Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Life Style

Analemma Menara Menggantung 50.000 Km di Atas Dubai, Pondasi Asteroid

badge-check


					Beginilah visi arsitek masa depan berupa bangunan menara mengambang di udara. Bangunan ini berpondasi asteroid di ketinggian 50.000 km di atas kota Dubai, Uni Emirat Arab. Foto: Dezeen Perbesar

Beginilah visi arsitek masa depan berupa bangunan menara mengambang di udara. Bangunan ini berpondasi asteroid di ketinggian 50.000 km di atas kota Dubai, Uni Emirat Arab. Foto: Dezeen

Penulis: Jacobus E. Lato   | Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, DUBAI- Kantor Arsitektur Clouds (Clouds Architecture Office), New York,  telah mengajukan proposal revolusioner untuk membangun sebuah gedung pencakar langit yang menggantung di udara, menggunakan asteroid sebagai pondasi di atas kota Dubai, Uni Emirat Arab.

Gedung ini dinamakan “Menara Analemma” dan dirancang untuk menjadi gedung tertinggi di dunia dengan konsep yang sangat inovatif, menggantung pada sebuah asteroid yang mengelilingi Bumi, yang telah dirilis sejak 2017 silam oleh arsitek kenamaan dunia, Norman Foster, 90.

Analemma adalah pola berbentuk angka delapan (∞) yang dihasilkan oleh posisi Matahari di langit pada waktu yang sama setiap hari selama satu tahun, jika diamati dari tempat yang sama di Bumi. Pola ini menunjukkan variasi posisi Matahari akibat kemiringan sumbu Bumi dan orbit elipsnya mengelilingi Matahari.

Konsep ini bertujuan mengatasi batasan tinggi gedung konvensional dengan mengaitkan gedung ke asteroid sebagai pondasi, sehingga bangunan bisa berdiri di udara dan dipindahkan ke lokasi manapun di dunia.

Menara Analemma ini akan menggantung pada sebuah asteroid sejauh 50.000 km di angkasa. Foto: Dezeen

Menara ini akan memiliki bentuk menyerupai angka delapan yang berputar antara belahan bumi utara dan selatan setiap hari. Gedung ini akan menggunakan panel surya di bagian atas yang berada di atas atmosfer untuk mendapatkan paparan sinar matahari yang konstan, serta mengumpulkan air dari kondensasi awan dan hujan.

Bangunan ini akan dibagi menjadi beberapa zona fungsi, dengan ruang bisnis di lantai bawah, hunian di dua pertiga lantai atas, dan ruang ibadah serta pemakaman di lantai paling atas. Penghuni gedung bahkan dapat turun ke bumi menggunakan parasut dari bagian bawah menara yang melewati kota Manhattan, New York, saat gedung berada di orbit terendahnya.

Dubai dipilih sebagai lokasi pembangunan karena kota ini sudah terkenal dengan banyak gedung super tinggi, meskipun harga properti di sana relatif lebih murah dibandingkan kota besar lain seperti New York. Modul-modul gedung akan diprefabrikasi dan kemudian diangkut ke lokasi serta dihubungkan ke asteroid dengan kabel.

Proposal ini menunjukkan visi futuristik yang menggabungkan arsitektur dengan teknologi luar angkasa, dan didukung oleh kemajuan misi luar angkasa seperti pengambilan asteroid oleh NASA, yang menunjukkan bahwa manipulasi asteroid bukan lagi sekadar fiksi ilmiah.

Singkatnya, Kantor Arsitektur Clouds mengajukan proposal ke Dubai untuk membangun kota atau gedung super tinggi di angkasa bernama Menara Analemma, yang menggantung pada asteroid sebagai pondasi dan menawarkan konsep baru dalam pembangunan gedung pencakar langit di luar batas konvensional.

Maksud dari “gedung menggantung dengan pondasi asteroid” pada Menara Analemma adalah bahwa gedung pencakar langit ini tidak dibangun di atas tanah seperti bangunan konvensional, melainkan secara teknis “digantung” pada sebuah asteroid yang mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 50.000 kilometer. Asteroid tersebut berfungsi sebagai pondasi atau titik tumpu utama bangunan.

Konsep ini menggunakan sistem yang disebut Universal Orbital Support System (UOSS), di mana kabel super kuat diturunkan dari asteroid ke permukaan Bumi, lalu menara super tinggi ini digantungkan pada kabel tersebut sehingga tampak melayang di udara.

Dengan demikian, gedung ini secara fisik terhubung ke asteroid di orbit, bukan ke tanah, sehingga gedung dapat bergerak mengikuti orbit asteroid dalam pola angka delapan yang melintasi belahan bumi utara dan selatan setiap 24 jam.

Pendekatan ini memungkinkan gedung memiliki ketinggian ekstrem hingga 32 kilometer dan mobilitas yang terus-menerus, serta mengatasi batasan konstruksi gedung tinggi tradisional yang bergantung pada fondasi di tanah.

Gedung ini juga akan mendapatkan energi dari panel surya berbasis ruang angkasa yang terpasang di atas atmosfer, serta menggunakan sistem daur ulang air dari kondensasi awan dan hujan.

Singkatnya, gedung “menggantung” berarti bangunan ini secara struktural ditambatkan pada asteroid di orbit, bukan di tanah, sehingga gedung tampak melayang di udara dan dapat berpindah lokasi sesuai orbit asteroid tersebut.**

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Bocah 7 Tahun Korban Penculikan Tewas, Pelaku Minta Tebusan Rp200 Juta

4 Juni 2026 - 15:38 WIB

Pancasila Mengejawantahkan Bumi Nurani Manusia

4 Juni 2026 - 13:06 WIB

Presiden Prabowo: Jangan Ada yang Ganggu Proses Hukum terhadap Pimpinan BGN

4 Juni 2026 - 11:43 WIB

Pelantikan APINDO Jombang: Sinergi Pemkab dan Pengusaha Genjot Investasi & Perluas Lapangan Kerja

4 Juni 2026 - 10:55 WIB

Ketua DPK APINDO Jombang, Drs Fathurahman mengibarkan pataka APINDO, saat pelantikan di pendopo Pemkab Jombang, Kamis, 4 Juni 2026. Foto: ist

12 Jam Diperiksa, Kejaksaan Agung Langsung Menahan Dadan, Lodewyk dan Sony

3 Juni 2026 - 20:13 WIB

70 Juta Warga Indonesia Diperkirakan Alami Penyakit Hati Kronis

3 Juni 2026 - 20:03 WIB

Perempuan Singapura, Selingkuh Demi Karier

3 Juni 2026 - 19:36 WIB

3 Warga Jombang Tewas Tersengat Listrik di Bekasi, Dedi Mulyadi Beri Santunan Duka Rp 50 Juta/ Orang

3 Juni 2026 - 16:16 WIB

Menelisik Akar Terorisme (12): Teror Suci dan Perang Agama Prancis

3 Juni 2026 - 13:15 WIB

Trending di News