Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, EROPA— Gelombang panas ekstrem akibat fenomena “kubah panas” melanda Eropa Barat dan Selatan 21–29 Juni 2026, menjebak udara panas dari Gurun Sahara.
Menurut Copernicus Climate Change Service, Minggu (28/6/2026), waktu setempat, suhu tertinggi tercatat: Prancis Barat 43,8°C, Paris 40,2°C, Spanyol 42,5°C, Belgia-Belanda 39–40°C, Inggris Selatan 37,3°C.
Dampak terkonfirmasi
– Aspal meleleh dan menggelembung: Prancis, Belgia, Belanda → Euronews, 28/6
– Lampu lalu lintas meleleh di Lille, Prancis: Météo-France, 28/6 → penyebab suhu >41°C merusak komponen plastik/logam, bukan kebakaran
– Rel kereta melengkung, jaringan listrik terbebani, jadwal perjalanan dikurangi
Data korban & pernyataan WHO Terbaru
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Minggu, 28/6/2026 (X resmi WHO / Xinhua): “Lebih dari 1.300 kematian berlebih tercatat sejak 21 Juni 2026. Angka ini perkiraan awal dan akan diperbarui.”
Eropa memanas dua lebih cepat dari rata-rata global; gelombang panas kini terjadi hampir setiap tahun, demikian pernyataan, Tedros, Minggu 28 Juni 2026.
Penjelasan bahwa kematian berlebih adalah selisih angka kematian nyata dengan rata-rata normal, bukan penyebab langsung.
Data per negara (lembaga kesehatan masing-masing):
* Spanyol: 672 kasus | Kemenkes Spanyol, 28/6
* Prancis: 45 kasus | Santé Publique France, 28/6
* Belgia: 98 kasus | Sciensano, 29/6
* Belanda: 89 kasus | RIVM, 29/6
* Inggris: 76 kasus | UKHSA, 28/6
Tindakan pemerintah
* Prancis: Peringatan merah 58 provinsi, tutup sekolah, batas kerja luar ruang, ruang sejuk gratis → PM Lecornu, 27/6
* Inggris: Peringatan ekstrem, kurangi jadwal kereta → Met Office, 26/6
* Belgia-Belanda: Siaga oranye, larang aktivitas 11.00–17.00 → Kemenkes, 28/6
* Spanyol: Batasi operasi industri, atur jam belanja → Kementerian Lingkungan, 28/6. **

















