Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Tren kuliner global kini tengah didominasi oleh warna ungu. Ubi ungu khas Filipina yang populer dengan nama Ube, bertransformasi dari sekadar konsumsi tradisional menjadi komoditas premium yang paling dicari oleh berbagai negara di dunia. Mulai dari kafe mewah di Paris hingga jaringan kopi raksasa di Korea Selatan kini berlomba-lomba meluncurkan menu berbasis ube.
Namun, popularitas yang meroket tajam ini justru memicu krisis pangan di negara asalnya.
Melansir laporan resmi dari Bloomberg Technoz, Departemen Pertanian Filipina per pertengahan September 2026 resmi memberlakukan penangguhan ekspor ubi ungu segar dan bahan tanamnya tanpa batas waktu. Langkah proteksionis ini diambil akibat kelangkaan stok bibit di tingkat petani yang terancam habis karena tingginya permintaan pasar internasional.
“Kami sangat kekurangan bahan tanam di dalam negeri. Kami tidak ingin mengekspornya ke negara lain yang bisa memanfaatkan varietas ube Filipina untuk menyaingi kami di pasar global,” tegas Menteri Pertanian Filipina, Francisco Tiu Laurel Jr. Selain masalah bibit, cuaca ekstrem dan badai tropis dalam setahun terakhir sukses memangkas kapasitas produksi tahunan negara tersebut.
Peluang Besar Indonesia Mengisi Celah Pasar
Di tengah berhentinya pasokan dari Filipina, perhatian pasar internasional kini mulai beralih mencari produsen alternatif. Indonesia dinilai menjadi negara yang paling berpotensi mengambil alih takhta “emas ungu” ini.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) menyatakan bahwa secara agroekologi, tanah dan iklim tropis Indonesia sangat mendukung budidaya ube dengan kualitas prima. Karakteristik tanah Indonesia memiliki drainase baik yang sangat cocok dengan pedoman optimal tanaman ini.
Meski potensinya luar biasa, tantangan besar kini ada di pundak Kementerian Pertanian RI dan para petani lokal. Saat ini, ubi ungu belum digarap secara komersial dalam skala industri raksasa di Indonesia. Agar bisa menembus pasar ekspor seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Eropa, Indonesia harus segera berinvestasi pada penyediaan benih bermutu, keseragaman varietas, serta teknologi pengolahan pascapanen agar memiliki standar mutu internasional.****


























