Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

KPK Menahan Hendarto Bos BJU dalam Kasus Dugaan Kredit LPEI Rp 1,7 Triliun

badge-check


					KPK menangkap dan menatahan bos BJU, tambang batu bara di Kaltara, terkait kasus gelontoran kredit LPEI sekitar Rp 1,7 - 11 Trliun. Foto: Tirto.id
Perbesar

KPK menangkap dan menatahan bos BJU, tambang batu bara di Kaltara, terkait kasus gelontoran kredit LPEI sekitar Rp 1,7 - 11 Trliun. Foto: Tirto.id

Penulis: Yusran Hakim   |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap dan meringkus Hendarto, Bos PT Bara Jaya Utama (BJU Grup), Hendarto, diketahui menghamburkan uang hasil korupsi sebesar Rp150 miliar untuk berjud.

PT Bara Jaya Utama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara di Kalimantan Timur, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2001 dan dikenal dengan singkatan BJU dalam kegiatan operasionalnya. PT Bara Jaya Utama memiliki konsesi pertambangan batubara di Teluk Bayur dan distrik Sambaliung, Kabupaten Berau.

Modus korupsi yang dilakukan adalah dengan memuluskan pencairan fasilitas kredit yang tidak sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan usaha perusahaan, melainkan sebagian besar digunakan untuk kepentingan pribadi Hendarto seperti pembelian aset, kendaraan, kebutuhan keluarga, dan berjudi.

Detail kasus menunjukkan bahwa fasilitas kredit yang diterima mencapai nilai yang sangat besar, termasuk Kredit Investasi Ekspor (KIE) dan Kredit Modal Kerja Ekspor (KMKE) dengan total mencapai miliaran rupiah.

Namun, hanya sebagian kecil dari kredit tersebut yang digunakan untuk kebutuhan operasional perusahaan, sedangkan sisanya disalahgunakan. Kerugian negara akibat kasus ini diperkirakan mencapai Rp1,7 triliun hingga lebih dari Rp11 triliun.

KPK juga telah menyita aset-aset milik Hendarto senilai ratusan miliar rupiah sebagai bagian dari penyidikan.

Uang tersebut berasal dari kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas kredit oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang melibatkan perusahaan milik Hendarto, yaitu PT Sakti Mait Jaya Langit dan PT Mega Alam Sejahtera.

Penggunaan uang ini untuk berjudi terjadi sekitar tahun 2014-2016. Judi yang dimaksud bukan judi odan KPK masih menyelidiki apakah Hendarto melakukan perjudian tersebut di luar negeri.

Selain digunakan untuk berjudi, uang hasil korupsi juga dipakai untuk pembelian aset, kendaraan, dan kebutuhan pribadi lainnya. Total kerugian negara akibat kasus ini diperkirakan mencapai Rp1,7 triliun.

KPK memberikan pernyataan dan menetapkan Hendarto sebagai tersangka kasus korupsi terkait pemberian fasilitas kredit oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) pada tanggal 28 Agustus 2025.

Pada hari yang sama, KPK juga menahan Hendarto selama 20 hari pertama di Rumah Tahanan KPK cabang Merah Putih, Jakarta Selatan.

Pernyataan resmi tersebut disampaikan oleh Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2025.

KPK menjelaskan bahwa uang hasil korupsi sebesar Rp150 miliar yang diduga milik Hendarto, bos BJU Grup, digunakan untuk berjudi, tetapi bukan konkret pada judi online.

Dalam penyidikan, KPK menemukan bahwa Hendarto memakai dana pinjaman yang diperoleh dari LPEI tidak sepenuhnya untuk kebutuhan perusahaan, melainkan juga untuk kepentingan pribadi, termasuk pembelian aset, kendaraan, kebutuhan keluarga, dan berjudi.

Hingga kini, KPK masih mendalami tempat dan jenis perjudian tersebut, dan belum secara eksplisit menyebutkan judi online sebagai media penghamburan uang tersebut. Oleh karena itu, tuduhan judi online belum dikonfirmasi secara rinci oleh KPK, hanya bahwa uang tersebut dipakai untuk berjudi. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Muktamar Lesbumi NU di Tambakberas Jombang: Tengok Akar Tradisi dan Budaya sebagai Panglima

13 Juni 2026 - 14:20 WIB

Kepala BGN Nanik Deyang: Saya Memang Cupu-nya Presiden

13 Juni 2026 - 13:29 WIB

Andri Mulyono Partner Lodewyk Pusung, Mark Up Rp0,5 Triliun Proyek Motor Listrik BGN

13 Juni 2026 - 12:40 WIB

Kejaksaan Agung menahan Andri Mulyono, Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT), terlibat mark up proyek pengadaan motor listrik BGN.

Massa Aksi Mahasiswi UI Bubar Tertib dari Bundaran HI, Lampu Padam Masuk Kelompok Baju Hitam

12 Juni 2026 - 21:59 WIB

Aksi massa mahasiswa U, di Bundaran HI, Jakarta, Jumat 12 Juni 2026

Pelatihan Kripik Pisang dan Tahu Krispi 21 Wanita Warga Plumbon Gambang

12 Juni 2026 - 21:16 WIB

REI: Kenaikan BI Rate Jadi Pukulan Telak bagi Properti Nonsubsidi

12 Juni 2026 - 19:19 WIB

Menelisik Akar Terorisme (16): Black Death Memangsa 50 % Populasi Eropa

12 Juni 2026 - 18:45 WIB

Pemkab Jombang dan BPS Sinergi Sensus Ekonomi 2026: Dilaksanakan 15 Juni – 31 Agustus 2026

12 Juni 2026 - 16:21 WIB

Buoati Jombang, Warsubi memasang tag tanda resmi petugas pelaksana Sensus Ekonomi 2026.

Anas Burhani Ditetapkan sebagai Tanfidz PKB Jombang, Menggeser Hadi Atmaji

12 Juni 2026 - 14:33 WIB

Anas Burhani, dari Sekretaris DPC PKB Jombang, terpilih menjadi Tanfidz PKB Jombang
Trending di News