Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Internasional

Setiap Ketukan “Prompt” AI Diam-Diam Menguras Listrik Jepang dan Air Afrika

badge-check


					Server AI boros listrik dan air Perbesar

Server AI boros listrik dan air

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Lampu indikator biru pada peladen (server) di sebuah pusat data (data center) raksasa berkedip tanpa suara. Di layar komputer Anda, sebuah instruksi (prompt) sederhana dikirimkan: “Tolong buatkan lukisan digital dengan nuansa era 80-an.” Hanya dalam hitungan detik, gambar estetik nan memukau tersaji di layar. Sempurna, instan, dan tampak magis.

Namun, di balik layar digital yang bersih itu, ada harga alam yang harus dibayar mahal. Setiap kali kecerdasan buatan (AI) berpikir, melahirkan kata, atau menyusun piksel gambar, sebuah mesin superkomputer di belahan dunia lain sedang bekerja keras hingga memancarkan panas ekstrem.

Untuk mendinginkannya, miliaran liter air tawar harus terus dialirkan, ditemani oleh pasokan listrik raksasa yang menyala tanpa jeda. Kini, janji masa depan digital yang serba mudah mulai membayangi batas daya dukung Bumi.

Skala konsumsi energi oleh ekosistem AI global saat ini telah mencapai level yang mencengangkan. Menurut riset terbaru dari lembaga keuangan global Goldman Sachs, lonjakan konsumsi listrik untuk mengoperasikan AI saat ini diibaratkan seperti “membangun satu negara Jepang baru” di dalam peta ketenagalistrikan global.

Jika seluruh pusat data AI di dunia digabungkan menjadi sebuah negara, konsumsi energinya diproyeksikan segera menembus 945 hingga 1.050 Terawatt-hour (TWh). Angka ini tidak hanya menyamai total konsumsi listrik tahunan Negara Jepang—salah satu raksasa ekonomi dengan industri paling padat di dunia—tetapi juga menempatkan jaringan AI global sebagai konsumen energi terbesar kelima di planet ini.

Bukan hanya listrik yang terkuras. Rasa haus teknologi ini menjalar ke sektor air bersih. Laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations University (UNU-INWEH) mengungkap fakta yang menggetarkan: jejak air tahunan yang dibutuhkan untuk mendinginkan pusat data AI diproyeksikan mencapai 9,3 triliun liter.

Volume air tawar sebanyak itu setara dengan kebutuhan air domestik dasar bagi 1,3 miliar penduduk di seluruh wilayah Afrika Sub-Sahara selama satu tahun penuh.

Setiap satu gambar estetis yang dihasilkan oleh generator AI, tanpa kita sadari, mengonsumsi sekitar 1,2 Watt-hour listrik dan menelan 2 sendok makan air bersih untuk sistem pendinginan peladennya.

Peringatan dari Pemerintah
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di tingkat pembuat kebijakan dan pakar lingkungan. Di Indonesia, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono, secara terbuka menyoroti ancaman nyata ini terhadap target pelestarian lingkungan nasional.

“Perkembangan AI yang semakin canggih ini membawa tantangan baru bagi upaya pengurangan emisi karbon. Kebutuhan energinya yang sangat masif berpotensi mengacaukan rencana dekarbonisasi kita, karena sebagian besar pasokan listrik untuk pusat data global nyatanya masih ditopang oleh pembangkit berbahan bakar fosil,” ujar Diaz dalam sebuah forum lingkungan.

Dari sudut pandang akademisi, Professor Li Zhou, Peneliti Keberlanjutan Teknologi di Universitas Tokyo, menambahkan bahwa efisiensi cip saat ini belum mampu mengimbangi ledakan data.

“Kita sedang berlomba dengan waktu. Jika arsitektur komputasi kita tidak segera dirombak menjadi jauh lebih hemat daya, pasokan listrik di kota-kota besar Asia dan Eropa akan tersedot secara masif hanya untuk menghidupkan pusat data digital,” ungkap Zhou.

Hal senada juga diungkapkan oleh John Payne dari UNESCO, yang terlibat dalam kajian dampak air global. Ia mengingatkan bahwa krisis ini bukanlah masalah global yang abstrak, melainkan ancaman lokal yang akut.

“Air murni yang diserap oleh menara pendingin data center menguap begitu saja ke atmosfer demi menjaga temperatur chip komputer. Di wilayah-wilayah yang sudah mengalami krisis air kering, kehadiran pusat data AI raksasa berisiko langsung merebut hak air minum bagi komunitas lokal di sekitarnya,” jelas Payne.

Dari sudut pandang industri pertambangan dan teknologi, Mark Henderson, Direktur Strategi Energi di Konsorsium GridClean, memberikan gambaran mengenai sulitnya pemenuhan pasokan tersebut.

“Raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google kini mulai melirik energi nuklir skala kecil untuk menjaga peladen mereka tetap menyala. Ini membuktikan bahwa kapasitas energi surya dan angin yang ada saat ini bahkan tidak akan cukup untuk memuaskan rasa haus energi dari kecerdasan buatan,” tegas Henderson.

Mencari Jalan Keluar dari Labirin Energi
Sektor teknologi tidak tinggal diam melihat ancaman ini. Berbagai raksasa teknologi kini berlomba-lomba memindahkan pusat data mereka ke wilayah beriklim dingin dekat kutub untuk memanfaatkan pendingin udara alami.

Sebagian lainnya mulai beralih menggunakan sistem pendingin lingkaran tertutup (closed-loop cooling) yang tidak membuang air, serta mengamankan pasokan listrik mandiri dari energi nuklir bersih.

Teknologi AI memang memberikan lompatan kecerdasan yang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, jika pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan efisiensi energi yang revolusioner, kemudahan digital yang kita nikmati hari ini bisa jadi harus dibayar dengan kekeringan dan krisis energi di dunia nyata.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

“Cium” Asisten Cantik di Lapangan Golf, Trump Gemparkan Netizen

17 September 2026 - 16:00 WIB

Raja Thailand Terbangkan Sendiri Pesawat Boeing 737 -800

15 September 2026 - 17:27 WIB

Resmi Mengaku, Amerika Serikat Kerahkan Senjata Ofensif Aktif di Orbit Bumi

15 September 2026 - 16:48 WIB

Mantan PM Inggris dan Delegasi Barat Nyaris Kena Serangan Drone Rusia

14 September 2026 - 18:51 WIB

Luana Lopes Lara, Mantan Balerina ke Miliarder Paling Tajir, Kalahkan Taylor Swift

6 September 2026 - 18:16 WIB

Google Lakukan Ribuan Perubahan Sistem Setiap Tahun, Siapa Diuntungkan?

3 September 2026 - 19:28 WIB

Bill Gates Peringatkan, AI Dapat Membuat Bencana Ekonomi

28 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Ratu Suthida Bikin Sejarah, Jalani Latihan Solo dengan Jet Tempur JAS 39 Gripen

27 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Era Baru Robotika: Ketika Kecepatan Lari Robot Salip Rekor Usain Bolt

23 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Trending di Internasional