, Terancam Tak Ada Orang Mau Beli Laptop

10 Mei 2026 - 19:12 WIB

Naskah Alkitab Perjanjian Baru 42 Halaman yang Hilang Ditemukan

3 Mei 2026 - 19:02 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Kabar Baik 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz

19 April 2026 - 19:52 WIB

Ke Sabah, Merawat Kesehatan Sekaligus Berwisata

19 April 2026 - 16:43 WIB

Kutu Pembunuh Menyerang Korea Selatan, 422 Orang Meninggal

15 April 2026 - 19:06 WIB

Trending di Internasional