Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Internasional

Waspada Modus Penipuan Baru Pakai AI, Korbannya Sudah Banyak

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Modus penipuan digital terus bermunculan. Kini, pelaku kejahatan siber memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan merekrut “model wajah” untuk menjalankan aksinya yang berbasis deepfake hingga makin sulit dideteksi.

Fenomena ini terungkap dari maraknya lowongan kerja “model AI” di kawasan Asia Tenggara, khususnya Kamboja, yang dikenal sebagai salah satu pusat operasi penipuan online terbesar di dunia.

“Dalam setahun terakhir hingga sekarang, mereka juga merekrut orang untuk menjadi model AI,” kata Hieu Minh Ngo, penyelidik kejahatan siber dari organisasi nirlaba Vietnam ChongLuaDao, dikutip dari Wired (24/3/2026).

“Mereka memberikan perangkat lunak untuk menukar wajah menggunakan AI dan melakukan love scam,” imbuhnya.

Ngo mengidentifikasi sekitar dua lusin kanal Telegram yang memuat lowongan untuk model AI di kawasan tersebut. Humanity Research Consultancy juga melacak pelamar pekerjaan di kota-kota yang dikenal sebagai pusat penipuan.

Para pelamar, sebagian besar perempuan 20-an awal, direkrut untuk melakukan panggilan video menggunakan teknologi manipulasi wajah guna meyakinkan korban.

Alih-alih bekerja di perusahaan resmi, mereka justru menjalankan modus penipuan yang membangun hubungan emosional dengan korban sebelum menguras uang mereka, biasanya lewat investasi kripto atau love scam.

Dalam praktiknya, model AI ini bertugas melakukan ratusan panggilan video setiap hari. Dengan bantuan perangkat lunak khusus, wajah mereka dapat diubah secara real-time sehingga menyerupai identitas palsu yang lebih menarik dan meyakinkan.

Tak hanya canggih, operasi ini juga terorganisir secara industri. Bahkan, sejumlah lokasi dilaporkan memiliki “ruang AI” khusus untuk menjalankan panggilan penipuan secara massal.

Yang mengkhawatirkan, sebagian pekerja direkrut dengan iming-iming gaji tinggi hingga ribuan dolar per bulan. Namun di balik itu, mereka harus bekerja ekstrem hingga risiko kekerasan dan pelecehan. Dalam beberapa kasus, paspor pekerja disita untuk mencegah mereka kabur.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Elon Musk Pamer Mobil yang Bisa Terbang

16 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Kardinal Pietro Parolin Gantikan sementara Tugas Paus Leo XIV

15 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Dari Matras Kamar Sempit hingga Raksasa Teknologi: Kisah Ren Zhengfei Membangun Huawei Lewat Badai Krisis

10 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Dari Inggris hingga Singapura, Penolakan Gugatan Ijazah Wapres Jadi Perhatian

7 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Christa Pike Dua Kali Diinjeksi Mati, Namun Tetap Hidup

2 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Drama Berdarah di Balik Kokpit Flydubai Tujuan Israel 

1 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Kemenpar- KJRI Dukung Rute Baru Hong Kong-Surabaya

29 September 2026 - 20:48 WIB

Kian Liar, AI Gemini Bobol 3 Perusahaan Nyata Saat Uji Coba Keamanan

21 September 2026 - 18:49 WIB

Setiap Ketukan “Prompt” AI Diam-Diam Menguras Listrik Jepang dan Air Afrika

20 September 2026 - 17:38 WIB

Trending di Internasional