Menu

Mode Gelap

Headline

Banjir Rendam Sawah 130 Ha di Ploso, Ama Siswanto Desak Dispertan Jombang segera Mendata

badge-check


					Wakil ketua DPRD Jombang, Ama Siswanto mendesak Disprtan Jombang segera melakukan pendataan seluruh swat petani yang terendam banjir, agar upaya klaim ke Jasindo bisa berjalan pancar. Foto: Dok/ PDI-P Jombnag Perbesar

Wakil ketua DPRD Jombang, Ama Siswanto mendesak Disprtan Jombang segera melakukan pendataan seluruh swat petani yang terendam banjir, agar upaya klaim ke Jasindo bisa berjalan pancar. Foto: Dok/ PDI-P Jombnag

Penulis: Elok Apriyanto  |   Edit: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG– Ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terendam banjir akibat luapan Sungai Marmoyo. Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Komisi B DPRD Jombang.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jombang, Ama Siswanto, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang melalui Dinas Pertanian (Disperta) untuk segera melakukan pendataan kerugian petani yang terdampak, termasuk potensi gagal panen.

“Ini persoalan serius. Dinas Pertanian harus segera turun ke lapangan untuk mendata para petani yang terdampak banjir,” kata Ama Siswanto, Minggu 18 Januari 2026.

Selain pendataan, politisi Fraksi PDI Perjuangan itu juga mendorong Disperta Jombang melakukan kajian mendalam terkait penyebab banjir yang hampir setiap tahun merendam sawah di wilayah Ploso.

“Dinas juga harus menginventarisir apa penyebab utama banjir ini. Jangan sampai petani terus mengalami gagal panen setiap tahun,” tegasnya.

Ama menjelaskan, di sekitar lokasi sawah terdampak terdapat sejumlah perusahaan. Salah satunya berada di sekitar pabrik Cheil Jedang, yang sebelumnya memiliki sudetan air menuju Sungai Brantas untuk mengurangi genangan.

“Sekitar tiga tahun lalu, sudetan itu cukup efektif dan bisa mengurangi banjir di area tersebut,” ungkapnya.

Namun, melihat kondisi banjir tahun ini yang kembali merendam ratusan hektare lahan pertanian, Ama menilai Pemkab Jombang perlu melakukan evaluasi ulang, termasuk mengkaji dampak keberadaan pabrik-pabrik terhadap sistem irigasi pertanian di Ploso.

“Dengan luasan sawah terdampak mencapai ratusan hektare, maka keberadaan pabrik-pabrik ini harus dikaji ulang. Apakah aktivitas dan pembangunannya ikut mengganggu saluran irigasi atau tidak,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar pembangunan industri di wilayah Ploso dan sekitarnya tidak mengorbankan sektor pertanian, terutama dengan terganggunya aliran irigasi yang berujung pada banjir sawah.

Hal ini, lanjut Ama, bertentangan dengan program nasional swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.

“Jangan sampai petani dikorbankan. Program Presiden Prabowo jelas mendorong Indonesia menuju swasembada pangan,” tegasnya.

Ama pun menekankan agar Dinas Pertanian Jombang tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek banjir di Ploso, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang.

“Penanganan jangka panjang harus menjadi prioritas, agar petani bisa berproduksi dengan aman dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 130 hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdampak banjir luapan Kali Marmoyo.

Meski kondisi air mulai berangsur surut, potensi banjir susulan masih mengancam karena intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah hulu.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso, Syaifuddin, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terendam banjir.

“Total ada sekitar 130 hektare sawah yang terendam banjir di Kecamatan Ploso,” ujar Syaifuddin, Sabtu 17 Januari 2026.

Banjir pertanian tersebut tersebar di tiga desa, dengan luasan terbesar berada di Desa Gedongombo yang mencapai sekitar 70 hingga 80 hektare.

Sementara di Desa Jatigedong sekitar 30 hektare, serta sebagian lahan di Desa Ploso yang berbatasan langsung dengan Desa Jatigedong.

Menurut Syaifuddin, genangan air mulai surut sejak 12–13 Desember, seiring berkurangnya curah hujan di wilayah atas.

Meski demikian, hingga kini masih terdapat sawah yang tergenang sehingga dampak kerusakan tanaman belum dapat dipastikan secara keseluruhan.

“Sampai hari ini belum bisa kami pastikan berapa luas tanaman yang mati, karena masih ada sawah yang tergenang air,” imbuhnya. **

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gempa Magnetudo 5.5 Terjadi pada Kedalaman 105 Km Pantai Pacitan

27 Januari 2026 - 09:50 WIB

Harga Cabai di Pasar Citra Niaga Jombang Mulai Naik Jelang Ramadan

27 Januari 2026 - 09:34 WIB

Tiga Bulan Ngendap di Polres Sidoarjo: Ice Sukmawaty Korban Pencurian Brankas Rp 8 M Melapor ke No Viral No Justice!

27 Januari 2026 - 09:07 WIB

Era Baru Hukum Pidana: Tidak Harus Berakhir di Penjara

26 Januari 2026 - 22:46 WIB

Ada di Lokasi Sebelum Lula Lahfah Meninggal, Polisi Periksa Reza Arap sebagai Saksi

26 Januari 2026 - 21:48 WIB

Kejaksaan Ringkus Buron 4 Tahun dari Jombang, Hariyono Jualan Pecel di Karawang

26 Januari 2026 - 20:22 WIB

Polres Jombang Ringkus 17 Residivis Curanmor, Sita 34 Barang Bukti Motor

26 Januari 2026 - 20:04 WIB

Kasus Hukum Hogi Minaya, Kajari Sleman Tempuh Jalur Restorativie Justice Sepakat Damai

26 Januari 2026 - 19:45 WIB

Tolak Polri di Bawah Kementrian, Jenderal Listyo Sigit: Lebih Baik Saya Jadi Petani Saja!

26 Januari 2026 - 18:52 WIB

Trending di Nasional