Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Life Style

Tumbler: Konsumsi Hijau dan Ilusi Kepedulian

badge-check


					Tumbler sebagai gaya hidup Perbesar

Tumbler sebagai gaya hidup

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Di era ketika gaya hidup hijau jadi tren, kepedulian terhadap bumi sering kali dikaitkan dengan belanja. Tumbler warna pastel, tote bag dengan slogan ramah lingkungan, hingga sedotan stainless yang dibungkus cantik—semuanya seolah menjadi tiket masuk ke komunitas “eco-friendly”.

Genta, seorang pemerhati isu keberlanjutan, melihat fenomena ini dengan kritis. “Mereka membuat kita merasa bahwa cara menunjukkan kepedulian adalah melalui pembelian. Pesannya sederhana, kalau kamu peduli lingkungan, belilah ini,” ujarnya. Kata-kata Genta menohok: kepedulian yang seharusnya lahir dari kesadaran, kini dikemas jadi komoditas.

Kelas menengah, dengan ritme hidup serba cepat, cenderung mencari solusi praktis. Membeli produk hijau terasa lebih mudah dibanding mengubah gaya hidup atau mendorong aksi kolektif. Akibatnya, keberlanjutan sering direduksi menjadi sekadar pilihan konsumsi.

Wika, salah satu konsumen, merasakan dilema ini secara langsung. Ia pernah punya enam tumbler, semua dibeli karena takut ketinggalan tren. “Aku jadi mikir, sebenarnya kalau terus-terusan FOMO ikuti tren, itu enggak bakal ada habisnya,” katanya. Kesadaran itu membuatnya berhenti menambah koleksi. “Sekarang aku nanemin, apa yang sudah punya ya itu dulu. Kalau sudah rusak baru beli lagi.”

Cerita Wika adalah cermin banyak orang: niat baik yang berubah jadi pola konsumsi baru. Padahal, esensi keberlanjutan bukan soal berapa banyak barang hijau yang kita miliki, melainkan bagaimana kita mengubah cara hidup.

Genta menutup refleksinya dengan tegas. “Sejatinya, menyelamatkan lingkungan bukan persoalan membeli produk apa, tetapi mengubah cara kita memproduksi dan mengonsumsi secara menyeluruh.”

Pesan itu sederhana tapi kuat. Bumi tidak butuh kita belanja lebih banyak, bumi butuh kita berpikir ulang: apakah benar kepedulian bisa dibeli, atau justru harus diwujudkan lewat perubahan nyata dalam keseharian.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Rhoma Irama Siap Guncang Panggung Konser Guns N’ Roses

23 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Totalitas Caitlin Halderman Bawa ‘The Hidden Hand’ Jadi Nomor Satu di Viu

22 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Cerita Beragam Ini Deretan Dracin Pantas Ditonton

18 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Sydney Sweeney Masuk Favorit Bond Girl 2026

9 Oktober 2026 - 19:13 WIB

Facebook Berubah Jadi Mirip TikTok, Isinya Video Semua

7 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Tulisan Angelina Jolie Bikin Pusing Netizen

5 Oktober 2026 - 20:03 WIB

“The Lisa Effect”: Strategi Ekonomi Pariwisata Thailand Hasilkan Nilai Publisitas Rp258 Miliar

1 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Jatim Park Group dan Investor Malaysia Bangun Aquarium Underwater Senilai Rp120 Miliar

24 September 2026 - 20:11 WIB

Adegan Berani Nana di “The Scandal” Picu Perdebatan Netizen

22 September 2026 - 19:55 WIB

Trending di Life Style