Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Mohammad Bin Salman Anggap UEA sebagai Ancaman, Pasca Serangan ke Yaman

badge-check


					Timur Tengah memanas, pasca Pesawat Arab saudi menggempur serangan bombardir pelabuhan Al Makalla, Yaman Selatan. Kini Arab saudi menganggap UEA sebagai ancaman bagi negaranya. Foto: Instagram@gtid.news
Perbesar

Timur Tengah memanas, pasca Pesawat Arab saudi menggempur serangan bombardir pelabuhan Al Makalla, Yaman Selatan. Kini Arab saudi menganggap UEA sebagai ancaman bagi negaranya. Foto: [email protected]

Penulis: Jacobus E. Lato     |    Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, ARAB SAUDI– Arab Saudi menyatakan Uni Emirat Arab sebagai ancaman setelah menemukan dugaan pengiriman senjata ke kelompok separatis di Yaman selatan. Riyadh menilai langkah tersebut berbahaya bagi stabilitas kawasan dan langsung melakukan serangan terbatas ke pelabuhan Al Mukalla.

Pernyataan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) merupakan ancaman disampaikan oleh Mohammed bin Salman melalui saluran resmi pemerintah Arab Saudi pada 30 Desember 2025, tepat setelah serangan udara di pelabuhan Al Mukalla.

Pernyataan tersebut dirilis secara publik melalui pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Saudi di Riyadh, menyoroti pengiriman senjata ke separatis STC sebagai tindakan berbahaya.​

Pernyataan resmi diterbitkan pukul 14:00 waktu setempat (Riyadh) via agensi berita SPA (Saudi Press Agency), menyusul konfirmasi intelijen tentang kapal dari UEA. Tidak ada pidato langsung atau konferensi pers; formatnya berupa komuniké militer yang tegas, memerintahkan “tindakan tegas” untuk stabilitas kawasan.​

Riyadh dipilih sebagai pusat karena markas koalisi anti-Houthi berada di sana, dengan salinan disebar ke sekutu dan PBB untuk legitimasi. Pernyataan ini memicu ultimatum 24 jam dari Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi.​

Arab Saudi memang menyatakan pengiriman senjata dari Uni Emirat Arab (UEA) ke kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) di Yaman selatan sebagai ancaman serius bagi stabilitas kawasan, yang memicu serangan udara terbatas di pelabuhan Al Mukalla pada 30 Desember 2025.

Peristiwa ini memperburuk ketegangan antara dua sekutu Teluk tersebut dalam koalisi anti-Houthi di Yaman. Hingga awal Januari 2026, konflik berlanjut dengan serangan udara tambahan Saudi dan pengumuman STC soal rencana kemerdekaan selatan.​

Kronologi Utama

Pada 30 Desember 2025, kapal dari Fujairah (UEA) tiba di Mukalla membawa senjata dan kendaraan untuk STC; Saudi langsung serang target tersebut dengan klaim “operasi terbatas” untuk cegah eskalasi.​

Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman (dukungan Saudi) beri ultimatum 24 jam agar pasukan UEA tarik diri, batalkan pakta keamanan, dan larang akses pelabuhan kecuali izin Saudi.​

UEA bantah senjata, klaim hanya kendaraan militer yang diketahui Saudi, dan umumkan tarik pasukan tersisa dari Yaman.​

Saudi anggap tindakan UEA “sangat berbahaya” dan ancam ambil langkah tegas untuk lindungi keamanan nasional. UEA serukan pengendalian diri dan koordinasi, tekankan peran kontra-terorisme tanpa maksud ancam Saudi. STC tolak ultimatum, kuasai Hadramout dan Mahra, serta umumkan konstitusi dan transisi 2 tahun ke kemerdekaan Yaman Selatan pada 2 Januari 2026.​

Dampak Terkini

Serangan lanjutan Saudi pada 2-3 Januari 2026 tewaskan puluhan separatis STC di Hadramout, picu kekhawatiran perpecahan Yaman dan front baru dalam perang 10 tahun. Saudi rencanakan dialog di Riyadh untuk seluruh faksi selatan Yaman guna redakan ketegangan. PBB khawatir gangguan pelabuhan Mukalla hambat bantuan kemanusiaan di negara dengan krisis terburuk dunia.​​

Mohammed bin Salman, Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, adalah pimpinan yang menyatakan pengiriman senjata dari UEA ke separatis Yaman selatan sebagai ancaman serius bagi stabilitas kawasan. Pernyataan ini disampaikan melalui saluran resmi pemerintah Saudi pasca-serangan di Al Mukalla pada akhir Desember 2025.​

Ia mengkritik langkah UEA sebagai “sangat berbahaya” dan memerintahkan operasi militer terbatas untuk cegah eskalasi. Sebagai pemimpin de facto sejak 2017 dan PM resmi sejak 2022, Mohammed bin Salman memegang kendali penuh atas kebijakan luar negeri Saudi terkait Yaman.​

Sebagai pengganti Raja Salman yang sudah lanjut usia, ia memimpin koalisi anti-Houthi tapi kini bersitegang dengan sekutu UEA soal dukungan ke STC. Pernyataan ancaman ini menandai retaknya hubungan bilateral yang sebelumnya erat.​**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Komite SMAN 1 Jombang Pasang Tarif Rp2,5 Juta, PMPP Rp165.000, Wali Murid: Bukan Sumbangan, tapi Paksaan

14 September 2026 - 21:38 WIB

Resafel Kabinet, Prabowo Copot Purbaya Digantikan Suahasil Nazara

14 September 2026 - 16:45 WIB

Ombak Hantam Lambung Kanan, KM Virgo 8 Tenggelam: 129 Masih Dalam Pencarian

13 September 2026 - 21:18 WIB

Tragis Dua Bocah Kakak Beradik Tewas Terbakar dalam Kamar di Simomulyo Surabaya

13 September 2026 - 20:14 WIB

Kereta Kelinci Angkut 50 Ibu PKK Jatuh Terguling di Lokasi Wisata Rowo Jombor Klaten, 11 Orang Lukaluka

13 September 2026 - 17:44 WIB

KM Virgo 8 Tenggelam: 102 Korban Selamat, 1 Orang Tewas, 140 Dalam Pencarian

13 September 2026 - 14:49 WIB

KM Virgo 8 Angkut 243 Orang dan 54 Kendaraan Tenggelam Hilang di 80 Mil Arah Banjarmasin

13 September 2026 - 10:21 WIB

Menelisik Akar Terorisme (56): Tak Usah Dibunuh, agar Bayar Pajak

13 September 2026 - 03:15 WIB

Empat Pria Bertopeng Bakar Warung Mie Babi Sukoharjo, Jodi Sutanto: Kami Siap Buka Kembali

13 September 2026 - 02:40 WIB

Trending di News