Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Ilmuwan Punya Gunting Molekuler untuk Pangkas Habis Virus HIV, Tidak Perlu Makan Obat Lagi

badge-check


					Ilmuwan menggunakan teknologi CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats), yaitu rekayasa genetika mutakhir yang memungkinkan ilmuwan untuk mengedit DNA secara presisi, cepat, dan relatif murah. Termasuk memangkas HIV yang mendekam dalam DNA. Foto: zelenial.com Perbesar

Ilmuwan menggunakan teknologi CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats), yaitu rekayasa genetika mutakhir yang memungkinkan ilmuwan untuk mengedit DNA secara presisi, cepat, dan relatif murah. Termasuk memangkas HIV yang mendekam dalam DNA. Foto: zelenial.com

Penulis: Jacobus E. Lato    |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM- Ilmuwan baru-baru ini berhasil menggunakan teknologi CRISPR untuk memotong DNA HIV secara langsung dari sel imun manusia, menandai terobosan besar dalam upaya mencari obat HIV.

Teknologi ini bekerja seperti “gunting molekuler” yang sangat presisi, memungkinkan bagian DNA virus yang tidak diinginkan dihapus atau dinonaktifkan dari genom sel imun yang terinfeksi.

CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) adalah teknologi rekayasa genetika mutakhir yang memungkinkan ilmuwan untuk mengedit DNA secara presisi, cepat, dan relatif murah.

Sistem ini awalnya ditemukan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan bakteri terhadap serangan virus, di mana bakteri menyimpan potongan DNA virus ke dalam genomnya sebagai “memori” untuk mengenali dan melawan infeksi berikutnya.

Dalam aplikasi bioteknologi, CRISPR biasanya dipasangkan dengan enzim Cas9 (atau varian lain seperti Cas12) yang berfungsi sebagai “gunting molekuler”.

Cara kerjanya, RNA pemandu (guide RNA/gRNA) akan membawa Cas9 ke lokasi spesifik pada DNA target. Setelah sampai di lokasi tersebut, Cas9 memotong DNA, sehingga memungkinkan peneliti untuk menambah, menghapus, atau mengganti bagian tertentu dari genom.

Teknologi ini telah merevolusi bidang genetika dan biomedis karena:

Lebih presisi dan efisien dibanding teknik rekayasa genetik sebelumnya.

Dapat digunakan untuk memperbaiki mutasi genetik penyebab penyakit, mengembangkan terapi kanker, hingga meningkatkan hasil pertanian.

Membuka peluang untuk terapi penyakit genetik yang sebelumnya sulit diobati.

Singkatnya, CRISPR adalah alat canggih untuk mengedit gen yang memanfaatkan sistem kekebalan alami bakteri dan telah menjadi fondasi utama inovasi di bidang bioteknologi dan kedokteran modern.

Bagaimana Cara Kerja CRISPR terhadap HIV?

HIV menyerang dan menyisipkan materi genetiknya ke dalam DNA sel imun manusia, khususnya sel CD4+ T, sehingga virus bisa bersembunyi dalam keadaan laten dan tidak terdeteksi oleh obat-obatan biasa.

Dengan CRISPR, peneliti dapat merancang “guide RNA” untuk mengarahkan enzim Cas9 ke lokasi spesifik di DNA HIV yang sudah tertanam di genom sel manusia, lalu memotong dan menghapus bagian tersebut.

Dalam uji laboratorium, sistem CRISPR ini mampu menonaktifkan atau menghilangkan seluruh DNA HIV dari sel imun yang terinfeksi di cawan petri, sehingga sel tersebut menjadi bebas virus.

Seberapa Jauh Perkembangan Penelitian Ini?

Penelitian ini masih pada tahap proof of concept (bukti awal konsep) di laboratorium dan belum diuji secara luas pada manusia.

Studi pada hewan (misalnya monyet dengan SIV, virus yang mirip HIV) menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan: satu suntikan CRISPR dapat menjangkau berbagai jaringan tubuh, termasuk otak dan limpa, lalu menghapus DNA virus dari sel imun tanpa merusak DNA manusia.

Beberapa perusahaan bioteknologi juga melaporkan bahwa terapi CRISPR pada sukarelawan manusia menunjukkan tidak ada efek samping serius setelah 48 minggu, meski efektivitas penuh dan keamanannya masih harus diuji lebih lanjut.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Tantangan terbesar adalah memastikan CRISPR dapat menjangkau dan menghapus HIV dari semua “reservoir” tersembunyi di seluruh tubuh, seperti sumsum tulang dan jaringan lain yang sulit diakses.

Risiko efek samping jangka panjang dan kemungkinan terjadinya “off-target effects” (pemotongan DNA di lokasi yang tidak diinginkan) juga masih menjadi perhatian utama para peneliti.

Meskipun hasilnya sangat menjanjikan, para ilmuwan memperkirakan butuh bertahun-tahun lagi sebelum terapi ini bisa menjadi pengobatan rutin bagi pasien HIV.

Teknologi CRISPR telah membuka kemungkinan nyata untuk menghapus HIV langsung dari DNA sel imun manusia, sesuatu yang selama ini dianggap mustahil. Namun, masih banyak tahapan penelitian dan pengujian yang harus dilalui sebelum bisa menjadi terapi yang aman dan efektif untuk manusia.

Saat ini, terapi antiretroviral tetap sangat efektif untuk mengontrol HIV, tetapi CRISPR menawarkan harapan baru menuju kemungkinan penyembuhan total di masa depan.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

5 Jurusan Kuliah dengan Jumlah Pengangguran Terbanyak di Indonesia

12 Agustus 2026 - 17:07 WIB

Harga Pertalite Dijamin Tidak Naik sampai Desember 2026

12 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Kapal Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok, 1 Penumpang Meninggal

12 Agustus 2026 - 16:47 WIB

Fatwa MUI: Pria Haram Berpakaian Wanita dan Sebaliknya saat Rayakan 17 Agustus

11 Agustus 2026 - 20:40 WIB

Alasan SPAI Tolak Status Ojol jadi UMKM, Sudah Ada UU

11 Agustus 2026 - 19:39 WIB

Diskon Khusus Bus Trans Jatim di HUT RI ke-81

11 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Festival Gambus Misri Muncul di Sumobito setelah 40 Tahun Menghilang

11 Agustus 2026 - 16:17 WIB

Bupati Warsubi Lantik Pusoko Jadi Kades Antar Waktu Sumberteguh Kudu

11 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Dugaan Permintaan Aborsi Seret Runner-up Raka Raki Jatim 2026, Begini Respons Pemkot Surabaya

10 Agustus 2026 - 20:54 WIB

Trending di Nasional