Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Internasional

Drone Laut Merubah Strategi Peperangan Laut Dunia: Ukraina Jadi Contoh Nyata

badge-check


					Drone Laut Merubah Strategi Peperangan Laut Dunia: Ukraina Jadi Contoh Nyata Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, LONDON– Munculnya drone laut tak berawak (unmanned seaborne drones) secara signifikan mengubah wajah peperangan laut. Teknologi ini, didorong oleh kecanggihan kecerdasan buatan (AI), navigasi satelit, dan inovasi militer, menjadi kekuatan baru dalam konflik laut modern.

Apa Itu Perang Asimetris?

Perang asimetris merujuk pada strategi di mana pihak yang lebih lemah secara militer menggunakan taktik non-konvensional dan teknologi murah untuk menghadapi kekuatan besar yang lebih mapan. Dalam konteks maritim, ini berarti penggunaan kapal kecil, drone, atau senjata murah untuk menyerang kapal besar bernilai ratusan juta dolar.

Kasus Ukraina: Game Changer

Ukraina menjadi negara pertama yang secara efektif menggunakan drone laut dalam skala besar untuk melawan armada laut konvensional Rusia di Laut Hitam. Kehilangan sebagian besar kapal perangnya pasca aneksasi Krimea, Ukraina justru berinovasi. Melalui unit bernama Group 13, mereka menciptakan dan mengoperasikan drone laut seperti Magura V5 dan Sea Baby, yang memiliki spesifikasi sebagai berikut:

Magura V5: Panjang 5,5 meter, berat sekitar 900 kg, mampu membawa 200 kg bahan peledak, jangkauan ratusan kilometer, dan tahan beberapa hari di laut. Dilengkapi kamera dan dikendalikan lewat satelit.

Sea Baby: Versi lebih besar, dapat membawa hingga 860 kg bahan peledak, kecepatan maksimal 90 km/jam, dan jangkauan hingga 960 km.

Sejak Oktober 2022, drone-drone ini telah menyerang kapal-kapal Rusia di sekitar Krimea, menghantam dermaga, bahkan merusak kapal perang modern seperti Sergey Kotov. Ukraina dilaporkan telah merusak atau menenggelamkan lebih dari 20 kapal Rusia—sekitar sepertiga dari armada Laut Hitam.

Efektivitas dan Biaya Rendah

Keunggulan utama drone laut ini adalah biayanya. Satu unit Magura V5 diperkirakan hanya sekitar USD 250.000, sangat murah jika dibandingkan dengan kapal perang yang bernilai ratusan juta dolar. Hal ini membuatnya menjadi alat perang yang sangat efisien, terutama dalam konteks perang asimetris.

Belajar dari Iran dan Houthi

Sebelum Ukraina, Iran melalui pasukan AL Garda Revolusi (IRGCN) dan kelompok Houthi di Yaman sudah mulai mengembangkan perahu bunuh diri tanpa awak. Serangan-serangan ini, seperti terhadap kapal perang Saudi pada 2017, menunjukkan awal mula potensi taktik ini. Namun keberhasilan Ukraina jauh lebih masif dan terukur secara militer.

Tanggapan Global: AS dan Sekutu Mulai Meniru

AS, melalui Task Force 59 di Armada Kelima, mulai mengadopsi pendekatan serupa dengan mengembangkan armada drone laut dan bawah laut untuk patroli, pengintaian, dan serangan. Program seperti Replicator diluncurkan Pentagon untuk mempercepat produksi drone laut dan udara murah guna menghadapi kekuatan maritim Tiongkok.

Kesimpulan: Masa Depan Peperangan Laut

Drone laut akan menjadi bagian tetap dari arsenal perang laut masa depan. Meski tidak bisa menggantikan sepenuhnya kapal perang konvensional, drone ini memberikan daya gempur tinggi dengan biaya rendah dan risiko minimal. Dalam beberapa tahun ke depan, kombinasi drone laut, drone udara, dan misil jarak jauh akan membentuk paradigma baru peperangan laut.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Partai Kecoak Merayap ke Politik India

22 Mei 2026 - 18:17 WIB

Komputer Tak Laku, Terancam Tak Ada Orang Mau Beli Laptop

10 Mei 2026 - 19:12 WIB

Naskah Alkitab Perjanjian Baru 42 Halaman yang Hilang Ditemukan

3 Mei 2026 - 19:02 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Kabar Baik 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz

19 April 2026 - 19:52 WIB

Ke Sabah, Merawat Kesehatan Sekaligus Berwisata

19 April 2026 - 16:43 WIB

Kutu Pembunuh Menyerang Korea Selatan, 422 Orang Meninggal

15 April 2026 - 19:06 WIB

Trending di Internasional